Evaluasi MBG Diperketat, 1.512 SPPG di Jawa Dihentikan Sementara
Jum'at, 13 Maret 2026 - 15:19 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, tantangan pelaksanaan MBG juga berkaitan dengan persepsi publik terhadap program tersebut. Peneliti dan praktisi komunikasi perubahan perilaku dari Yayasan Cipta, Risang Rimbatmaja, menilai respons masyarakat sering kali berbeda dengan perspektif pengelola program.
"Logika pengelola program, dalam hal ini Badan Gizi Nasional, dan logika masyarakat itu berbeda. Secara statistik, insiden yang terjadi pada program MBG mungkin sangat kecil, hanya 0,00 sekian persen dari total porsi yang didistribusikan. Namun, bagi masyarakat, satu atau dua insiden saja sudah menjadi situasi yang menghebohkan," ujarnya.
Risang menjelaskan masyarakat cenderung menilai program berdasarkan ekspektasi terhadap kualitas makanan yang aman dan bergizi, bukan berdasarkan proporsi statistik kejadian. Karena itu, pengawasan terhadap SPPG dinilai tidak boleh dilakukan setengah hati.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman mengenai konsep gizi seimbang dalam pelaksanaan program MBG. “Lebih-lebih lagi tantangan MBG tidak hanya pada higienitas, tetapi juga pada esensi gizi itu sendiri. Berdasarkan pengamatan yang pernah saya lakukan di beberapa kota besar di Indonesia, literasi masyarakat mengenai konsep gizi seimbang masih memprihatinkan,” ujarnya.
Menurut Risang, konsep gizi seimbang mencakup keberagaman menu serta pembagian porsi yang tepat antara karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah. Namun dalam praktiknya, masyarakat sering kali lebih fokus pada jumlah makanan atau jenis lauk yang disajikan.
"Masyarakat biasanya tidak melihat itu. Mereka lebih sering memprotes jumlahnya yang dinilai sedikit, atau jenis lauknya apa. Padahal, esensinya ada pada ragam makanan yang mewakili kebutuhan tubuh dan ketepatan porsinya," tambahnya.
"Logika pengelola program, dalam hal ini Badan Gizi Nasional, dan logika masyarakat itu berbeda. Secara statistik, insiden yang terjadi pada program MBG mungkin sangat kecil, hanya 0,00 sekian persen dari total porsi yang didistribusikan. Namun, bagi masyarakat, satu atau dua insiden saja sudah menjadi situasi yang menghebohkan," ujarnya.
Risang menjelaskan masyarakat cenderung menilai program berdasarkan ekspektasi terhadap kualitas makanan yang aman dan bergizi, bukan berdasarkan proporsi statistik kejadian. Karena itu, pengawasan terhadap SPPG dinilai tidak boleh dilakukan setengah hati.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman mengenai konsep gizi seimbang dalam pelaksanaan program MBG. “Lebih-lebih lagi tantangan MBG tidak hanya pada higienitas, tetapi juga pada esensi gizi itu sendiri. Berdasarkan pengamatan yang pernah saya lakukan di beberapa kota besar di Indonesia, literasi masyarakat mengenai konsep gizi seimbang masih memprihatinkan,” ujarnya.
Menurut Risang, konsep gizi seimbang mencakup keberagaman menu serta pembagian porsi yang tepat antara karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah. Namun dalam praktiknya, masyarakat sering kali lebih fokus pada jumlah makanan atau jenis lauk yang disajikan.
"Masyarakat biasanya tidak melihat itu. Mereka lebih sering memprotes jumlahnya yang dinilai sedikit, atau jenis lauknya apa. Padahal, esensinya ada pada ragam makanan yang mewakili kebutuhan tubuh dan ketepatan porsinya," tambahnya.
Lihat Juga :