Penghematan BBM Didorong Melalui Efisiensi Fiskal dan Gas Domestik
Kamis, 02 April 2026 - 13:01 WIB
loading...
A
A
A
Terkait adaptasi industri, Firman berpendapat bahwa sektor manufaktur memiliki keterbatasan dalam penghematan energi jangka pendek. Menurutnya, efisiensi di sektor industri sebaiknya tidak menyentuh proses produksi utama agar output ekonomi tidak anjlok. "Industri penghematannya bukan di energi tapi di hal lain. Jika industri sampai menghemat energi, produksinya akan terkendala," ungkapnya.
Ia menambahkan penghematan di sektor industri hanya bisa dilakukan pada fasilitas pendukung di luar jalur mesin produksi. Pengaturan listrik pada area perkantoran pabrik menjadi area yang paling mungkin dilakukan penyesuaian. "Kalau proses produksi saya kira malah tidak bagus kalau dia harus dikurangi energinya," imbuhnya. Baca juga: Imbau Mobil Maksimal Isi BBM 50 Liter per Hari, Bahlil: Saya Mantan Sopir Angkot, Mohon Bijak
Strategi terakhir adalah pemberian insentif masif untuk konversi kendaraan listrik untuk mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Skema bantuan harga jual dinilai lebih diterima publik ketimbang kebijakan yang bersifat menekan atau disinsentif. "Skema insentif beralih ke kendaraan listrik itu yang pemerintah harus berani dan dipermudah," ucapnya.
Firman menilai faktor psikologis masyarakat yang cemas terhadap krisis energi global harus direspons dengan kebijakan yang meringankan. Pemberian kemudahan akses energi terbarukan akan mempercepat transisi tanpa memicu gejolak sosial. "Untuk saat ini saya kira lebih baik insentif karena psikologis masyarakat sedang cemas," tuturnya.
Ia menambahkan penghematan di sektor industri hanya bisa dilakukan pada fasilitas pendukung di luar jalur mesin produksi. Pengaturan listrik pada area perkantoran pabrik menjadi area yang paling mungkin dilakukan penyesuaian. "Kalau proses produksi saya kira malah tidak bagus kalau dia harus dikurangi energinya," imbuhnya. Baca juga: Imbau Mobil Maksimal Isi BBM 50 Liter per Hari, Bahlil: Saya Mantan Sopir Angkot, Mohon Bijak
Strategi terakhir adalah pemberian insentif masif untuk konversi kendaraan listrik untuk mengubah perilaku konsumsi masyarakat. Skema bantuan harga jual dinilai lebih diterima publik ketimbang kebijakan yang bersifat menekan atau disinsentif. "Skema insentif beralih ke kendaraan listrik itu yang pemerintah harus berani dan dipermudah," ucapnya.
Firman menilai faktor psikologis masyarakat yang cemas terhadap krisis energi global harus direspons dengan kebijakan yang meringankan. Pemberian kemudahan akses energi terbarukan akan mempercepat transisi tanpa memicu gejolak sosial. "Untuk saat ini saya kira lebih baik insentif karena psikologis masyarakat sedang cemas," tuturnya.
(poe)
Lihat Juga :