Kurs Rupiah Membaik Diterpa Gencatan Senjata AS-Iran
Rabu, 08 April 2026 - 16:23 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (8/4/2026), naik 93 poin atau sekitar 0,54%. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (8/4/2026), naik 93 poin atau sekitar 0,54% ke level Rp17.012 per dolar AS. Pergerakan positif mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini bertengger di posisi Rp17.009/USD atau membaik dari sesi sebelumnya Rp17.092.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa sentimen datang dari Presiden Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata. Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa ia akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan bahwa AS telah mencapai tujuan militer intinya.
"Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sebelumnya pada hari itu, Trump telah memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran gagal mematuhi kesepakatan tersebut. Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.100 per Dolar AS, Menko Airlangga Singgung Mata Uang Lain
Gencatan senjata yang ditengahi oleh Pakistan setelah upaya diplomatik menit-menit terakhir, bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat secara aman, jalur utama bagi sekitar 20% aliran minyak global.
Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan bahwa jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Selain itu para pelaku pasar juga menantikan laporan indeks harga konsumen (CPI) AS bulan Maret yang akan dirilis pada hari Jumat, yang diharapkan memberikan indikasi jelas pertama tentang dampak lonjakan harga energi baru-baru ini.
Para ekonom memperkirakan inflasi utama akan meningkat secara bulanan, sebagian besar didorong oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang berpotensi mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve.
Dari sentimen domestik, pasar merespon positif terhadap realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, atau meningkat 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Realisasi tersebut setara dengan 18,2% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.100, Purbaya Serahkan ke BI: Saya Percaya Dia Bisa Betulin
Capaian tersebut didukung oleh kinerja penerimaan pajak pada triwulan I 2026 yang keseluruhan tumbuh kuat, baik secara bruto maupun neto, dengan realisasi bulanan yang konsisten dan meningkat sejak awal tahun. Secara total, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, atau meningkat 14,3 yoy, yang terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sejumlah Rp67,9 triliun.
Pajak Penghasilan (PPh) Badan terkumpul sebesar Rp43,3 triliun (naik 5,4% yoy); PPh Orang Pribadi dan PPh 21 Rp61,3 triliun (naik 15,8% yoy); dan PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 Rp76,7 triliun (naik 5,1% yoy).
Sementara Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) tercatat Rp155,6 triliun, atau melonjak 57,7% yoy; serta pajak lainnya mencapai Rp57,9 triliun, atau terkontraksi 5,7% yoy.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun (turun 12,6% yoy), yang terdiri dari cukai Rp51 triliun (turun 11,2% yoy), bea keluar Rp5,4 triliun (turun 38,9% yoy), serta bea masuk Rp11,5 triliun (naik 0,9% yoy).
Selain itu, pendapatan negara per akhir Maret juga berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun serta hibah senilai Rp100 miliar.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.010-Rp17.040 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa sentimen datang dari Presiden Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata. Trump mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa ia akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan bahwa AS telah mencapai tujuan militer intinya.
"Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sebelumnya pada hari itu, Trump telah memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran gagal mematuhi kesepakatan tersebut. Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.100 per Dolar AS, Menko Airlangga Singgung Mata Uang Lain
Gencatan senjata yang ditengahi oleh Pakistan setelah upaya diplomatik menit-menit terakhir, bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat secara aman, jalur utama bagi sekitar 20% aliran minyak global.
Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan bahwa jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Selain itu para pelaku pasar juga menantikan laporan indeks harga konsumen (CPI) AS bulan Maret yang akan dirilis pada hari Jumat, yang diharapkan memberikan indikasi jelas pertama tentang dampak lonjakan harga energi baru-baru ini.
Para ekonom memperkirakan inflasi utama akan meningkat secara bulanan, sebagian besar didorong oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang berpotensi mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve.
Dari sentimen domestik, pasar merespon positif terhadap realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, atau meningkat 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Realisasi tersebut setara dengan 18,2% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.100, Purbaya Serahkan ke BI: Saya Percaya Dia Bisa Betulin
Capaian tersebut didukung oleh kinerja penerimaan pajak pada triwulan I 2026 yang keseluruhan tumbuh kuat, baik secara bruto maupun neto, dengan realisasi bulanan yang konsisten dan meningkat sejak awal tahun. Secara total, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, atau meningkat 14,3 yoy, yang terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sejumlah Rp67,9 triliun.
Pajak Penghasilan (PPh) Badan terkumpul sebesar Rp43,3 triliun (naik 5,4% yoy); PPh Orang Pribadi dan PPh 21 Rp61,3 triliun (naik 15,8% yoy); dan PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 Rp76,7 triliun (naik 5,1% yoy).
Sementara Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) tercatat Rp155,6 triliun, atau melonjak 57,7% yoy; serta pajak lainnya mencapai Rp57,9 triliun, atau terkontraksi 5,7% yoy.
Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun (turun 12,6% yoy), yang terdiri dari cukai Rp51 triliun (turun 11,2% yoy), bea keluar Rp5,4 triliun (turun 38,9% yoy), serta bea masuk Rp11,5 triliun (naik 0,9% yoy).
Selain itu, pendapatan negara per akhir Maret juga berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun serta hibah senilai Rp100 miliar.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.010-Rp17.040 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :