Usai Ketemu Ahok, Erick Thohir: Persepsi BUMN Bobrok Itu Salah
Kamis, 17 September 2020 - 13:00 WIB
loading...
Menteri Erick Thohir menekankan, pentingnya transformasi bagi sejumlah BUMN. Hal itu dia sampaikan usai melakukan pertemuan dengan Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menekankan, pentingnya transformasi bagi sejumlah BUMN . Langkah itu untuk menjaga kinerja perseroan pelat merah yang efisien, kompetitif dan transparan.
(Baca Juga: Erick Thohir dan Ahok Gelar Pertemuan Khusus, Bahas Apa Ya? )
Hal itu dia sampaikan usai melakukan pertemuan dengan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Erick bilang, transformasi BUMN tidak bisa ditawar dan harus segera dilakukan dengan langkah terencana. Salah satunya dengan merapikan struktur sejumlah perusahaan negara. mulai dari jumlah pejabat yang bertugas hingga jumlah BUMN.
(Baca juga : 9.511 Pesantren Telah Terima Bantuan Operasional Tahap Pertama )
"Kita terpikir tidak mungkin kami mengawasi mengkoordinasi 142 BUMN. Jelas, suka tidak suka, BUMN yang tidak kompetitif akan dikecilkan," ujar Erick dalam dokumen video, Kamis (17/9/2020).
Erick mengibaratkan, pengawasan BUMN tidak berbeda dengan mengawasi anak sendiri. "Ibarat punya 3 anak, tidak mungkin dibeda-bedakan, anak nomor 1, 2, dan 3, semuanya sama, namanya juga anak. Tapi, kalo anaknya 142 juga kebanyakan, tidak cukup. Makanya ada kluster 1, kluster 2 dan danareksa PPA," kata Erick. (Baca juga : Legislator PKS Sentil Menkes Terawan )
Oleh karenanya, kerjasama antara Kementerian dengan direksi BUMN harus terjalin dengan baik. Kementerian dan direksi BUMN harus menjadi satu tim agar cita-cita bersama bisa tercapai.
(Baca Juga: Erick Thohir dan Ahok Gelar Pertemuan Khusus, Bahas Apa Ya? )
Hal itu dia sampaikan usai melakukan pertemuan dengan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Erick bilang, transformasi BUMN tidak bisa ditawar dan harus segera dilakukan dengan langkah terencana. Salah satunya dengan merapikan struktur sejumlah perusahaan negara. mulai dari jumlah pejabat yang bertugas hingga jumlah BUMN.
(Baca juga : 9.511 Pesantren Telah Terima Bantuan Operasional Tahap Pertama )
"Kita terpikir tidak mungkin kami mengawasi mengkoordinasi 142 BUMN. Jelas, suka tidak suka, BUMN yang tidak kompetitif akan dikecilkan," ujar Erick dalam dokumen video, Kamis (17/9/2020).
Erick mengibaratkan, pengawasan BUMN tidak berbeda dengan mengawasi anak sendiri. "Ibarat punya 3 anak, tidak mungkin dibeda-bedakan, anak nomor 1, 2, dan 3, semuanya sama, namanya juga anak. Tapi, kalo anaknya 142 juga kebanyakan, tidak cukup. Makanya ada kluster 1, kluster 2 dan danareksa PPA," kata Erick. (Baca juga : Legislator PKS Sentil Menkes Terawan )
Oleh karenanya, kerjasama antara Kementerian dengan direksi BUMN harus terjalin dengan baik. Kementerian dan direksi BUMN harus menjadi satu tim agar cita-cita bersama bisa tercapai.
Lihat Juga :