Petrodolar Tergerus, 20% Transaksi Minyak Global Beralih ke Mata Uang Lokal

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:06 WIB
loading...
Petrodolar Tergerus,...
Hegemoni petrodolar dalam perdagangan energi global mulai mendapatkan tekanan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal. FOTO/iStock Photo
A A A
JAKARTA - Hegemoni petrodolar dalam perdagangan energi global mulai mendapatkan tekanan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal dan alternatif oleh negara-negara BRICS dan sebagian kawasan Eropa. Meski belum runtuh, pergeseran ini mulai menyoroti berkurangnya dominasi de facto dolar AS untuk penyelesaian transaksi minyak.

Data dari firma penasihat investasi Sowell Management, yang dikutip dari Watcher Guru, menunjukkan 80% perdagangan minyak masih diselesaikan menggunakan petrodolar, sementara 20% lainnya dibayar dengan mata uang lokal, terutama oleh blok BRICS dan beberapa negara Eropa. Angka 20% ini dinilai cukup besar karena berpotensi meningkat ke kisaran 25% hingga 30% dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga: Lepas Ketergantungan Dolar AS, BRICS Siapkan Arah Baru di KTT 2026

China, sebagai anggota kunci BRICS, secara agresif mempromosikan petro-yuan sebagai alternatif. Sejumlah pembelian minyak, batu bara, dan tembaga telah diselesaikan menggunakan yuan. Sementara itu, India telah membayar sebagian transaksi minyaknya dengan yuan, serta menggunakan rubel dan rupee.

Dorongan serupa datang dari Rusia dan negara BRICS lainnya yang semakin gencar menggunakan mata uang non-dolar dalam perdagangan bilateral, khususnya untuk komoditas energi. Uni Emirat Arab juga tercatat masuk dalam skema pembayaran alternatif ini.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Hari Lingkungan Hidup,...
Hari Lingkungan Hidup, Masyarakat Tangerang Pelajari Kelola Minyak Jelantah
Rekomendasi
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Israel Melakukan Segala...
Israel Melakukan Segala Cara untuk Menggagalkan Perundingan AS dan Iran
Belanda Pesta Gol, Swedia...
Belanda Pesta Gol, Swedia Dibantai 5-1 di Houston
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
5 Mata Uang Paling Lemah...
5 Mata Uang Paling Lemah di Dunia versi Forbes 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved