Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus USD150 per Barel, Picu Krisis Energi Terparah Sejak 1970-an

Minggu, 15 Maret 2026 - 08:02 WIB
loading...
Harga Minyak Dunia Berpotensi...
Harga minyak dunia melonjak tajam menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir menyusul eskalasi konflik militer antara AS dan Iran yang kini memasuki minggu kedua. FOTO/AP
A A A
WASHINGTON - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir menyusul eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki minggu kedua. Ketegangan meningkat drastis setelah AS melancarkan serangan udara terbesar ke fasilitas militer Iran, yang memicu kekhawatiran melumpuhnya jalur pasokan energi global.

"Saya sulit untuk tidak menjadikan skenario utama di mana harga minyak akan tetap sangat tinggi untuk waktu yang lama," ujar mantan ekonom IMF, Olivier Blanchard dikutip dari New York Post, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga: Iran Ledek Habis Trump usai Mengemis ke Banyak Negara agar Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Hingga 13 Maret, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di atas USD103 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati level USD100. Lonjakan harga ini dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang menyumbang 20 persen aliran minyak dunia. RBC Capital Markets menyebut situasi ini sebagai krisis energi paling signifikan sejak embargo minyak tahun 1970-an, dengan volume lalu lintas kapal tanker yang anjlok hingga 90% sejak akhir Februari.

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan akan menjaga Selat Hormuz tetap tertutup bagi armada Amerika Serikat sebagai bentuk perlawanan. Langkah ini diambil setelah suksesi kepemimpinan pasca-pembunuhan Ali Khamenei pada awal konflik. Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa pihaknya telah mengintensifkan serangan terhadap 90 target militer di Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor utama Iran.



Meski infrastruktur minyak diklaim tetap utuh, Angkatan Laut AS secara tertutup menilai pengawalan tanker melalui selat tersebut masih terlalu berisiko. Laporan Fortune menyebutkan lebih dari 400 kapal tanker saat ini terdampar di Teluk Persia, dengan insiden serangan terhadap tiga kapal tambahan pada 11 Maret lalu. Ketidakpastian ini membuat para pelaku pasar bersiap menghadapi gangguan pasokan jangka panjang.

Badan Internasional Energi (IEA) telah mengambil langkah darurat dengan melepas 400 juta barel dari cadangan strategis, yang tercatat sebagai intervensi terbesar dalam sejarah pasar minyak. Namun, upaya ini belum mampu menekan harga secara signifikan. Analis dari Macquarie memproyeksikan harga minyak bisa menembus USD150 per barel jika blokade di Selat Hormuz terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Baca Juga: Ejek AS Terang-terangan, Iran Terus Kirim Minyak ke China Lewat Selat Hormuz

Di sektor keuangan, JPMorgan Chase memperingatkan potensi penurunan indeks S&P 500 hingga 10 persen akibat defisit pasokan yang diperkirakan mencapai 16 juta barel per hari. Hingga saat ini, pasar saham cenderung menunjukkan respons yang redup terhadap guncangan geopolitik, namun para ekonom memperingatkan ancaman stagflasi jika harga energi tetap tinggi. Kondisi ini diprediksi akan memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Konflik yang kian meruncing ini kini menempatkan stabilitas ekonomi global dalam posisi rentan. Para pengamat kini menyoroti apakah ketenangan para pedagang saat ini merupakan bentuk antisipasi yang matang atau justru kegagalan dalam memitigasi risiko sebelum terjadinya koreksi pasar yang lebih tajam.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Bukan Rp16.250, Harga...
Bukan Rp16.250, Harga Asli Pertamax Seharusnya Rp20.200 per Liter
Dokumen Rahasia Bocor!...
Dokumen Rahasia Bocor! Qatar Diam-diam Tawarkan Kesepakatan Gelap ke Iran
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Rekomendasi
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Berita Terkini
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
JustMarkets Luncurkan...
JustMarkets Luncurkan Trading Saham SpaceX untuk Klien
Infografis
Harga Rokok Meroket,...
Harga Rokok Meroket, Marlboro Tembus Rp46.000 per Bungkus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved