Rupiah Keok di Rp16.829/USD saat Pemerintah Tarik Utang Baru Rp127,3 Triliun
Selasa, 24 Februari 2026 - 16:53 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (24/2/2026) atau turun 27 poin atau sekitar 0,16%. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (24/2/2026) atau turun 27 poin atau sekitar 0,16% ke level Rp16.829 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Iran dan AS akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan nuklir pada hari Kamis di Jenewa, kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi pada hari Minggu.
"Amerika Serikat ingin Iran menghentikan program nuklirnya, tetapi Iran dengan tegas menolak, dan membantah sedang berupaya mengembangkan senjata atom," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Departemen Luar Negeri menarik personel pemerintah yang tidak penting dan keluarga mereka dari kedutaan AS di Beirut, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri pada hari Senin, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang risiko konflik militer dengan Iran. Baca Juga: Rupiah Menguat Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Turun ke Rp16.888
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Senin bahwa itu akan menjadi "hari yang sangat buruk" bagi Iran jika tidak mencapai kesepakatan.
Selain itu, The New York Times melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan serangan terarah terhadap Iran, diikuti oleh serangan yang lebih besar yang bertujuan untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi secara paksa.
Di bidang kebijakan perdagangan, Trump pada hari Senin memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan perdagangan yang baru saja dinegosiasikan dengan AS setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif daruratnya, dengan mengatakan bahwa ia akan mengenakan bea masuk yang jauh lebih tinggi berdasarkan undang-undang perdagangan yang berbeda.
Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia akan menaikkan tarif sementara dari 10 persen menjadi 15 persen untuk impor AS dari semua negara, tingkat maksimum yang diizinkan berdasarkan hukum.
Dari sentimen domestik, pemerintah tercatat menarik utang baru Rp127,3 triliun sepanjang Januari 2026. Angka ini mengambil porsi 15,3% dari total target APBN sepanjang tahun ini yang mencapai Rp832,2 triliun. Pembiayaan utang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, fleksibilitas, serta kedisiplinan untuk menjaga utang dalam batas aman.
Baca Juga: Bos BI Akui Rupiah Harusnya Tak Selemah Ini, Apa Penyebabnya?
Sedangkan pembiayaan non-utang pada awal tahun ini mencapai minus Rp22,2 triliun atau 15,6% dari rencana APBN yakni minus Rp145,1 triliun. Pembiayaan non-utang ini artinya tidak menambah utang melainkan berinvestasi di sektor tertentu.
Dengan realisasi pembiayaan utang dan non-utang seperti yang disebutkannya, secara keseluruhan realisasi pembiayaan hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp105,6 triliun, 15,2% dibandingkan dengan outlook Rp689,15 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan tahun 2026 hingga akhir Januari mencapai Rp105,06 triliun atau 15,2% dari target, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yaitu 29,6%. Perkembangan realisasi pembiayaan ini menunjukkan strategi yang lebih terukur, disesuaikan dengan kebutuhan kas pemerintah dan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.830 - Rp16.860 per dolar AS.
"Amerika Serikat ingin Iran menghentikan program nuklirnya, tetapi Iran dengan tegas menolak, dan membantah sedang berupaya mengembangkan senjata atom," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Departemen Luar Negeri menarik personel pemerintah yang tidak penting dan keluarga mereka dari kedutaan AS di Beirut, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri pada hari Senin, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang risiko konflik militer dengan Iran. Baca Juga: Rupiah Menguat Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Turun ke Rp16.888
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Senin bahwa itu akan menjadi "hari yang sangat buruk" bagi Iran jika tidak mencapai kesepakatan.
Selain itu, The New York Times melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan serangan terarah terhadap Iran, diikuti oleh serangan yang lebih besar yang bertujuan untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi secara paksa.
Di bidang kebijakan perdagangan, Trump pada hari Senin memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan perdagangan yang baru saja dinegosiasikan dengan AS setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif daruratnya, dengan mengatakan bahwa ia akan mengenakan bea masuk yang jauh lebih tinggi berdasarkan undang-undang perdagangan yang berbeda.
Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia akan menaikkan tarif sementara dari 10 persen menjadi 15 persen untuk impor AS dari semua negara, tingkat maksimum yang diizinkan berdasarkan hukum.
Dari sentimen domestik, pemerintah tercatat menarik utang baru Rp127,3 triliun sepanjang Januari 2026. Angka ini mengambil porsi 15,3% dari total target APBN sepanjang tahun ini yang mencapai Rp832,2 triliun. Pembiayaan utang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, fleksibilitas, serta kedisiplinan untuk menjaga utang dalam batas aman.
Baca Juga: Bos BI Akui Rupiah Harusnya Tak Selemah Ini, Apa Penyebabnya?
Sedangkan pembiayaan non-utang pada awal tahun ini mencapai minus Rp22,2 triliun atau 15,6% dari rencana APBN yakni minus Rp145,1 triliun. Pembiayaan non-utang ini artinya tidak menambah utang melainkan berinvestasi di sektor tertentu.
Dengan realisasi pembiayaan utang dan non-utang seperti yang disebutkannya, secara keseluruhan realisasi pembiayaan hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp105,6 triliun, 15,2% dibandingkan dengan outlook Rp689,15 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan tahun 2026 hingga akhir Januari mencapai Rp105,06 triliun atau 15,2% dari target, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yaitu 29,6%. Perkembangan realisasi pembiayaan ini menunjukkan strategi yang lebih terukur, disesuaikan dengan kebutuhan kas pemerintah dan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.830 - Rp16.860 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :