Harga Minyak Tembus USD100 per Barel, Ini 7 Rekor Lonjakan Terburuk dalam Sejarah Dunia

Senin, 09 Maret 2026 - 13:13 WIB
loading...
Harga Minyak Tembus...
Sebuah kapal tanker minyak bersandar di pelabuhan di Ningbo, Provinsi Zhejiang, pada bulan September. FOTO/China Daily
A A A
JAKARTA - Lonjakan harga minyak dunia kembali mengguncang pasar global. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah menembus USD100 per barel memicu kekhawatiran krisis energi baru di tengah meningkatnya konflik geopolitik.

Sepanjang sejarah, kenaikan harga minyak hampir selalu menjadi pertanda buruk bagi ekonomi global mulai dari inflasi, resesi, hingga krisis finansial. Bahkan, beberapa lonjakan harga minyak pernah memicu perubahan besar dalam geopolitik dunia.

Berikut 7 lonjakan harga minyak mentah paling ekstrem sepanjang sejarah:

1. 2008: Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, USD147 per Barel

Tahun 2008 menjadi momen paling dramatis dalam sejarah pasar energi. Harga minyak melonjak hingga USD147 per barel, level tertinggi yang pernah tercatat. Lonjakan ini dipicu kombinasi spekulasi pasar komoditas, permintaan energi dari China dan India, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tak lama setelah itu, dunia dilanda krisis finansial global yang mengguncang ekonomi internasional. Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, APBN 2026 Indonesia Terancam Jebol

2. 1979: Revolusi Iran Memicu “Oil Shock Kedua”

Ketika revolusi menggulingkan Shah Iran pada 1979, produksi minyak negara tersebut langsung anjlok. Pasar energi panik. Harga minyak melonjak dari sekitar USD15 menjadi hampir USD40 per barel hanya dalam waktu singkat. Krisis ini memicu inflasi tinggi di Amerika Serikat dan Eropa.



3. 1973: Embargo Minyak OPEC Mengguncang Barat

Pada 1973, negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries memberlakukan embargo minyak terhadap negara Barat yang mendukung Israel dalam Yom Kippur War. Akibatnya harga minyak melonjak empat kali lipat, dari USD3 menjadi USD12 per barel. Krisis ini membuat banyak negara Barat membangun cadangan minyak strategis untuk pertama kalinya.

4. 2022: Perang Rusia–Ukraina Mengguncang Pasar Energi

Invasi Rusia ke Ukraina membuat pasar minyak kembali berguncang. Harga minyak Brent melonjak hingga sekitar USD130 per barel, tertinggi sejak 2008. Sanksi Barat terhadap Rusia salah satu produsen minyak terbesar dunia membuat pasokan energi global terancam.

5. 1990: Invasi Kuwait oleh Irak

Ketika Saddam Hussein memerintahkan invasi ke Kuwait pada Iraqi invasion of Kuwait, pasar minyak global langsung panik. Harga minyak melonjak hampir dua kali lipat dalam waktu singkat karena dua produsen besar dunia terlibat konflik langsung. Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Negara-negara Asia Panik Berebut Pasokan BBM

6. 2011: Arab Spring Picu Ketakutan Pasokan

Gelombang revolusi yang dikenal sebagai Arab Spring juga membuat harga minyak melonjak hingga sekitar USD125 per barel. Konflik di Libya dan kawasan Afrika Utara membuat pasar khawatirY pasokan minyak global akan terganggu.

7. 2026: Konflik Timur Tengah Dorong Harga di Atas USD100

Tahun 2026 kembali menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap geopolitik.
Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan United States membuat harga minyak melonjak di atas USD100 per barel. Pasar energi khawatir konflik dapat mengganggu jalur distribusi vital seperti Strait of Hormuz, yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Harga Minyak Dunia Anjlok,...
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Pertamax Ikut Turun?
AS-Iran Berdamai, Harga...
AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Mengapa Kekejaman Israel...
Mengapa Kekejaman Israel di Lebanon Bisa Picu Pembalasan dari Iran?
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
Rekomendasi
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus Kuota Haji dari Kemenag ke Pansus DPR
Rencana Aksi Lagi di...
Rencana Aksi Lagi di Bundaran HI, Ketua BEM UI Ingin Dobrak Kemacetan Mobilitas Sosial
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Infografis
Harga Emas Menggila,...
Harga Emas Menggila, Kini Tembus Rp1,9 Juta Per Gram
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved