Apakah Ramadan Bulan Sepi bagi Pasar atau Hanya Salah Paham? Ini Faktanya
Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:58 WIB
loading...
Ramadan bukan bulan yang sepi bagi para trader yang disiplin, melainkan bulan yang sering disalahpahami. Ramadan memang memengaruhi pola harian tetapi tidak mengganggu aktivitas pasar. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Setiap tahun, ketika Ramadan semakin dekat, para trader retail umumnya berasumsi bahwa pasar akan sepi dan probabilitas untuk melakukan trading yang menguntungkan akan rendah. Asumsi ini tampaknya sangat valid. Jumlah trader di negara dengan mayoritas penduduk Muslim mungkin berkurang selama Ramadan, dan aktivitas ekonomi tampaknya melambat.
Namun, ini tidak berlaku sama untuk pasar keuangan. Ramadan bukan bulan yang sepi bagi para trader yang disiplin, melainkan bulan yang sering disalahpahami. Baca juga: Pasar Saham Gonjang-ganjing, Hashim Sebut Prabowo Marah Besar
Ramadan memang memengaruhi pola harian tetapi tidak mengganggu aktivitas pasar. Lantai trading, investasi institusional, dan pengaruh makroekonomi tetap aktif, terutama karena pusat keuangan utama, London, New York, dan Tokyo, tidak terpengaruh oleh perayaan Ramadan. Pola partisipasi pasar hanya akan berubah di beberapa bagian dunia, terutama pada siang hari.
Aset yang terkait dengan ekonomi Timur Tengah atau pasar saham di kawasan tersebut mungkin mengalami penurunan aktivitas pasar pada waktu tertentu dalam sehari. Namun, aset utama seperti pasangan forex, emas, dan indeks global terus dipengaruhi oleh peristiwa makroekonomi, pernyataan bank sentral, dan perkembangan geopolitik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ramadan bertepatan dengan meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi, perubahan suku bunga, dan volatiliitas harga komoditas. Aspek ini memiliki dampak yang jauh lebih signifikan terhadap aktivitas pasar daripada pola siklus partisipasi.
Yang menjadi perhatian di dunia nyata bukan apakah pasar “sepi”, tetapi kapan likuiditas sementara tidak tersedia dan kapan likuiditas tersebut kembali. Selama Ramadan, volume trading di beberapa pasar regional mungkin lebih rendah sebelum matahari terbenam dan lebih tinggi setelahnya, ketika para trader kembali bekerja setelah berbuka puasa.
Para trader retail, khususnya, mungkin akan menghadapi kondisi trading yang tidak terduga sepanjang hari.
mulai dari Jendela partisipasi yang lebih sempit, periode pergerakan harga yang lebih lambat, hingga ledakan volatilitas yang mendadak saat likuiditas kembali.
Misalnya, pasangan mata uang yang terkait dengan negara pengekspor energi mungkin masih rentan terhadap fluktuasi harga minyak terlepas dari bulan apa pun. Emas, sebagai aset safe haven yang klasik, tetap sensitif terhadap kekuatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga global, yang beroperasi berdasarkan kalender global.
Platform trading yang mengutamakan eksekusi yang andal dan infrastruktur yang tangguh menjadi lebih berharga dalam kondisi pasar yang tidak dapat diprediksi seperti ini. Platform trading seperti JustMarkets, yang berfokus pada penyediaan ketentuan trading yang solid dan penetapan harga yang transparan, umumnya menekankan pentingnya bagi para trader untuk memahami bagaimana siklus likuiditas memengaruhi spread trading dan eksekusi, daripada menganggap pasar telah sepi.
Salah satu kesalahan yang paling umum selama Ramadan adalah kurangnya disiplin dalam trading, yang didorong oleh keyakinan bahwa “tidak akan terjadi hal yang signifikan.” Ini bisa mengakibatkan manajemen risiko yang buruk, penggunaan leverage yang berlebihan saat dianggap tidak ada aktivitas, atau melakukan trading tanpa pengaturan yang memadai hanya untuk mengimbangi kurangnya aktivitas.
Kesalahpahaman umum lainnya adalah mengabaikan tumpang tindih antara sesi trading Ramadan dan sesi global utama. Tumpang tindih London-New York, misalnya, tetap menjadi waktu yang paling likuid dalam trading forex terlepas dari bulan apa pun. Pengumuman ekonomi di Amerika Serikat, Eropa, atau China bisa menyebabkan pergerakan harga yang besar meskipun partisipasi regional lebih rendah.
Para trader profesional biasanya menyesuaikan jadwal trading mereka daripada sama sekali tidak berpartisipasi di pasar. Beberapa trader fokus pada trading dengan probabilitas tinggi selama likuiditas puncak, sementara yang lain beralih ke strategi swing trading yang kurang sensitif terhadap pergerakan harga intraday.
Secara praktis, Ramadan bisa menjadi waktu untuk meningkatkan keterampilan disiplin daripada mengurangi partisipasi. Para trader bisa memperoleh manfaat dari, pertama, penekanan pada pengaturan yang berkualitas daripada kuantitas.
Kedua, pemantauan spread selama masa likuiditas rendah. Ketiga, penghindaran aktivitas trading yang dilakukan dekat dengan rilis data utama. Keempat, menjaga rutinitas teratur meskipun ada perubahan jadwal.
Para broker edukasi cenderung lebih menekankan persiapan daripada respons selama masa perubahan musim. JustMarkets, misalnya, secara konsisten menekankan pentingnya kebiasaan trading yang bijaksana selama periode ketika kondisi pasar mungkin tampak tidak biasa tetapi tetap dipengaruhi oleh kekuatan global yang sama. Baca juga: Perdagangan dan Trader Makin Meningkat di Tengah Kenaikan Kripto
Pada akhirnya, Ramadan tidak membuat pasar menjadi sepi. Ramadan hanya mengubah pola partisipasi bagi sebagian komunitas trading. Bagi para trader retail, perbedaan antara kedua konsep tersebut bisa berarti perbedaan antara peluang yang terlewatkan dan risiko yang tidak perlu.
Pasar masih dipengaruhi oleh suku bunga, angka inflasi, peristiwa geopolitik, dan penentuan posisi, yang semuanya terjadi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Apa yang dihadirkan Ramadan adalah unsur manusiawi: perubahan kebiasaan, fokus, dan tingkat likuiditas yang bervariasi di seluruh dunia.
Bagi para trader yang bersedia mengamati dan menyesuaikan, bulan ini bisa lebih tentang perspektif daripada ketidakaktifan. Dalam trading, sebagaimana dalam kehidupan, segala sesuatu jarang sesederhana yang terlihat.
Namun, ini tidak berlaku sama untuk pasar keuangan. Ramadan bukan bulan yang sepi bagi para trader yang disiplin, melainkan bulan yang sering disalahpahami. Baca juga: Pasar Saham Gonjang-ganjing, Hashim Sebut Prabowo Marah Besar
Ramadan memang memengaruhi pola harian tetapi tidak mengganggu aktivitas pasar. Lantai trading, investasi institusional, dan pengaruh makroekonomi tetap aktif, terutama karena pusat keuangan utama, London, New York, dan Tokyo, tidak terpengaruh oleh perayaan Ramadan. Pola partisipasi pasar hanya akan berubah di beberapa bagian dunia, terutama pada siang hari.
Aset yang terkait dengan ekonomi Timur Tengah atau pasar saham di kawasan tersebut mungkin mengalami penurunan aktivitas pasar pada waktu tertentu dalam sehari. Namun, aset utama seperti pasangan forex, emas, dan indeks global terus dipengaruhi oleh peristiwa makroekonomi, pernyataan bank sentral, dan perkembangan geopolitik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ramadan bertepatan dengan meningkatnya kekhawatiran tentang inflasi, perubahan suku bunga, dan volatiliitas harga komoditas. Aspek ini memiliki dampak yang jauh lebih signifikan terhadap aktivitas pasar daripada pola siklus partisipasi.
Yang menjadi perhatian di dunia nyata bukan apakah pasar “sepi”, tetapi kapan likuiditas sementara tidak tersedia dan kapan likuiditas tersebut kembali. Selama Ramadan, volume trading di beberapa pasar regional mungkin lebih rendah sebelum matahari terbenam dan lebih tinggi setelahnya, ketika para trader kembali bekerja setelah berbuka puasa.
Para trader retail, khususnya, mungkin akan menghadapi kondisi trading yang tidak terduga sepanjang hari.
mulai dari Jendela partisipasi yang lebih sempit, periode pergerakan harga yang lebih lambat, hingga ledakan volatilitas yang mendadak saat likuiditas kembali.
Misalnya, pasangan mata uang yang terkait dengan negara pengekspor energi mungkin masih rentan terhadap fluktuasi harga minyak terlepas dari bulan apa pun. Emas, sebagai aset safe haven yang klasik, tetap sensitif terhadap kekuatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga global, yang beroperasi berdasarkan kalender global.
Platform trading yang mengutamakan eksekusi yang andal dan infrastruktur yang tangguh menjadi lebih berharga dalam kondisi pasar yang tidak dapat diprediksi seperti ini. Platform trading seperti JustMarkets, yang berfokus pada penyediaan ketentuan trading yang solid dan penetapan harga yang transparan, umumnya menekankan pentingnya bagi para trader untuk memahami bagaimana siklus likuiditas memengaruhi spread trading dan eksekusi, daripada menganggap pasar telah sepi.
Salah satu kesalahan yang paling umum selama Ramadan adalah kurangnya disiplin dalam trading, yang didorong oleh keyakinan bahwa “tidak akan terjadi hal yang signifikan.” Ini bisa mengakibatkan manajemen risiko yang buruk, penggunaan leverage yang berlebihan saat dianggap tidak ada aktivitas, atau melakukan trading tanpa pengaturan yang memadai hanya untuk mengimbangi kurangnya aktivitas.
Kesalahpahaman umum lainnya adalah mengabaikan tumpang tindih antara sesi trading Ramadan dan sesi global utama. Tumpang tindih London-New York, misalnya, tetap menjadi waktu yang paling likuid dalam trading forex terlepas dari bulan apa pun. Pengumuman ekonomi di Amerika Serikat, Eropa, atau China bisa menyebabkan pergerakan harga yang besar meskipun partisipasi regional lebih rendah.
Para trader profesional biasanya menyesuaikan jadwal trading mereka daripada sama sekali tidak berpartisipasi di pasar. Beberapa trader fokus pada trading dengan probabilitas tinggi selama likuiditas puncak, sementara yang lain beralih ke strategi swing trading yang kurang sensitif terhadap pergerakan harga intraday.
Secara praktis, Ramadan bisa menjadi waktu untuk meningkatkan keterampilan disiplin daripada mengurangi partisipasi. Para trader bisa memperoleh manfaat dari, pertama, penekanan pada pengaturan yang berkualitas daripada kuantitas.
Kedua, pemantauan spread selama masa likuiditas rendah. Ketiga, penghindaran aktivitas trading yang dilakukan dekat dengan rilis data utama. Keempat, menjaga rutinitas teratur meskipun ada perubahan jadwal.
Para broker edukasi cenderung lebih menekankan persiapan daripada respons selama masa perubahan musim. JustMarkets, misalnya, secara konsisten menekankan pentingnya kebiasaan trading yang bijaksana selama periode ketika kondisi pasar mungkin tampak tidak biasa tetapi tetap dipengaruhi oleh kekuatan global yang sama. Baca juga: Perdagangan dan Trader Makin Meningkat di Tengah Kenaikan Kripto
Pada akhirnya, Ramadan tidak membuat pasar menjadi sepi. Ramadan hanya mengubah pola partisipasi bagi sebagian komunitas trading. Bagi para trader retail, perbedaan antara kedua konsep tersebut bisa berarti perbedaan antara peluang yang terlewatkan dan risiko yang tidak perlu.
Pasar masih dipengaruhi oleh suku bunga, angka inflasi, peristiwa geopolitik, dan penentuan posisi, yang semuanya terjadi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Apa yang dihadirkan Ramadan adalah unsur manusiawi: perubahan kebiasaan, fokus, dan tingkat likuiditas yang bervariasi di seluruh dunia.
Bagi para trader yang bersedia mengamati dan menyesuaikan, bulan ini bisa lebih tentang perspektif daripada ketidakaktifan. Dalam trading, sebagaimana dalam kehidupan, segala sesuatu jarang sesederhana yang terlihat.
(poe)
Lihat Juga :