KESGI Dashboard Dorong Transparansi ESG di Pasar Modal
Selasa, 07 April 2026 - 13:55 WIB
loading...
Inisiatif KESGI Dashboard resmi diluncurkan untuk menghimpun dan menganalisis data ESG di pasar modal. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Inisiatif KESGI Dashboard resmi diluncurkan untuk menghimpun dan menganalisis data Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan tercatat di pasar saham Indonesia. Platform ini diharapkan memperkuat ekosistem ESG melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan penilaian berbasis panel ahli.
"Tanpa sektor ini sebagai pendorong baru, kelihatannya akan sulit untuk mencapai target pertumbuhan sebesar itu," kata Co-founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra dalam forum “ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi & Bisnis Hijau” di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (6/4).
Baca Juga: NHM Pulihkan 232,69 Hektar Lahan Bekas Tambang, Tegaskan Komitmen ESG
Metta menjelaskan, pengembangan KESGI didasarkan pada keyakinan bahwa ekonomi hijau dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8%. Namun, ia mengakui implementasi ESG di Indonesia masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan data kuantitatif, sumber daya manusia, serta tingginya biaya pengumpulan data.
Co-founder dan Chief Content Officer Katadata Heri Susanto menambahkan, KESGI Dashboard dirancang untuk menyederhanakan data ESG menjadi informasi yang mudah dipahami dan relevan bagi pengambilan keputusan. Platform ini mengusung metodologi berbasis standar global yang diselaraskan dengan regulasi nasional, mencakup tiga pilar ESG, 15 topik, dan lebih dari 100 indikator.
Menurut Heri, ke depan KESGI juga akan mengembangkan indeks saham berbasis ESG, yakni Katadata ESG-50 Leader Index, yang akan mengidentifikasi 50 perusahaan dengan praktik ESG terbaik di pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Transparansi Pelaporan ESG Jadi Daya Tarik Investasi Global
Deputy Head of Katadata Green Jeany Hartriani menilai, tantangan implementasi ESG di Indonesia juga terletak pada kompleksitas standar dan keterbatasan pengalaman tim. Ia menekankan bahwa ESG harus menjadi prinsip operasional perusahaan, bukan sekadar kewajiban pelaporan.
Sementara itu, Penanggung Jawab Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebutkan bahwa indeks ESG semakin menjadi acuan penting bagi investor, seiring meningkatnya minat terhadap sektor energi terbarukan dan transisi energi. Hingga Februari 2026, terdapat 72 produk reksa dana dan ETF berbasis ESG dengan dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.
"Tanpa sektor ini sebagai pendorong baru, kelihatannya akan sulit untuk mencapai target pertumbuhan sebesar itu," kata Co-founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra dalam forum “ESG untuk Akselerasi Dekarbonisasi & Bisnis Hijau” di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (6/4).
Baca Juga: NHM Pulihkan 232,69 Hektar Lahan Bekas Tambang, Tegaskan Komitmen ESG
Metta menjelaskan, pengembangan KESGI didasarkan pada keyakinan bahwa ekonomi hijau dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8%. Namun, ia mengakui implementasi ESG di Indonesia masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan data kuantitatif, sumber daya manusia, serta tingginya biaya pengumpulan data.
Co-founder dan Chief Content Officer Katadata Heri Susanto menambahkan, KESGI Dashboard dirancang untuk menyederhanakan data ESG menjadi informasi yang mudah dipahami dan relevan bagi pengambilan keputusan. Platform ini mengusung metodologi berbasis standar global yang diselaraskan dengan regulasi nasional, mencakup tiga pilar ESG, 15 topik, dan lebih dari 100 indikator.
Menurut Heri, ke depan KESGI juga akan mengembangkan indeks saham berbasis ESG, yakni Katadata ESG-50 Leader Index, yang akan mengidentifikasi 50 perusahaan dengan praktik ESG terbaik di pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Transparansi Pelaporan ESG Jadi Daya Tarik Investasi Global
Deputy Head of Katadata Green Jeany Hartriani menilai, tantangan implementasi ESG di Indonesia juga terletak pada kompleksitas standar dan keterbatasan pengalaman tim. Ia menekankan bahwa ESG harus menjadi prinsip operasional perusahaan, bukan sekadar kewajiban pelaporan.
Sementara itu, Penanggung Jawab Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebutkan bahwa indeks ESG semakin menjadi acuan penting bagi investor, seiring meningkatnya minat terhadap sektor energi terbarukan dan transisi energi. Hingga Februari 2026, terdapat 72 produk reksa dana dan ETF berbasis ESG dengan dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.
(nng)
Lihat Juga :