Titik Vital Selat Hormuz, Sejauh Mana Konflik AS-Israel vs Iran Guncang Ekonomi Dunia dan Indonesia

Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:52 WIB
loading...
Titik Vital Selat Hormuz,...
Konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian global sekaligus kondisi fiskal Indonesia, berikut hitungannya. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian global sekaligus kondisi fiskal Indonesia . Terutama jika memicu gangguan distribusi minyak mentah di Selat Hormuz .

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi yang sangat vital bagi perekonomian dunia. Karena itu, berbagai pihak memiliki kepentingan agar aktivitas distribusi minyak dan bahan bakar di jalur tersebut dapat kembali berjalan normal.

Menurut dia, konsumen utama minyak yang melalui jalur Selat Hormuz seperti China, India, Japan, dan South Korea memiliki peran besar dalam perekonomian global. Keempat negara tersebut diperkirakan berkontribusi sekitar 27% terhadap pembentukan produk domestik bruto (GDP) dunia pada 2026.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Nalar Fiskal Jangan Turun

"Artinya, jika terjadi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, minimal akan memberikan dampak negatif terhadap aktivitas ekonomi yang mewakili sekitar 27% perekonomian global," ujar Komaidi ReforMiner Note, dikutip Sabtu (14/3/2026).



Dampak tersebut bahkan berpotensi lebih luas karena negara-negara tersebut juga memiliki peran strategis dalam rantai pasok global. Gangguan pasokan energi dapat memperlambat aktivitas industri dan perdagangan internasional.

Komaidi menilai hubungan ekonomi dan kemitraan strategis antara Iran dengan China dan India dapat menjadi pintu masuk percepatan penyelesaian ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Terlebih sekitar 53% tujuan ekspor minyak mentah yang melalui jalur tersebut ditujukan ke China dan India.

Di sisi lain, konflik geopolitik di kawasan tersebut juga berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Hal ini terutama terjadi melalui kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia USD100 per Barel Ancam APBN, Menkeu Purbaya: Masih Aman, Masih Kuat

Komaidi menjelaskan, sejak Indonesia berstatus sebagai net oil importer, kenaikan harga minyak cenderung lebih banyak memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dibandingkan memberikan tambahan penerimaan.

Berdasarkan sensitivitas APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 1 dolar AS per barel selama satu tahun anggaran berpotensi menambah defisit APBN sekitar Rp6,80 triliun.

“Kenaikan harga minyak memang menambah pendapatan negara dari sektor hulu migas sekitar Rp3,50 triliun. Namun pada saat yang sama, belanja negara juga meningkat sekitar Rp10,30 triliun dalam satu tahun anggaran,” jelasnya.

Dengan asumsi ICP dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar USD70 per barel, peningkatan harga minyak global dapat berdampak signifikan terhadap defisit anggaran. Jika rata-rata ICP sepanjang 2026 mencapai USD90 per barel, maka tambahan defisit APBN diperkirakan mencapai sekitar Rp136 triliun.

Sementara itu, apabila harga minyak rata-rata menembus 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun, tambahan defisit APBN berpotensi meningkat hingga sekitar Rp204 triliun.

Komaidi menilai kondisi ini perlu diantisipasi oleh pemerintah, mengingat volatilitas harga energi global sangat dipengaruhi dinamika geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
Purbaya soal Anggaran...
Purbaya soal Anggaran MBG: Saya Maunya Nol, Tapi Nggak Bisa Kan
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
80 Juta Barel Minyak...
80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Rekomendasi
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
MK Tolak Gugatan Dharma...
MK Tolak Gugatan Dharma Pongrekun Atas UU Kesehatan: Kepatuhan Warga adalah Konsekuensi Logis
Refly Harun Desak PN...
Refly Harun Desak PN Jakarta Timur Bolehkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa
Berita Terkini
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Insentif Kendaraan Listrik...
Insentif Kendaraan Listrik Mundur Jauh, Begini Kata Purbaya
Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan...
Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan Tekan Penerimaan Negara
Purbaya Isyaratkan Marketplace...
Purbaya Isyaratkan Marketplace Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli 2026
Lippo Hibahkan Lahan...
Lippo Hibahkan Lahan untuk 141 Ribu Rumah di Meikarta, Percepat Program 3 Juta Rumah
Danone Indonesia Dorong...
Danone Indonesia Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Praktik Bisnis Berkelanjutan
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved