Lawan Blokade Barat, Dua Raksasa BRICS Perkuat Poros Eurasia di Tengah Krisis Hormuz

Rabu, 15 April 2026 - 09:49 WIB
loading...
Lawan Blokade Barat,...
Dua raksasa BRICS menandai penguatan kemitraan tanpa batas di tengah upaya Barat yang kian agresif. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Dua raksasa BRICS menandai penguatan kemitraan 'tanpa batas' di tengah upaya Barat yang kian agresif untuk meredam pengaruh Moskow dan Beijing. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Menlu China, Wang Y yang memfokuskan pada sejumlah isu prioritas tinggi dan regional, termasuk situasi di Timur Tengah dan krisis Ukraina.

Fokus utama pembicaraan kedua diplomat senior ini mencakup koordinasi di forum multilateral seperti PBB, BRICS, G20, dan SCO. Dalam pernyataan pembukanya, Lavrov menegaskan bahwa fondasi hubungan internasional saat ini sedang diuji secara ekstrem oleh tindakan sepihak negara-negara Barat.

Ia menyoroti krisis di Amerika Latin, Venezuela, dan Timur Tengah sebagai bukti nyata tantangan tersebut. Menurutnya ada upaya membentuk struktur geometri kecil seperti blok untuk membendung pengaruh China maupun Rusia," tegasnya.

Baca Juga: Profesor AS: Hanya Tiga Orang Dewasa Ini yang Bisa Hentikan Perang Iran, Bukan Donald Trump!

"Eurasia sedang menghadapi berbagai krisis yang diciptakan secara artifisial. Di Barat, konflik Ukraina dimanfaatkan untuk membentuk blok agresif baru yang mengincar Rusia. Sementara di Timur, 'permainan berbahaya' serupa terjadi di sekitar Taiwan dan Laut China Selatan untuk membendung kemajuan China," tegas Lavrov seperti dilansir Rabu (15/4/2026).

Rusia dan China Respons Krisis Timur Tengah

Beijing, sebagai importir minyak terbesar dari Timur Tengah, memberikan kecaman keras terhadap tindakan Amerika Serikat di Selat Hormuz. China menilai kebijakan AS yang menghambat lalu lintas maritim di jalur vital tersebut sebagai tindakan "berbahaya dan tidak bertanggung jawab."

“China mendesak semua pihak untuk mematuhi aturan gencatan senjata dan memulihkan lalu lintas normal di selat sesegera mungkin,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.



China khawatir blokade ini akan merusak situasi gencatan senjata yang sudah sangat rapuh antara AS-Israel dan Iran. Di sisi lain menariknya, kunjungan Lavrov bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, yang juga diterima oleh Presiden Xi Jinping.

Baca Juga: Prabowo Terima Kasih ke Putin Bantu Indonesia Masuk BRICS

Sanchez dikenal sebagai salah satu dari sedikit pemimpin Barat yang vokal menentang agresi AS-Israel terhadap Iran. Presiden Xi memuji sikap Spanyol sebagai negara yang "menghargai prinsip dan keadilan."

Kehadiran pemimpin Spanyol di tengah kunjungan delegasi Rusia ini memberikan sinyal adanya pergeseran opini di Eropa terkait kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.

Pertemuan Lavrov dan Wang Yi juga menghasilkan penandatanganan peta jalan (roadmap) kerja sama antar kementerian untuk tahun 2026. Langkah ini dipandang luas sebagai persiapan teknis untuk kunjungan kenegaraan Presiden Vladimir Putin ke Beijing yang dijadwalkan berlangsung akhir tahun ini.

“Saya tidak ragu bahwa tahun ini kita akan memiliki peluang lebih lanjut untuk mempersiapkan solusi tambahan bagi kontak masa depan antara pemimpin kita,” ungkap Lavrov sebagai sinyal kuat akan adanya pertemuan puncak Putin-Xi Jinping.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
Harga Minyak Kembali...
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
3 Alasan Iran Serang...
3 Alasan Iran Serang Kuwait dan Bahrain, Ada Pergerakan Membantu Militer AS
Rekomendasi
Pinkan Mambo dan Arya...
Pinkan Mambo dan Arya Khan Bikin Geger dengan Resepsi Pernikahan Super Mewah di Mal
Truk Tabrak Motor di...
Truk Tabrak Motor di Bekasi Timur: 1 Orang Tewas, 5 Luka-luka
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Berita Terkini
Tips MotionTrade: 4...
Tips MotionTrade: 4 Langkah Wajib Saat Terindikasi Penipuan Investasi
Tok, Pemerintah Resmi...
Tok, Pemerintah Resmi Turunkan Harga Gas Industri Jadi USD13/MMBTU
IHSG Jeblok Nyaris 1%...
IHSG Jeblok Nyaris 1% ke 5.838 Siang Ini, Ratusan Saham Merana
Mentan Amran Kumpulkan...
Mentan Amran Kumpulkan Civitas Akademika UGM, Percepat Inovasi dan Hilirisasi Pertanian
Demi Jaga Pasokan Listrik,...
Demi Jaga Pasokan Listrik, Kebijakan DMO dan RKAB Perlu Dievaluasi
Indonesia Bakal Ciptakan...
Indonesia Bakal Ciptakan BBM Baru E20, Butuh 4 Juta KL Etanol per Tahun
Infografis
Rencana Menteri Israel...
Rencana Menteri Israel untuk Lenyapkan Palestina di Tepi Barat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved