IHSG Terjepit Konflik Timur Tengah dan Tekanan Fiskal Domestik, Begini Proyeksinya
Senin, 02 Maret 2026 - 07:52 WIB
loading...
A
A
A
Konflik ini berdampak langsung pada ekonomi dunia setelah Iran membatasi akses ke Selat Hormuz, jalur vital yang mendistribusikan sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia. Penutupan jalur ini mengancam stabilitas harga energi global dan melonjakkan biaya asuransi pengiriman maritim.
Dari sisi kebijakan ekonomi, Amerika Serikat kembali memicu ketidakpastian setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif impor global era Trump. Sebagai respons, Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.
Lebih spesifik bagi Indonesia, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya asal RI dengan tarif berkisar 86% hingga 143,3%. Baca Juga: IHSG Sepekan Terkoreksi 0,44%, Kapitalisasi Pasar Menyusut Jadi Rp14.787 T
Sementara itu dari dalam negeri, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberikan peringatan mengenai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara Indonesia yang berpotensi bertahan di atas 15%.
"Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," ujar Imam.
Meski dibayangi risiko, IHSG memiliki peluang penguatan pada sektor-sektor tertentu. Kenaikan harga minyak mentah dan batu bara akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz dapat menjadi katalis positif bagi emiten migas dan tambang dari sisi kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP).
Dari sisi kebijakan ekonomi, Amerika Serikat kembali memicu ketidakpastian setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif impor global era Trump. Sebagai respons, Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.
Lebih spesifik bagi Indonesia, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya asal RI dengan tarif berkisar 86% hingga 143,3%. Baca Juga: IHSG Sepekan Terkoreksi 0,44%, Kapitalisasi Pasar Menyusut Jadi Rp14.787 T
Sementara itu dari dalam negeri, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memberikan peringatan mengenai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara Indonesia yang berpotensi bertahan di atas 15%.
"Peringatan ini menambah kehati-hatian investor dan pembuat kebijakan dalam menanggapi gejolak global sambil mengelola tantangan fiskal domestik," ujar Imam.
Meski dibayangi risiko, IHSG memiliki peluang penguatan pada sektor-sektor tertentu. Kenaikan harga minyak mentah dan batu bara akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz dapat menjadi katalis positif bagi emiten migas dan tambang dari sisi kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP).
Lihat Juga :