Mengapa Toko Fisik Tetap Relevan di Tengah Pertumbuhan E-Commerce? Ini Alasannya
Rabu, 25 Februari 2026 - 14:38 WIB
loading...
A
A
A
JakartaNotebook (Jaknot), yang berdiri sejak 1999, menjadi salah satu contoh menarik dari pendekatan tersebut. Di saat e-commerce belum berkembang seperti sekarang, Jaknot membangun sistem belanja yang menjadikan platform digital sebagai titik awal transaksi, bahkan ketika konsumen datang langsung ke toko.
Dalam praktiknya, toko fisik tidak difungsikan sebagai etalase konvensional, melainkan sebagai ruang untuk memastikan keputusan belanja. Konsumen memulai proses secara digital, lalu menggunakan toko sebagai tempat untuk mengecek dan meyakinkan diri sebelum melanjutkan transaksi. Model ini menunjukkan bahwa fungsi utama toko fisik bukan lagi sekadar menjual, tetapi memberi rasa aman dalam mengambil keputusan. Baca juga: Tren Belanja Lebaran 2026 Diprediksi Berubah, Makin Hemat dan Terukur
Metode “Click and Collect” hingga “Pick-up In Store” yang Kian Ramai
Laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company (seperti edisi 2022-2024) menyoroti bahwa dalam tiga hingga empat tahun terakhir (terutama pasca-pandemi), konsumen Asia Tenggara semakin menuntut fleksibilitas belanja. Konsumen kini mengadopsi pendekatan hybrid atau omnichannel yang menyatukan pengalaman online dan offline (O2O) secara mulus. Meski tergolong pendekatan baru, dalam praktik e-commerce sendiri model hybdrid justru telah lama dijalankan oleh Jaknot.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa model seperti ini membantu mengurangi friksi, baik dari sisi waktu tunggu maupun ketidakpastian produk. Oleh karena itu semakin terlihat meningkatnya minat terhadap opsi seperti click-and-collect atau pick-up in store, konsumen memesan secara online dan mengambil barang secara langsung, seperti yang dilakukan di Jaknot. Konsumen diberikan kebebasan untuk belanja dan melihat langsung produk yang dibeli.
Dalam praktiknya, toko fisik tidak difungsikan sebagai etalase konvensional, melainkan sebagai ruang untuk memastikan keputusan belanja. Konsumen memulai proses secara digital, lalu menggunakan toko sebagai tempat untuk mengecek dan meyakinkan diri sebelum melanjutkan transaksi. Model ini menunjukkan bahwa fungsi utama toko fisik bukan lagi sekadar menjual, tetapi memberi rasa aman dalam mengambil keputusan. Baca juga: Tren Belanja Lebaran 2026 Diprediksi Berubah, Makin Hemat dan Terukur
Metode “Click and Collect” hingga “Pick-up In Store” yang Kian Ramai
Laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company (seperti edisi 2022-2024) menyoroti bahwa dalam tiga hingga empat tahun terakhir (terutama pasca-pandemi), konsumen Asia Tenggara semakin menuntut fleksibilitas belanja. Konsumen kini mengadopsi pendekatan hybrid atau omnichannel yang menyatukan pengalaman online dan offline (O2O) secara mulus. Meski tergolong pendekatan baru, dalam praktik e-commerce sendiri model hybdrid justru telah lama dijalankan oleh Jaknot.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa model seperti ini membantu mengurangi friksi, baik dari sisi waktu tunggu maupun ketidakpastian produk. Oleh karena itu semakin terlihat meningkatnya minat terhadap opsi seperti click-and-collect atau pick-up in store, konsumen memesan secara online dan mengambil barang secara langsung, seperti yang dilakukan di Jaknot. Konsumen diberikan kebebasan untuk belanja dan melihat langsung produk yang dibeli.
(poe)
Lihat Juga :