APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Selasa, 10 Maret 2026 - 10:42 WIB
loading...
A
A
A
Sebelum pandemi, defisit APBN pada 2019 tercatat sekitar Rp349 triliun atau sekitar 2,2% dari PDB.
Defisit pada periode ini dipengaruhi oleh:
- perlambatan ekonomi global,
- ketidakpastian perdagangan internasional,
- serta meningkatnya belanja infrastruktur pemerintah.
Meski demikian, defisit masih berada dalam batas aman sesuai ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara Indonesia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, APBN 2026 Indonesia Terancam Jebol
5. Tahun 2016 – Defisit Rp308 Triliun (Sekitar 2,46% PDB)
Defisit APBN pada 2016 tercatat sekitar Rp308 triliun atau sekitar 2,46% dari PDB.
Pada periode ini pemerintah masih fokus mendorong pembangunan infrastruktur nasional seperti jalan tol, pelabuhan, bandara, serta proyek energi dan logistik. Namun penerimaan negara, terutama dari sektor pajak, belum meningkat signifikan sehingga defisit tetap cukup besar.
6. Tahun 2015 – Defisit Rp298 Triliun (Sekitar 2,6% PDB)
Pada 2015, defisit APBN mencapai sekitar Rp298 triliun atau sekitar 2,6% dari PDB.
Tahun ini merupakan periode transisi kebijakan fiskal dengan beberapa langkah penting, seperti:
reformasi subsidi energi, peningkatan belanja pembangunan, serta upaya memperluas basis pajak.
Namun perlambatan ekonomi global dan turunnya harga komoditas membuat penerimaan negara tidak setinggi yang diharapkan.
Defisit pada periode ini dipengaruhi oleh:
- perlambatan ekonomi global,
- ketidakpastian perdagangan internasional,
- serta meningkatnya belanja infrastruktur pemerintah.
Meski demikian, defisit masih berada dalam batas aman sesuai ketentuan Undang-Undang Keuangan Negara Indonesia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, APBN 2026 Indonesia Terancam Jebol
5. Tahun 2016 – Defisit Rp308 Triliun (Sekitar 2,46% PDB)
Defisit APBN pada 2016 tercatat sekitar Rp308 triliun atau sekitar 2,46% dari PDB.
Pada periode ini pemerintah masih fokus mendorong pembangunan infrastruktur nasional seperti jalan tol, pelabuhan, bandara, serta proyek energi dan logistik. Namun penerimaan negara, terutama dari sektor pajak, belum meningkat signifikan sehingga defisit tetap cukup besar.
6. Tahun 2015 – Defisit Rp298 Triliun (Sekitar 2,6% PDB)
Pada 2015, defisit APBN mencapai sekitar Rp298 triliun atau sekitar 2,6% dari PDB.
Tahun ini merupakan periode transisi kebijakan fiskal dengan beberapa langkah penting, seperti:
reformasi subsidi energi, peningkatan belanja pembangunan, serta upaya memperluas basis pajak.
Namun perlambatan ekonomi global dan turunnya harga komoditas membuat penerimaan negara tidak setinggi yang diharapkan.
(nng)
Lihat Juga :