Satu Dekade Terakhir, China Terus Meninggalkan Utang AS

Minggu, 08 Maret 2026 - 22:09 WIB
loading...
Satu Dekade Terakhir,...
China telah mendesak bank-banknya untuk membatasi eksposur mereka terhadap utang pemerintah AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - China telah mendesak bank-banknya untuk membatasi eksposur mereka terhadap utang pemerintah AS , dengan alasan volatilitas pasar serta risiko keuangan dan geopolitik yang meningkat. Hal ini diungkapkan oleh sumber terkait yang mengetahui masalah tersebut seperti lapor Bloomberg.

Selama dekade terakhir, China secara bertahap mengurangi kepemilikan Treasury AS, sebuah pergeseran yang membuatnya digantikan oleh Jepang dan Inggris sebagai pemegang utang Amerika terbesar di luar negeri. Sejak mencapai puncaknya sekitar USD1,3 triliun pada 2013, kepemilikannya telah turun sekitar setengah menjadi di antara USD650-700 miliar, hingga mencapai level yang belum terlihat sejak 2008.

Beijing telah menasihati lembaga keuangan besar China untuk membatasi pembelian baru obligasi pemerintah AS dan mengurangi posisi di mana eksposurnya tinggi, menurut sumber terkait. Panduan tersebut dilaporkan tidak berlaku bagi kepemilikan resmi Beijing.

Baca Juga: Kekurangan Dana Perang, Israel Jual Surat Utang di AS Senilai Rp82 Triliun

Menurut laporan yang mengutip Administrasi Negara untuk Penukaran Mata Uang Asing China, bank-bank China memegang sekitar USD298 miliar dalam obligasi dengan mata uang dolar pada bulan September. Tidak jelas berapa banyak dari total tersebut yang terdiri dari Surat Utang AS.



Panduan tersebut disebut bermaksud untuk mendiversifikasi risiko pasar. Pada bulan Oktober, kedua pemimpin AS dan China sepakat pada gencatan perdagangan selama satu tahun, di mana tarif dan pengawasan ekspor atas barang masing-masing negara akan dikurangi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Ekspor Minyak Venezuela...
Ekspor Minyak Venezuela Melesat jadi 1,25 Juta Barel per Hari, AS hingga Eropa Rebutan
Rupiah Ambruk Parah,...
Rupiah Ambruk Parah, Pelaku Industri Susu Mulai Cemas
Iran Merudal Kuwait...
Iran Merudal Kuwait dan Bahrain, Balas Pengeboman AS di Pulau Qeshm
Iran Tolak Gagasan Donald...
Iran Tolak Gagasan Donald Trump Bertemu Mojtaba Khamenei
Permusuhan Memanas,...
Permusuhan Memanas, AS Bombardir Lagi Pulau Qeshm Iran
Rekomendasi
Penahanan Sudewo Dipindah...
Penahanan Sudewo Dipindah ke Semarang Jelang Sidang Perdana Kasusnya
Kemenhaj Ingatkan Jemaah...
Kemenhaj Ingatkan Jemaah Haji Tak Bawa Air Zamzam dalam Koper
Prabowo Kenang Hari...
Prabowo Kenang Hari Lahir Soekarno Lewat Potret Sang Proklamator
Berita Terkini
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved