Kurs Rupiah Capai Rp16.904/USD, Indonesia Punya Pengalaman Hindari Jurang Resesi

Kamis, 26 Maret 2026 - 17:50 WIB
loading...
Kurs Rupiah Capai Rp16.904/USD,...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan Kamis (26/3/2026) sentuh level Rp16.904 per dolar AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (26/3/2026), naik 7 poin atau sekitar 0,04% ke level Rp16.904 per dolar AS. Menurut data JISDOR BI, kurs rupiah juga masih berkutat pada kisaran posisi Rp16.903/USD.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar mempertimbangkan sinyal diplomatik sementara dari Teheran, di mana para pejabat dilaporkan sedang meninjau proposal yang didukung AS yang bertujuan untuk menghentikan permusuhan.

“Meskipun Iran belum secara resmi menerima rencana tersebut, mereka belum menolaknya secara langsung, sehingga menimbulkan harapan yang hati-hati akan potensi jalan menuju de-eskalasi,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga: Rupiah Diramal Tembus Rp20.000 per Dolar AS, Ekonom Wanti-wanti Krisis

Namun, ketidakpastian tetap tinggi, dengan Iran secara terbuka membantah negosiasi langsung dengan Washington dan menunjukkan bahwa perbedaan utama masih ada. Kurangnya kejelasan telah membuat para pedagang waspada, dengan pasar minyak lesu pada hari Kamis.

Harga minyak sangat fluktuatif dalam beberapa minggu terakhir karena konflik tersebut mengganggu aliran energi dari Teluk, wilayah yang penting bagi pasokan minyak mentah global. Minyak mentah Brent telah melonjak di atas USD119 per barel awal bulan ini karena kekhawatiran akan gangguan pasokan.



Selat Hormuz, jalur transit vital bagi sekitar seperlima pengiriman minyak global, tetap menjadi titik fokus pasar, dengan ancaman apa pun terhadap pengiriman melalui jalur air tersebut kemungkinan akan memicu lonjakan harga lebih lanjut.

Investor juga mengamati dengan cermat sinyal dari Washington, di mana para pejabat telah memperingatkan akan adanya tindakan yang lebih keras jika Iran tidak terlibat secara konstruktif, yang menambah lapisan ketidakpastian lain pada prospek.

Dari sentimen domestik, pemerintah Indonesia belum berencana menyesuaikan atau menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan gejolak harga minyak mentah global saat ini.

Baca Juga: Berbasis Data Historis, Konflik AS-Iran Bakal Percepat Pelemahan Rupiah ke Rp20.400/USD

Fluktuasi harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini belum mencapai titik yang membahayakan postur anggaran. Oleh karena itu, wacana pembatasan kuota maupun kenaikan harga BBM subsidi sama sekali belum masuk dalam radar kebijakan pemerintah.

Pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) terbaru masih berada di level USD74 per barel. Angka ini memang sedikit meleset dari asumsi makro APBN yang dipatok pada level USD70 per barel.

Namun selisih USD4 per barel tersebut dinilai masih sangat terkelola dan tidak menjustifikasi adanya tindakan reaktif dari pemerintah. Perhitungan APBN didasarkan pada rata-rata pergerakan harga sepanjang tahun, bukan lonjakan sesaat.

Belajar dari krisis masa lalu, Indonesia cenderung berhasil menghadapi krisis energi global yang sempat pada 2008-2009, 2014, dan 2020. Pada periode 2008-2009, ketika rata-rata harga minyak dunia melambung hingga kisaran USD130 per barel di tengah hancurnya pasar modal Amerika Serikat akibat krisis subprime mortgage.

Meski ekonomi global alami resesi, ekonomi Indonesia nyatanya tetap mampu mencetak pertumbuhan positif di level 4,6%, hal ini murni buah kebijakan bauran fiskal dan moneter sehingga Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.900-Rp16.940 per dolar AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Rekomendasi
Kang Cucun Gelar Pasar...
Kang Cucun Gelar Pasar Murah di Desa Ciheulang Ciparay
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Bonatua Silalahi Ungkap...
Bonatua Silalahi Ungkap Kejanggalan di Fotokopi Ijazah Jokowi: Tak Ada Tanggal Legalisir, Melanggar Peraturan
Berita Terkini
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Menteri PU Tinjau IPTC,...
Menteri PU Tinjau IPTC, Nindya Karya Dukung Penambahan Fasilitas Atlet Difabel
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
MANU dan Universitas...
MANU dan Universitas Jember Kolaborasi Perkuat Pengembangan SDM Pertanian
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved