Perang AS-Iran Masuk Minggu ke-5: Harga Minyak Tembus USD115/Barel, Bursa Asia Bergolak, Krisis Pangan Mengintai Dunia!
Senin, 30 Maret 2026 - 20:24 WIB
loading...
A
A
A
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melewati selat hormuz, tetapi hal ini sebagian besar telah terhenti setelah ditutup Iran hingga mendorong naiknya harga minyak mentah.
Pakar energi, Sean Foley dari Universitas Macquarie memperkirakan harga minyak masih akan terus naik, kecuali konflik mereda. "Serangan Houthi telah menimbulkan kekhawatiran bahwa kelompok bersenjata itu bisa menghentikan pengiriman energi yang melewati selat Bab al-Mandeb di dekat Yaman," kata Foley.
Pemblokiran jalur air itu bisa mempengaruhi 10% pasokan minyak dunia, "menempatkan tekanan signifikan pada rantai pasokan global," ungkap Foley.
Sedangkan Analis dari Lipow Oil Associates, Andrew Lipow memprediksi, harga Brent bisa menyentuh USD130 per barel dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini diperparah oleh ancaman blokade di Selat Bab al-Mandeb oleh kelompok Houthi, yang bisa memutus tambahan 10% pasokan minyak dunia.
"Ketakutan terbesar saya adalah perlambatan ekonomi global secara umum... karena konsumen kehabisan uang akibat pengeluaran yang membengkak untuk energi dan makanan," pungkas Lipow.
Harga Brent berada di kisaran USD72 per barel pada 27 Februari, sehari sebelum AS dan Israel menyerang Iran. Pada 18 Maret, kontrak minyak acuan mencapai USD119,50, atau level tertinggi sejak Juni 2022.
Pakar energi, Sean Foley dari Universitas Macquarie memperkirakan harga minyak masih akan terus naik, kecuali konflik mereda. "Serangan Houthi telah menimbulkan kekhawatiran bahwa kelompok bersenjata itu bisa menghentikan pengiriman energi yang melewati selat Bab al-Mandeb di dekat Yaman," kata Foley.
Pemblokiran jalur air itu bisa mempengaruhi 10% pasokan minyak dunia, "menempatkan tekanan signifikan pada rantai pasokan global," ungkap Foley.
Sedangkan Analis dari Lipow Oil Associates, Andrew Lipow memprediksi, harga Brent bisa menyentuh USD130 per barel dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini diperparah oleh ancaman blokade di Selat Bab al-Mandeb oleh kelompok Houthi, yang bisa memutus tambahan 10% pasokan minyak dunia.
"Ketakutan terbesar saya adalah perlambatan ekonomi global secara umum... karena konsumen kehabisan uang akibat pengeluaran yang membengkak untuk energi dan makanan," pungkas Lipow.
Harga Brent berada di kisaran USD72 per barel pada 27 Februari, sehari sebelum AS dan Israel menyerang Iran. Pada 18 Maret, kontrak minyak acuan mencapai USD119,50, atau level tertinggi sejak Juni 2022.
(akr)
Lihat Juga :