Stok Batu Bara Pembangkit PLN Tahan 15,9 Hari, Pasokan LNG 12 Hari
Senin, 13 April 2026 - 20:51 WIB
loading...
PT PLN (Persero) memastikan ketahanan pasokan energi untuk pembangkit listrik tetap terjaga. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT PLN (Persero) memastikan ketahanan pasokan energi untuk pembangkit listrik tetap terjaga dengan cadangan batu bara mencapai 15,9 Hari Operasi Pembangkit (HOP) per April 2026. Sementara itu, stok gas alam cair (LNG) tercatat mampu menopang operasional pembangkit hingga 12 hari.
"Ini mencerminkan kondisi pasokan batu bara yang aman," ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Listrik di Sejumlah Kawasan Jakarta Padam, PLN: Gangguan di Beberapa Gardu Induk
Darmawan menjelaskan distribusi stok batu bara di berbagai wilayah relatif bervariasi. Wilayah Sumatra mencatat ketersediaan sebesar 16,23 HOP, sementara sistem Jawa, Madura, dan Bali berada di kisaran 10,31 HOP.
Untuk Kalimantan memiliki cadangan batu bara sebesar 22,47 HOP, Sulawesi sekitar 13,2 HOP, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mencapai 14,59 HOP. Di kawasan timur, stok di Ternate dan Tidore mencapai 27,28 HOP, bahkan Jayapura mencatat cadangan tertinggi hingga 47,95 HOP.
Selain batu bara, PLN juga memastikan ketersediaan LNG dalam kondisi terkendali. Darmawan menyebut rata-rata cadangan gas saat ini mencapai 12 hari operasi, dengan pengiriman yang telah terjadwal dengan baik. "Secara umum pengiriman LNG sudah terjadwal dan tidak ada kendala," katanya.
Ketahanan pasokan LNG tersebut didukung oleh optimalisasi infrastruktur seperti Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dan terminal gas di berbagai wilayah. FSRU Jawa Barat tercatat memiliki cadangan 4,70 HOP, FSRU Lampung 4,10 HOP, serta FSRU Benoa 4,50 HOP.
Baca Juga: WFH Makin Nyaman dengan PLN Mobile, Akses Beragam Layanan Kelistrikan dalam Satu Genggaman
Sementara, Terminal Arun memiliki cadangan 6,40 HOP, FSRU Jawa-1 mencapai 27 HOP, dan FSRU Gorontalo mencatat stok tertinggi sebesar 29,20 HOP. PLN menegaskan kesiapan infrastruktur ini menjadi kunci dalam menjaga keandalan pasokan energi nasional.
Adapun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan 76% tambahan kapasitas pembangkit berasal dari energi baru terbarukan. Meski demikian, PLN masih merencanakan penambahan PLTU batu bara sebesar 6,3 GW guna menjaga efisiensi biaya dan kebutuhan beban dasar selama masa transisi energi.
"Ini mencerminkan kondisi pasokan batu bara yang aman," ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Listrik di Sejumlah Kawasan Jakarta Padam, PLN: Gangguan di Beberapa Gardu Induk
Darmawan menjelaskan distribusi stok batu bara di berbagai wilayah relatif bervariasi. Wilayah Sumatra mencatat ketersediaan sebesar 16,23 HOP, sementara sistem Jawa, Madura, dan Bali berada di kisaran 10,31 HOP.
Untuk Kalimantan memiliki cadangan batu bara sebesar 22,47 HOP, Sulawesi sekitar 13,2 HOP, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mencapai 14,59 HOP. Di kawasan timur, stok di Ternate dan Tidore mencapai 27,28 HOP, bahkan Jayapura mencatat cadangan tertinggi hingga 47,95 HOP.
Selain batu bara, PLN juga memastikan ketersediaan LNG dalam kondisi terkendali. Darmawan menyebut rata-rata cadangan gas saat ini mencapai 12 hari operasi, dengan pengiriman yang telah terjadwal dengan baik. "Secara umum pengiriman LNG sudah terjadwal dan tidak ada kendala," katanya.
Ketahanan pasokan LNG tersebut didukung oleh optimalisasi infrastruktur seperti Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) dan terminal gas di berbagai wilayah. FSRU Jawa Barat tercatat memiliki cadangan 4,70 HOP, FSRU Lampung 4,10 HOP, serta FSRU Benoa 4,50 HOP.
Baca Juga: WFH Makin Nyaman dengan PLN Mobile, Akses Beragam Layanan Kelistrikan dalam Satu Genggaman
Sementara, Terminal Arun memiliki cadangan 6,40 HOP, FSRU Jawa-1 mencapai 27 HOP, dan FSRU Gorontalo mencatat stok tertinggi sebesar 29,20 HOP. PLN menegaskan kesiapan infrastruktur ini menjadi kunci dalam menjaga keandalan pasokan energi nasional.
Adapun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan 76% tambahan kapasitas pembangkit berasal dari energi baru terbarukan. Meski demikian, PLN masih merencanakan penambahan PLTU batu bara sebesar 6,3 GW guna menjaga efisiensi biaya dan kebutuhan beban dasar selama masa transisi energi.
(nng)
Lihat Juga :