APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Selasa, 10 Maret 2026 - 10:42 WIB
loading...
A
A
A
Pada 2021, defisit APBN masih sangat besar yaitu sekitar Rp775 triliun atau 4,65% dari PDB.
Tahun ini merupakan fase lanjutan penanganan pandemi COVID-19. Pemerintah tetap mempertahankan belanja tinggi untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pemulihan ekonomi.
Beberapa faktor yang memicu defisit besar:
- Program vaksinasi nasional berskala besar
- Bantuan sosial dan subsidi energi
- Stimulus untuk UMKM dan dunia usaha
Meski masih tinggi, defisit mulai menurun dibanding 2020 seiring pemulihan ekonomi secara bertahap.
3. Tahun 2022 – Defisit Rp464 Triliun (2,38% PDB)
Pada 2022, defisit APBN turun cukup tajam menjadi sekitar Rp464,3 triliun atau 2,38% dari PDB.
Penurunan ini terjadi karena penerimaan negara melonjak drastis. Pendapatan negara bahkan mencapai sekitar Rp2.626,4 triliun, atau sekitar 115,9% dari target APBN.
Lonjakan penerimaan dipicu oleh:
- harga komoditas global yang tinggi (batu bara, nikel, sawit),
- peningkatan penerimaan pajak,
- serta pemulihan aktivitas ekonomi setelah pandemi.
Dengan capaian ini, pemerintah berhasil melakukan konsolidasi fiskal lebih cepat dari target dan mengembalikan defisit di bawah batas 3% PDB.
4. Tahun 2019 – Defisit Rp349 Triliun (Sekitar 2,2% PDB)
Tahun ini merupakan fase lanjutan penanganan pandemi COVID-19. Pemerintah tetap mempertahankan belanja tinggi untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pemulihan ekonomi.
Beberapa faktor yang memicu defisit besar:
- Program vaksinasi nasional berskala besar
- Bantuan sosial dan subsidi energi
- Stimulus untuk UMKM dan dunia usaha
Meski masih tinggi, defisit mulai menurun dibanding 2020 seiring pemulihan ekonomi secara bertahap.
3. Tahun 2022 – Defisit Rp464 Triliun (2,38% PDB)
Pada 2022, defisit APBN turun cukup tajam menjadi sekitar Rp464,3 triliun atau 2,38% dari PDB.
Penurunan ini terjadi karena penerimaan negara melonjak drastis. Pendapatan negara bahkan mencapai sekitar Rp2.626,4 triliun, atau sekitar 115,9% dari target APBN.
Lonjakan penerimaan dipicu oleh:
- harga komoditas global yang tinggi (batu bara, nikel, sawit),
- peningkatan penerimaan pajak,
- serta pemulihan aktivitas ekonomi setelah pandemi.
Dengan capaian ini, pemerintah berhasil melakukan konsolidasi fiskal lebih cepat dari target dan mengembalikan defisit di bawah batas 3% PDB.
4. Tahun 2019 – Defisit Rp349 Triliun (Sekitar 2,2% PDB)
Lihat Juga :