Kurs Rupiah Babak Belur, Hari Ini Ditutup ke Posisi Rp16.949/USD
Senin, 09 Maret 2026 - 16:43 WIB
loading...
A
A
A
Di Asia, Inflasi indeks harga konsumen China tumbuh 1,3% secara tahunan pada bulan Februari, menurut data pemerintah. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,9% dan juga tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga tahun.
Angka inflasi yang kuat terutama didorong oleh peningkatan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang, karena permintaan untuk perjalanan, jasa, dan barang-barang diskresioner meningkat tajam.
Namun inflasi indeks harga produsen masih mengalami kontraksi, dan pasar kini mencari lebih banyak tanda apakah tren inflasi China akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan. Baca Juga: Rupiah Kian Terpuruk Imbas Perang Timur Tengah, Dolar AS Tembus Rp16.903
Dari sentimen domestik, harga minyak dunia sudah menyentuh angka USD92 per barel, rekor tertinggi sejak 2020. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran USD70 per barel.
“Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional,” ujarnya.
Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%. Angka ini sangat berisiko karena melampaui batas 3% yang telah ditetapkan dalam UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Lumpuhnya Selat Hormuz sebagai choke point yang melayani 20% suplai minyak dunia menjadi dalang utama kemacetan pasokan ini
Menghadapi situasi genting ini, ada 3 langkah strategis yang harus segera diambil pemerintah. Pertama, melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan, sehingga belanja hanya untuk keperluan yang langsung berkaitan masyarakat.
Angka inflasi yang kuat terutama didorong oleh peningkatan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang, karena permintaan untuk perjalanan, jasa, dan barang-barang diskresioner meningkat tajam.
Namun inflasi indeks harga produsen masih mengalami kontraksi, dan pasar kini mencari lebih banyak tanda apakah tren inflasi China akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan. Baca Juga: Rupiah Kian Terpuruk Imbas Perang Timur Tengah, Dolar AS Tembus Rp16.903
Dari sentimen domestik, harga minyak dunia sudah menyentuh angka USD92 per barel, rekor tertinggi sejak 2020. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran USD70 per barel.
“Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional,” ujarnya.
Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4%. Angka ini sangat berisiko karena melampaui batas 3% yang telah ditetapkan dalam UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Lumpuhnya Selat Hormuz sebagai choke point yang melayani 20% suplai minyak dunia menjadi dalang utama kemacetan pasokan ini
Menghadapi situasi genting ini, ada 3 langkah strategis yang harus segera diambil pemerintah. Pertama, melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan, sehingga belanja hanya untuk keperluan yang langsung berkaitan masyarakat.
Lihat Juga :