Boy Thohir Siapkan Buyback Saham ADRO Rp4 Triliun, Tegaskan Optimisme Pasar Modal
Selasa, 17 Maret 2026 - 18:20 WIB
loading...
Garibaldi Boy Thohir menyiapkan aksi buyback saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pengusaha nasional Garibaldi "Boy" Thohir menyiapkan aksi pembelian kembali (buyback) saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai bentuk keyakinan terhadap prospek jangka panjang perusahaan dan pasar modal Indonesia. Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat partisipasi investor domestik di tengah dinamika global.
Boy Thohir mengatakan rencana buyback tersebut mencerminkan optimisme terhadap fundamental perusahaan yang dinilai tetap solid. "Saya percaya bahwa ADRO serta pasar modal Indonesia memiliki prospek jangka panjang yang sangat baik," ujar Boy Thohir di Depok, Jawa Barat, dikutip Selasa (17/3/2026).
Ia menegaskan keputusan buyback diambil karena kinerja perusahaan menunjukkan fondasi bisnis yang kuat. "Kenapa kita buyback? Karena kita yakin bahwa fundamentalnya bagus. Dan kita bisa lihat itu," ujarnya.
Baca Juga: BUMA Amankan Kontrak Jangka Panjang dengan Adaro hingga 2030
Menurut Boy, ketidakpastian global justru menegaskan pentingnya kekuatan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Ia menilai konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok global kerap mendorong kenaikan harga komoditas energi.
Boy Thohir mengatakan rencana buyback tersebut mencerminkan optimisme terhadap fundamental perusahaan yang dinilai tetap solid. "Saya percaya bahwa ADRO serta pasar modal Indonesia memiliki prospek jangka panjang yang sangat baik," ujar Boy Thohir di Depok, Jawa Barat, dikutip Selasa (17/3/2026).
Ia menegaskan keputusan buyback diambil karena kinerja perusahaan menunjukkan fondasi bisnis yang kuat. "Kenapa kita buyback? Karena kita yakin bahwa fundamentalnya bagus. Dan kita bisa lihat itu," ujarnya.
Baca Juga: BUMA Amankan Kontrak Jangka Panjang dengan Adaro hingga 2030
Menurut Boy, ketidakpastian global justru menegaskan pentingnya kekuatan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Ia menilai konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok global kerap mendorong kenaikan harga komoditas energi.
Lihat Juga :