Shell dan TotalEnergies Hentikan Pasokan LNG Qatar, Pasar Energi Global Tertekan

Kamis, 12 Maret 2026 - 08:09 WIB
loading...
Shell dan TotalEnergies...
Shell dan TotalEnergies menyatakan force majeure terhadap sejumlah pelanggan hilir yang menerima pasokan LNG dari Qatar. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Perusahaan energi global Shell dan TotalEnergies dilaporkan menyatakan force majeure terhadap sejumlah pelanggan hilir yang menerima pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar. Langkah tersebut memperpanjang dampak gangguan pasokan LNG yang sebelumnya dipicu oleh penghentian produksi di fasilitas energi utama Qatar akibat serangan drone.

Deklarasi force majeure tersebut mengikuti keputusan QatarEnergy yang menghentikan produksi LNG di fasilitas Ras Laffan berkapasitas 77 juta ton per tahun pada 2 Maret 2026 setelah serangan drone Iran menargetkan infrastruktur energi di negara tersebut. "LNG Qatar tidak dapat digantikan," ujar kepala riset energi di MST Marquee seperti dikutip Reuters, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga: Rusia Pertimbangkan Setop Seluruh Pasokan Gas ke Uni Eropa

Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan serangan drone mengenai tangki air di pembangkit listrik di Kota Industri Mesaieed serta fasilitas energi milik QatarEnergy di Ras Laffan. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, perusahaan menghentikan seluruh produksi LNG dan secara resmi menyatakan force majeure pada 4 Maret.

Shell diketahui memiliki kemitraan ekuitas dengan QatarEnergy di fasilitas Ras Laffan yang merupakan pabrik LNG terbesar di dunia. Laporan Bloomberg menyebutkan Shell telah menyatakan force majeure terhadap sebagian kontrak dengan pelanggan di Asia, sementara Shell menolak memberikan komentar dan TotalEnergies belum menanggapi permintaan keterangan dari Reuters.



Qatar menyumbang sekitar 20% ekspor LNG dunia dan seluruh pengirimannya melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang saat ini mengalami penurunan lalu lintas hingga 86% akibat meningkatnya konflik militer di kawasan tersebut. Sumber Reuters menyebutkan meski konflik berakhir segera, pemulihan produksi penuh di fasilitas LNG Qatar diperkirakan memerlukan waktu setidaknya satu bulan karena proses restart harus dilakukan bertahap.

Baca Juga: Iran Sebut Trump Setan, Bersumpah Akan Lenyapkan Israel

Gangguan produksi tersebut mendorong lonjakan harga LNG acuan Asia hingga sekitar 39%. Pembeli di Eropa dan Asia kini mencari pasokan alternatif dari Amerika Serikat dan Australia, meskipun sebagian besar kapasitas ekspor dari Amerika Serikat telah terikat kontrak jangka panjang.

Analis memperingatkan jika penghentian produksi berlangsung lama, dampaknya dapat lebih besar dibandingkan krisis gas pada 2022 saat Rusia mengurangi pasokan gas pipa ke Eropa. Energy Intelligence memperkirakan gangguan ini berpotensi mengurangi pasokan LNG global antara 3,3 juta hingga 11,2 juta ton pada 2026.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo Energy dan BP per 22 Juni 2026
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Pasokan Minyak Dunia...
Pasokan Minyak Dunia Lenyap 1,5 Juta Barel per Hari, Pasar Energi Bakal Terguncang?
Permintaan Gas PLN Diproyeksi...
Permintaan Gas PLN Diproyeksi Naik 4,5% per Tahun, LNG Jadi Pilar Transisi Energi
Ledakan Dahsyat Guncang...
Ledakan Dahsyat Guncang Situs LNG Qatar, 54 Orang Terluka, 18 Hilang
Timnas Qatar Hancur-hancuran...
Timnas Qatar Hancur-hancuran di Piala Dunia 2026, Netizen Indonesia Singgung Hukum Karma
Jonathan David Hattrick,...
Jonathan David Hattrick, Kanada Hancurkan Qatar 6-0 di Piala Dunia 2026
Rekomendasi
Panji Bangsa Tegaskan...
Panji Bangsa Tegaskan Politik Kemanusiaan, Rayakan Harlah dengan Santuni Ratusan Yatim
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
DK PBB Setujui Resolusi...
DK PBB Setujui Resolusi AS Hentikan Perang Ukraina dan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved