Selat Hormuz Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok hingga 95%

Rabu, 25 Maret 2026 - 08:14 WIB
loading...
Selat Hormuz Lumpuh,...
Arus lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz dilaporkan anjlok drastis hingga 95%. FOTO/AP
A A A
TEHERAN - Arus lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz dilaporkan anjlok drastis hingga 95% menyusul meningkatnya ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Jalur air strategis yang menjadi urat nadi pengiriman seperlima energi dunia tersebut kini berada di bawah kendali ketat otoritas Teheran sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.

"Setiap kapal yang berniat melintas harus mendapatkan izin dari Iran," tegas Komandan Angkatan Laut Pengawal Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, dalam pernyataan resminya melalui media sosial dikutip dari Gulf News, Rabu (25/3/2026).

Baca Juga: Filipina Jadi Negara Pertama yang Menyatakan Darurat Energi akibat Perang Iran

Data analitik maritim Kpler menunjukkan bahwa sepanjang 1 hingga 23 Maret, hanya terdapat 138 penyeberangan kapal komersial di selat tersebut. Angka ini turun tajam dibandingkan periode damai yang rata-rata mencapai 120 penyeberangan per hari.

Dari jumlah yang melintas, mayoritas merupakan kapal tanker minyak dan gas yang bergerak ke arah timur keluar dari Teluk Persia, di mana lebih dari separuhnya merupakan kapal yang berada dalam daftar sanksi internasional.



Analis JPMorgan melaporkan bahwa 98% lalu lintas minyak yang tersisa saat ini merupakan milik Iran dengan volume 1,3 juta barel per hari, jauh di bawah level sebelum perang yang mencapai lima juta barel.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengakui dinamika tersebut dan menyatakan pihaknya membiarkan kapal-kapal Iran tetap beroperasi demi menjaga pasokan dunia di tengah keterbatasan akses bagi operator internasional lainnya.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Guncang Dunia, Saudi Aramco Pangkas Pasokan Minyak ke Asia Bulan April

Kondisi keamanan yang memburuk memaksa sejumlah negara seperti China, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia melakukan negosiasi langsung dengan Teheran untuk menjamin keselamatan pelayaran. Menurut Pemimpin Redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, beberapa kapal bahkan terpaksa merapat dekat pesisir Iran dan mengklaim afiliasi dengan China guna menghindari risiko serangan militer di wilayah perairan tersebut.

Dampak kemanusiaan dan operasional juga sangat terasa dengan adanya 3.200 kapal dan sekitar 20.000 pelaut yang kini terjebak di sebelah barat selat tanpa kepastian keamanan. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengonfirmasi sedikitnya 17 serangan terhadap kapal komersial hingga pertengahan Maret yang telah menelan korban jiwa, sementara ratusan tanker minyak mentah masih tertahan di dalam Teluk Persia.

Sektor logistik dan asuransi merespons krisis ini dengan menaikkan premi risiko perang hingga empat kali lipat atau setara satu persen dari nilai lambung kapal. Biaya asuransi untuk satu perjalanan kapal tanker raksasa (VLCC) kini melonjak hingga 3 juta dolar AS, sementara tarif sewa harian supertanker meroket menjadi 800.000 dolar AS akibat minimnya jaminan keamanan di zona konflik.

Analis utama Timur Tengah dari Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menilai aliran komoditas energi dunia hampir mengalami henti total akibat ancaman signifikan terhadap operasi maritim. Situasi di Selat Hormuz kini menjadi titik nadir bagi stabilitas ekonomi global mengingat peran vitalnya dalam distribusi minyak, gas alam cair (LNG), dan produk kimia internasional.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasokan Minyak Dunia...
Pasokan Minyak Dunia Lenyap 1,5 Juta Barel per Hari, Pasar Energi Bakal Terguncang?
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
Biaya Logistik Menggila,...
Biaya Logistik Menggila, Pembeli Asia Batalkan Impor LPG dari AS
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Tiga Kapal Tanker Tujuan...
Tiga Kapal Tanker Tujuan China dan India Diam-diam Tinggalkan Selat Hormuz, Begini Caranya
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam usai AS Serang Iran Lagi
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
Meski AS-Iran Musuh...
Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
Iran Serang Kapal Perang...
Iran Serang Kapal Perang AS di Teluk Oman yang Diklaim sebagai Pusat Komando Amerika
Rekomendasi
Microsoft Klaim Chip...
Microsoft Klaim Chip Kuantum Baru 1.000 Kali Lebih Stabil
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Ini Menu Sarapan Terbaik...
Ini Menu Sarapan Terbaik sebelum Olahraga, Pisang dan Ubi Cilembu Juaranya
Berita Terkini
PINDEX 2026 Dibuka,...
PINDEX 2026 Dibuka, Pertamina Patra Niaga Tampilkan Inovasi Engineering Energi Hilir
Rupiah Jebol Tembus...
Rupiah Jebol Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pelemahan Terburuk Sepanjang Sejarah
IHSG Rontok Lagi Hari...
IHSG Rontok Lagi Hari Ini, Tak Lama Pembukaan Anjlok 1,25% ke 5.866
IHSG Nyungsep, Purbaya...
IHSG Nyungsep, Purbaya Tuding Rumor Downgrade S&P Jadi Biang Kerok
Didimax Rayakan Ulang...
Didimax Rayakan Ulang Tahun ke-27, Kepala Bappebti Berikan Apresiasi
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved