Sebelum Merger, PTPP Fokus Restrukturisasi dan Penguatan Bisnis Konstruksi
Selasa, 07 April 2026 - 15:00 WIB
loading...
Direktur Utama PTPP Novel Arsyad dalam acara Earnings Call Tahun Buku 2025. FOTO/Tangkapan Layar
A
A
A
JAKARTA - Kinerja keuangan yang ekspansif korporasi dan penguatan bisnis utama menjadi parameter PT PP Tbk (PTPP) dalam memperbaiki performa perseroan, sebelum akhirnya merger BUMN konstruksi dilakukan Danantara. Komitmen perbaikan ini selaras dengan kondisi keuangan periode 2025 yang mengalami tekanan akibat terfragmentasinya lini bisnis dan belum maksimalnya bisnis konstruksi.
Adapun Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,07 triliun atau naik drastis 298,99% dibandingkan rugi Rp1,52 triliun pada 2024. Kenaikan rugi ini selaras dengan penurunan pendapatan usaha korporasi, yang pada 2025 membukukan pendapatan Rp 16,27 triliun atau turun 17,87% dari Rp 19,81 triliun.
"Bagaimana kami memastikan keterbukaan penuh, evaluasi yang lebih detail sebelum merger dilakukan. BUMN konstruksi atau BUMN Karya ini harus kembali ke core bisnisnya yaitu bisnis konstruksi, dan bisnis-bisnis lainnya (di luar konstruksi) harus segera diselesaikan untuk baik itu berupa investasi," kata Direktur Utama PTPP Novel Arsyad dalam dalam acara Earnings Call tahun buku 2025, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Perkuat Momentum Awal Tahun, PTPP Raih Kontrak Baru Rp3,87 Triliun hingga Februari 2026
Soal restrukturisasi keuangan, Novel menekankan bakal dilakukan dalam waktu dekat, termasuk menghitung ulang beban bunga pinjaman. Seturut itu, perseroan juga terus memastikan penagihan-penagihan piutang yang saat ini masih berjalan. Upaya restrukturisasi ini, juga menyasar bagaimana divestasi di PP infrastruktur, dan juga anak usaha perseroan di PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA).
Adapun Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,07 triliun atau naik drastis 298,99% dibandingkan rugi Rp1,52 triliun pada 2024. Kenaikan rugi ini selaras dengan penurunan pendapatan usaha korporasi, yang pada 2025 membukukan pendapatan Rp 16,27 triliun atau turun 17,87% dari Rp 19,81 triliun.
"Bagaimana kami memastikan keterbukaan penuh, evaluasi yang lebih detail sebelum merger dilakukan. BUMN konstruksi atau BUMN Karya ini harus kembali ke core bisnisnya yaitu bisnis konstruksi, dan bisnis-bisnis lainnya (di luar konstruksi) harus segera diselesaikan untuk baik itu berupa investasi," kata Direktur Utama PTPP Novel Arsyad dalam dalam acara Earnings Call tahun buku 2025, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Perkuat Momentum Awal Tahun, PTPP Raih Kontrak Baru Rp3,87 Triliun hingga Februari 2026
Soal restrukturisasi keuangan, Novel menekankan bakal dilakukan dalam waktu dekat, termasuk menghitung ulang beban bunga pinjaman. Seturut itu, perseroan juga terus memastikan penagihan-penagihan piutang yang saat ini masih berjalan. Upaya restrukturisasi ini, juga menyasar bagaimana divestasi di PP infrastruktur, dan juga anak usaha perseroan di PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA).
Lihat Juga :