Proyek Gas Mako Masuk Tahap FID, Target Produksi Perdana di 2027
Senin, 02 Maret 2026 - 17:23 WIB
loading...
SKK Migas bersama Conrad Asia Energy resmi memulai tahap implementasi Final Investment Decision (FID) pengembangan Lapangan Gas Mako. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - SKK Migas bersama Conrad Asia Energy resmi memulai tahap implementasi Final Investment Decision (FID) pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja Duyung, lepas pantai Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Proyek yang dioperasikan West Natuna Exploration Limited (WNEL) itu ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2027.
"Keputusan investasi ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan KKKS untuk mempercepat pengembangan lapangan gas potensial. Lapangan Gas Mako diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi gas nasional serta mendukung kebutuhan energi dalam negeri," ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam seremoni penandaan implementasi FID di Kantor SKK Migas, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Baca Juga: Bahlil Tawarkan 110 Blok Migas ke HIPMI, Nilai Proyek di Bawah Rp100 Miliar
Acara tersebut turut dihadiri pengusaha Hashim S. Djojohadikusumo, perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, serta jajaran manajemen SKK Migas. Implementasi FID menandai dimulainya fase utama pengembangan proyek menuju produksi perdana.
Lapangan Gas Mako dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, WNEL sebagai operator, serta PT Nations Natuna Barat, entitas di bawah Arsari Group, yang akan menjadi pemegang mayoritas hak partisipasi di Blok Duyung. Dukungan pendanaan dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperkuat struktur pembiayaan proyek guna memastikan keberlanjutan hingga tahap produksi.
Untuk menjamin kepastian komersialisasi, WNEL telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (GSA) dengan PT PLN Energi Primer Indonesia sebagai offtaker. Kesepakatan tersebut menjadi fondasi kelayakan proyek sekaligus menjamin penyerapan gas Lapangan Mako bagi kebutuhan pembangkit listrik nasional.
Djoko menegaskan SKK Migas akan mengawal pelaksanaan proyek agar berjalan tepat waktu, tepat biaya, serta mengedepankan aspek keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap regulasi. Tahap implementasi pasca-FID mencakup kegiatan engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, instalasi offshore, hingga commissioning dan start-up.
Baca Juga: Belanja Hulu Migas 2020–2025 Capai Rp725 Triliun, Serap TKDN Rp388 Triliun
Chairman Conrad Asia Energy Peter Botten menyampaikan FID proyek Gas Mako dapat terwujud berkat kolaborasi erat antara KKKS Wilayah Kerja Duyung, SKK Migas, instansi pemerintah terkait, PLN EPI sebagai offtaker, serta mitra nasional. Sinergi tersebut dinilai krusial dalam memastikan kesiapan teknis dan finansial proyek.
Sementara itu, CEO Arsari Group Hashim S. Djojohadikusumo menyatakan keterlibatan pihaknya merupakan komitmen jangka panjang mendukung ketahanan energi nasional. “Dengan pengalaman panjang dan teruji sektor migas serta dukungan pembiayaan yang solid, kami optimistis proyek ini dapat dijalankan secara profesional, tepat waktu, dan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara serta penguatan ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.
Proyek Mako telah melalui tahap Pre-FID pada 2025 dan kini memasuki fase konstruksi menuju target first gas pada November 2027. Kehadiran Lapangan Gas Mako diharapkan memperkuat produksi gas nasional sekaligus menopang keberlanjutan sektor hulu migas Indonesia dalam jangka panjang.
"Keputusan investasi ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan KKKS untuk mempercepat pengembangan lapangan gas potensial. Lapangan Gas Mako diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi gas nasional serta mendukung kebutuhan energi dalam negeri," ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam seremoni penandaan implementasi FID di Kantor SKK Migas, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Baca Juga: Bahlil Tawarkan 110 Blok Migas ke HIPMI, Nilai Proyek di Bawah Rp100 Miliar
Acara tersebut turut dihadiri pengusaha Hashim S. Djojohadikusumo, perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, serta jajaran manajemen SKK Migas. Implementasi FID menandai dimulainya fase utama pengembangan proyek menuju produksi perdana.
Lapangan Gas Mako dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, WNEL sebagai operator, serta PT Nations Natuna Barat, entitas di bawah Arsari Group, yang akan menjadi pemegang mayoritas hak partisipasi di Blok Duyung. Dukungan pendanaan dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memperkuat struktur pembiayaan proyek guna memastikan keberlanjutan hingga tahap produksi.
Untuk menjamin kepastian komersialisasi, WNEL telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (GSA) dengan PT PLN Energi Primer Indonesia sebagai offtaker. Kesepakatan tersebut menjadi fondasi kelayakan proyek sekaligus menjamin penyerapan gas Lapangan Mako bagi kebutuhan pembangkit listrik nasional.
Djoko menegaskan SKK Migas akan mengawal pelaksanaan proyek agar berjalan tepat waktu, tepat biaya, serta mengedepankan aspek keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap regulasi. Tahap implementasi pasca-FID mencakup kegiatan engineering, procurement, konstruksi, pengeboran, instalasi offshore, hingga commissioning dan start-up.
Baca Juga: Belanja Hulu Migas 2020–2025 Capai Rp725 Triliun, Serap TKDN Rp388 Triliun
Chairman Conrad Asia Energy Peter Botten menyampaikan FID proyek Gas Mako dapat terwujud berkat kolaborasi erat antara KKKS Wilayah Kerja Duyung, SKK Migas, instansi pemerintah terkait, PLN EPI sebagai offtaker, serta mitra nasional. Sinergi tersebut dinilai krusial dalam memastikan kesiapan teknis dan finansial proyek.
Sementara itu, CEO Arsari Group Hashim S. Djojohadikusumo menyatakan keterlibatan pihaknya merupakan komitmen jangka panjang mendukung ketahanan energi nasional. “Dengan pengalaman panjang dan teruji sektor migas serta dukungan pembiayaan yang solid, kami optimistis proyek ini dapat dijalankan secara profesional, tepat waktu, dan memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara serta penguatan ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.
Proyek Mako telah melalui tahap Pre-FID pada 2025 dan kini memasuki fase konstruksi menuju target first gas pada November 2027. Kehadiran Lapangan Gas Mako diharapkan memperkuat produksi gas nasional sekaligus menopang keberlanjutan sektor hulu migas Indonesia dalam jangka panjang.
(nng)
Lihat Juga :