BPDP Fasilitasi Pemberdayaan UMKM Perkebunan lewat Inacraft 2026
Senin, 09 Februari 2026 - 23:30 WIB
loading...
Salah satu wujud fasilitasi program promosi BPDP untuk UMKM perkebunan tersebut yakni melalui partisipasi dalam kegiatan INACRAFT ke-26. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) berperan aktif dalam memberdayakan UMKM perkebunan melalui program hilirisasi, pelatihan kewirausahaan, serta fasilitasi akses pasar produk turunan perkebunan (kelapa sawit, kelapa, dan kakao). Fokus utama dari program-program pemberdayaan BPDP ini adalah untuk meningkatkan nilai citra positif perkebunan.
Salah satunya melalui peningkatan nilai tambah produk UMKM dengan memanfaatkan limbah sawit menjadi produk yang bernilai dan berkelanjutan. Tidak hanya melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap UMKM, BPDP juga menargetkan peningkatan nilai penjualan produk UMKM perkebunan.
Baca Juga: Transformasi Perkebunan, BPDP Dorong Nilai Tambah Sawit, Kelapa, dan Kakao
Tujuannya, UMKM perkebunan bisa lebih mandiri dan nilai jual masing-masing produknya semakin tinggi. Bukan tanpa alasan, mengingat arah masyarakat yang semakin menjurus pada budaya mengonsumsi produk ramah lingkungan, optimisme ini lahir sebagai stimulus dari beragam kerajinan dan produk UMKM berbasis limbah komoditas perkebunan ramah lingkungan yang sudah berhasil diproduksi pelaku UMKM.
Upaya promosi produk-produk UMKM perkebunan yang ramah lingkungan tersebut tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh pelaku UMKM, tetapi juga didukung secara masif melalui program promosi BPDP. Salah satu wujud fasilitasi program promosi BPDP untuk UMKM perkebunan tersebut yakni melalui partisipasi dalam kegiatan INACRAFT ke-26 , “Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Cra5” pada tanggal 4 – 8 Februari di Jakarta International Convention Center (JICC).
Dalam kegiatan ini, BPDP memfasilitasi UMKM binaan yang bergerak di industri kreatif berbasis turunan kelapa sawit, yaitu: CambiacraF Indonesia, menonjolkan produk kriya berbahan lidi sawit seperti sandal, lampu hias, hingga alat musik dan lukisan dekoratif dari produk samping komoditas perkebunan yang ramah lingkungan.
JayanH BaHk, menghadirkan beragam ba8k dengan menggunakan malam/lilin berbahan minyak sawit yang ramah lingkungan. Ada juga Smart BaHk Indonesia, menghadirkan batik berupa kain, baju, hingga payung batik
dengan menggunakan malam/lilin berbahan minyak sawit yang ramah lingkungan.
Pada pembukaan acara, booth UMKM Perkebunan binaan BPDP dikunjugi oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. Dalam kunjungannya, Wapres Gibran mengapresiasi produk UMKM turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan seperti kain dan baju batik yang menggunakan minyak sawit sebagai malam/lilin batiknya.
Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, bahwa partisipasi BPDP dalam kegiatan INACRAFT adalah untuk mempromosikan kebaikan dari komoditas perkebunan yang meliputi tiga produk yaitu kelapa sawit, kelapa, dan kakao.
“Bapak Presiden dalam salah satu amanatnya menyampaikan bahwa sawit itu adalah miracle crop. Jadi BPDP juga akan terus mendorong kelapa sawit dari sisi pengembangannya bagi masyarakat, terutama UMKM berbasis perkebunan. Dengan pengembangan UMKM ini, masyarakat dapat menikmati hasil produknya secara langsung,” ungkap Helmi Muhansah.
Sehubungan dengan tema INACRAFT, pemberdayaan juga dapat berfokus pada pengrajin perempuan di sektor perkebunan seperti kegiatan membatik yang dilakukan oleh perempuan guna mendorong inovasi produk kriya yang estetik dan berkelanjutan. Membatik menjadi kegiatan positif yang produktif dan berpotensi memberikan penghasilan tambahan sebagai bentuk pemberdayaan bagi perempuan, salah satunya oleh pembatik dari Jayanti Batik.
Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Perkebunan di Kawasan Kota Dorong Pertumbuhan UMKM
Direktur Jayanti Batik yang juga merupakan salah satu mitra binaan BPDP dalam kegiatan INACRAFT tersebut, Sri Nasifah mengatakan, “Fasilitasi BPDP untuk Jayanti Batik melalui kegiatan ini sangat bermanfaat karena bisa membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk kami”.
Lebih lanjut dikatakan Sri Nasifah, produk-produk batik dari Jayanti Batik ini lebih ramah lingkungan karena menggunakan malam/lilin yang terbuat dari minyak kelapa sawit, bukan lagi minyak bumi.
Selain itu, melalui partisipasi pada INACRAFT, UMKM perkebunan juga mendapatkan akses langsung ke pembeli internasional dan nasional sehingga dapat memperluas jangkauan pasar.
Seperti halnya salah seorang pembeli sandal lidi sawit yang berasal dari Jepang, Kodama mengatakan, “Saya senang bisa membeli sebanyak ini. Orang Jepang memakai sandal di apartemen mereka, jadi saya rasa semua orang akan senang dengan sandal ini dan saya yakin sandal ini akan populer di Jepang”.
Salah satunya melalui peningkatan nilai tambah produk UMKM dengan memanfaatkan limbah sawit menjadi produk yang bernilai dan berkelanjutan. Tidak hanya melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap UMKM, BPDP juga menargetkan peningkatan nilai penjualan produk UMKM perkebunan.
Baca Juga: Transformasi Perkebunan, BPDP Dorong Nilai Tambah Sawit, Kelapa, dan Kakao
Tujuannya, UMKM perkebunan bisa lebih mandiri dan nilai jual masing-masing produknya semakin tinggi. Bukan tanpa alasan, mengingat arah masyarakat yang semakin menjurus pada budaya mengonsumsi produk ramah lingkungan, optimisme ini lahir sebagai stimulus dari beragam kerajinan dan produk UMKM berbasis limbah komoditas perkebunan ramah lingkungan yang sudah berhasil diproduksi pelaku UMKM.
Upaya promosi produk-produk UMKM perkebunan yang ramah lingkungan tersebut tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh pelaku UMKM, tetapi juga didukung secara masif melalui program promosi BPDP. Salah satu wujud fasilitasi program promosi BPDP untuk UMKM perkebunan tersebut yakni melalui partisipasi dalam kegiatan INACRAFT ke-26 , “Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Cra5” pada tanggal 4 – 8 Februari di Jakarta International Convention Center (JICC).
Dalam kegiatan ini, BPDP memfasilitasi UMKM binaan yang bergerak di industri kreatif berbasis turunan kelapa sawit, yaitu: CambiacraF Indonesia, menonjolkan produk kriya berbahan lidi sawit seperti sandal, lampu hias, hingga alat musik dan lukisan dekoratif dari produk samping komoditas perkebunan yang ramah lingkungan.
JayanH BaHk, menghadirkan beragam ba8k dengan menggunakan malam/lilin berbahan minyak sawit yang ramah lingkungan. Ada juga Smart BaHk Indonesia, menghadirkan batik berupa kain, baju, hingga payung batik
dengan menggunakan malam/lilin berbahan minyak sawit yang ramah lingkungan.
Pada pembukaan acara, booth UMKM Perkebunan binaan BPDP dikunjugi oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. Dalam kunjungannya, Wapres Gibran mengapresiasi produk UMKM turunan kelapa sawit yang ramah lingkungan seperti kain dan baju batik yang menggunakan minyak sawit sebagai malam/lilin batiknya.
Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, bahwa partisipasi BPDP dalam kegiatan INACRAFT adalah untuk mempromosikan kebaikan dari komoditas perkebunan yang meliputi tiga produk yaitu kelapa sawit, kelapa, dan kakao.
“Bapak Presiden dalam salah satu amanatnya menyampaikan bahwa sawit itu adalah miracle crop. Jadi BPDP juga akan terus mendorong kelapa sawit dari sisi pengembangannya bagi masyarakat, terutama UMKM berbasis perkebunan. Dengan pengembangan UMKM ini, masyarakat dapat menikmati hasil produknya secara langsung,” ungkap Helmi Muhansah.
Sehubungan dengan tema INACRAFT, pemberdayaan juga dapat berfokus pada pengrajin perempuan di sektor perkebunan seperti kegiatan membatik yang dilakukan oleh perempuan guna mendorong inovasi produk kriya yang estetik dan berkelanjutan. Membatik menjadi kegiatan positif yang produktif dan berpotensi memberikan penghasilan tambahan sebagai bentuk pemberdayaan bagi perempuan, salah satunya oleh pembatik dari Jayanti Batik.
Baca Juga: Alih Fungsi Lahan Perkebunan di Kawasan Kota Dorong Pertumbuhan UMKM
Direktur Jayanti Batik yang juga merupakan salah satu mitra binaan BPDP dalam kegiatan INACRAFT tersebut, Sri Nasifah mengatakan, “Fasilitasi BPDP untuk Jayanti Batik melalui kegiatan ini sangat bermanfaat karena bisa membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk kami”.
Lebih lanjut dikatakan Sri Nasifah, produk-produk batik dari Jayanti Batik ini lebih ramah lingkungan karena menggunakan malam/lilin yang terbuat dari minyak kelapa sawit, bukan lagi minyak bumi.
Selain itu, melalui partisipasi pada INACRAFT, UMKM perkebunan juga mendapatkan akses langsung ke pembeli internasional dan nasional sehingga dapat memperluas jangkauan pasar.
Seperti halnya salah seorang pembeli sandal lidi sawit yang berasal dari Jepang, Kodama mengatakan, “Saya senang bisa membeli sebanyak ini. Orang Jepang memakai sandal di apartemen mereka, jadi saya rasa semua orang akan senang dengan sandal ini dan saya yakin sandal ini akan populer di Jepang”.
(akr)
Lihat Juga :