Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Tembus Level Tertinggi Sejak 2022

Senin, 23 Maret 2026 - 10:00 WIB
loading...
Konflik Timur Tengah...
Harga minyak mentah global jenis Brent mencapai level tertinggi sejak Juli 2022 menyusul eskalasi militer di Timur Tengah. FOTO/Tech Stok
A A A
JAKARTA - Harga minyak mentah global jenis Brent mencapai level tertinggi sejak Juli 2022 menyusul eskalasi militer di Timur Tengah yang mengganggu jalur pasokan energi dunia. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap penutupan Selat Hormuz yang menjadi titik nadi distribusi hampir 20% aliran minyak mentah dunia.

"Setiap hari yang berlalu membuat semakin sulit untuk berargumen bahwa gangguan pengiriman dan infrastruktur energi hanya bersifat sementara," ujar Jim Reid dari Deutsche Bank dalam catatannya kepada klien, menanggapi ketidakpastian pasar, dikutip dari New York Times, Senin (22/3/2026).

Baca Juga: Rudal Iran Hantam Fasilitas Nuklir Israel di Dimona

Pada penutupan perdagangan Jumat (20/3), minyak Brent bertengger di posisi USD112,19 per barel. Kondisi ini diikuti dengan kenaikan harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat yang melonjak menjadi USD3,94 per galon, naik signifikan dibandingkan posisi bulan lalu yang masih berada di level USD2,93.

Konflik yang kian meruncing sejak akhir Februari 2026 tersebut telah menyebabkan terhentinya operasional di Selat Hormuz. Korps Pengawal Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan aliran minyak melintasi jalur tersebut, terutama bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan pihak-pihak yang terlibat konflik.



Serangan terhadap infrastruktur energi juga memperburuk situasi, termasuk kerusakan pada lapangan gas South Pars di Iran dan fasilitas industri di Qatar. CEO QatarEnergy menyatakan, kerusakan pada kapasitas ekspor gas alam cair (LNG) tersebut memerlukan waktu pemulihan antara tiga hingga lima tahun.

Menanggapi krisis tersebut, 32 negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) telah sepakat secara bulat untuk melepaskan cadangan minyak darurat demi menstabilkan pasar. Namun, analis menilai cadangan tersebut hanya mampu menambal kebutuhan pasar selama 20 hari jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.

Baca Juga: Perang AS-Iran Bikin Susah Banyak Negara, 100.000 Pekerja di Inggris Terancam PHK

Lembaga keuangan Goldman Sachs memperingatkan, harga minyak mentah berpotensi menetap di atas level USD100 untuk jangka waktu yang lama. Sementara itu, Oxford Economics telah menaikkan proyeksi inflasi global 2026 menjadi 4 persen, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,3% pada Februari.

Dana Moneter Internasional (IMF) turut mengeluarkan peringatan senada mengenai risiko output ekonomi global. Juru bicara IMF, Julie Kozack, menyebutkan, jika harga minyak bertahan di atas USD100 selama setahun, output ekonomi global bisa turun sekitar satu persen disertai kenaikan inflasi hingga dua poin persentase.

Bank Sentral AS, Federal Reserve, merespons situasi ini dengan menaikkan prakiraan inflasi mereka meski tetap mempertahankan suku bunga stabil pada pekan lalu. Tekanan harga akibat sektor energi dianggap menjadi faktor utama yang membuat prospek ekonomi dunia semakin kabur dan penuh ketidakpastian.

Meskipun terdapat skenario harga minyak bisa kembali melandai jika konflik berakhir singkat, ketegangan di lapangan menunjukkan tanda-tanda yang sebaliknya. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) kini telah merevisi rata-rata harga Brent tahun 2026 menjadi 78,84 dolar AS per barel dengan asumsi gangguan mulai mereda pada April mendatang.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Selain Ingin Perang...
Selain Ingin Perang di Lebanon Berakhir, Iran Klaim Tak Ingin Kembangkan Senjata Nuklir
Rekomendasi
Kasus Pemuda Tewas di...
Kasus Pemuda Tewas di Selokan Mustikajaya: 4 Orang Ditangkap, Motif Digali Polisi
Paradoks Tata Kelola...
Paradoks Tata Kelola Batu Bara di Indonesia
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Berita Terkini
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Dorong Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Eceng Gondok
Said Iqbal Blak-blakan...
Said Iqbal Blak-blakan 2.500 Buruh Pabrik Terancam PHK
BPDP dan AKPY Latih...
BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Langkah Membumi 2026...
Langkah Membumi 2026 Dimulai, Hadirkan Program Sustainability yang Lebih Pop untuk Anak Muda
Infografis
Harga Cabai, Telur,...
Harga Cabai, Telur, dan Minyak Goreng Diprediksi Normal Awal 2022
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved