Menyoroti Pergeseran Peran Tenaga Kerja di Tengah Perkembangan Kebutuhan Lintas Industri
Rabu, 22 April 2026 - 21:12 WIB
loading...
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, di Indonesia mencatat perkembangan kebutuhan tenaga kerja lintas industri. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Sepanjang 2025 hingga awal 2026, Staffinc, perusahaan penyedia solusi ketenagakerjaan di Indonesia mencatat perkembangan kebutuhan tenaga kerja lintas industri . Hal ini ditandai dengan penguatan kapabilitas di sektor Fast-Moving Consumer Good (FMCG) serta meningkatnya tuntutan terhadap kualitas dan kesiapan tenaga kerja.
Tren ini mencerminkan pergeseran kebutuhan bisnis, di mana tenaga kerja tidak lagi hanya dituntut siap kerja, tetapi juga mampu mendorong kinerja secara langsung. Fenomena ini sejalan dengan laporan World Economic Forum bertajuk “The Future of Jobs Report 2023” menunjukkan bahwa sekitar 44% keterampilan pekerja perlu diperbaharui dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Kondisi Ketenagakerjaan RI Lampu Kuning, 1,5 Juta Calon Pekerja Tak Terserap Setiap Tahun
Mendorong perusahaan untuk semakin fokus pada tenaga kerja yang adaptif, produktif, dan mampu berkontribusi langsung terhadap hasil bisnis. Kompleksitas operasional yang semakin tinggi, mulai dari distribusi multi-channel hingga tuntutan kecepatan dan konsistensi layanan, juga membuat perusahaan membutuhkan visibilitas yang lebih kuat terhadap performa tenaga kerja di lapangan.
Fokus Staffinc di 2026
Menanggapi tren tersebut, Staffinc menyiapkan sejumlah fokus strategis untuk 2026, mulai dari penguatan pengukuran kinerja tenaga kerja hingga integrasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses rekrutmen. Hal ini disampaikan dalam acara buka bersama pada Maret lalu di Ritz-Carlton Jakarta yang dihadiri oleh lebih dari 200 mitra industri Staffinc dari berbagai sektor seperti PT HM Sampoerna Tbk., LG, dan Coca-Cola Europacific.
“Banyak perusahaan masih melihat tenaga kerja sebagai kebutuhan operasional. Padahal, di lapangan mereka adalah faktor penentu eksekusi yang berdampak langsung pada hasil bisnis. Ke depan, tantangannya bukan hanya soal ketersediaan tenaga kerja, tetapi bagaimana memastikan kualitas dan konsistensi kinerja mereka,” ujar Chief Commercial Officer Staffinc, Margana Mohamad.
![Menyoroti Pergeseran Peran Tenaga Kerja di Tengah Perkembangan Kebutuhan Lintas Industri]()
Sepanjang periode tersebut, Staffinc juga melihat adanya pergeseran kebutuhan dari klien yang semakin menekankan pada kualitas eksekusi dan kontribusi tenaga kerja terhadap produktivitas. Hal ini mendorong pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penempatan, tetapi juga pada bagaimana kinerja tenaga kerja dapat diukur dan dikaitkan langsung dengan efisiensi operasional.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Staffinc mengembangkan sistem AI Interviewer yaitu teknologi berbasis AI yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan konsistensi dalam proses seleksi kandidat. Pengembangan ini sejalan dengan tren global dalam pemanfaatan AI di fungsi sumber daya manusia. Sistem ini terbukti meningkatkan kapasitas proses wawancara kandidat secara signifikan dibandingkan dengan metode manual.
Baca Juga: Separuh Pengusaha RI Setop Ekspansi 5 Tahun ke Depan, Lapangan Kerja Terancam Lesu
Jika secara konvensional satu recruiter hanya dapat mewawancarai sekitar 5-10 kandidat per hari, teknologi ini memungkinkan proses tersebut dilakukan dalam skala yang jauh lebih besar, hingga ratusan bahkan ribuan kandidat dalam satu hari tanpa keterbatasan waktu dan kapasitas. Dengan pendekatan ini, perusahaan diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja secara lebih presisi, sekaligus mengurangi potensi bottleneck dalam operasional.
Di sisi lain, Staffinc juga akan memperkuat kolaborasi dengan mitra industri melalui berbagai program engagement sepanjang 2026, termasuk diskusi terbatas lintas sektor, sesi komunitas, hingga forum kepemimpinan yang membahas tren dan praktik terbaik dalam pengelolaan tenaga kerja.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Staffinc berencana menghadirkan Staffinc Industry Center yang akan mulai beroperasi pada kuartal kedua 2026. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi mitra industri untuk berbagi insight, mendiskusikan tantangan operasional, serta mengembangkan pendekatan baru dalam pengelolaan tenaga kerja.
Melalui berbagai langkah ini, Staffinc menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berperan sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem pengelolaan tenaga kerja yang lebih terhubung, berbasis data, dan berorientasi pada kinerja.
Tren ini mencerminkan pergeseran kebutuhan bisnis, di mana tenaga kerja tidak lagi hanya dituntut siap kerja, tetapi juga mampu mendorong kinerja secara langsung. Fenomena ini sejalan dengan laporan World Economic Forum bertajuk “The Future of Jobs Report 2023” menunjukkan bahwa sekitar 44% keterampilan pekerja perlu diperbaharui dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Kondisi Ketenagakerjaan RI Lampu Kuning, 1,5 Juta Calon Pekerja Tak Terserap Setiap Tahun
Mendorong perusahaan untuk semakin fokus pada tenaga kerja yang adaptif, produktif, dan mampu berkontribusi langsung terhadap hasil bisnis. Kompleksitas operasional yang semakin tinggi, mulai dari distribusi multi-channel hingga tuntutan kecepatan dan konsistensi layanan, juga membuat perusahaan membutuhkan visibilitas yang lebih kuat terhadap performa tenaga kerja di lapangan.
Fokus Staffinc di 2026
Menanggapi tren tersebut, Staffinc menyiapkan sejumlah fokus strategis untuk 2026, mulai dari penguatan pengukuran kinerja tenaga kerja hingga integrasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses rekrutmen. Hal ini disampaikan dalam acara buka bersama pada Maret lalu di Ritz-Carlton Jakarta yang dihadiri oleh lebih dari 200 mitra industri Staffinc dari berbagai sektor seperti PT HM Sampoerna Tbk., LG, dan Coca-Cola Europacific.
“Banyak perusahaan masih melihat tenaga kerja sebagai kebutuhan operasional. Padahal, di lapangan mereka adalah faktor penentu eksekusi yang berdampak langsung pada hasil bisnis. Ke depan, tantangannya bukan hanya soal ketersediaan tenaga kerja, tetapi bagaimana memastikan kualitas dan konsistensi kinerja mereka,” ujar Chief Commercial Officer Staffinc, Margana Mohamad.

Sepanjang periode tersebut, Staffinc juga melihat adanya pergeseran kebutuhan dari klien yang semakin menekankan pada kualitas eksekusi dan kontribusi tenaga kerja terhadap produktivitas. Hal ini mendorong pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penempatan, tetapi juga pada bagaimana kinerja tenaga kerja dapat diukur dan dikaitkan langsung dengan efisiensi operasional.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Staffinc mengembangkan sistem AI Interviewer yaitu teknologi berbasis AI yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan konsistensi dalam proses seleksi kandidat. Pengembangan ini sejalan dengan tren global dalam pemanfaatan AI di fungsi sumber daya manusia. Sistem ini terbukti meningkatkan kapasitas proses wawancara kandidat secara signifikan dibandingkan dengan metode manual.
Baca Juga: Separuh Pengusaha RI Setop Ekspansi 5 Tahun ke Depan, Lapangan Kerja Terancam Lesu
Jika secara konvensional satu recruiter hanya dapat mewawancarai sekitar 5-10 kandidat per hari, teknologi ini memungkinkan proses tersebut dilakukan dalam skala yang jauh lebih besar, hingga ratusan bahkan ribuan kandidat dalam satu hari tanpa keterbatasan waktu dan kapasitas. Dengan pendekatan ini, perusahaan diharapkan dapat mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja secara lebih presisi, sekaligus mengurangi potensi bottleneck dalam operasional.
Di sisi lain, Staffinc juga akan memperkuat kolaborasi dengan mitra industri melalui berbagai program engagement sepanjang 2026, termasuk diskusi terbatas lintas sektor, sesi komunitas, hingga forum kepemimpinan yang membahas tren dan praktik terbaik dalam pengelolaan tenaga kerja.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Staffinc berencana menghadirkan Staffinc Industry Center yang akan mulai beroperasi pada kuartal kedua 2026. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi mitra industri untuk berbagi insight, mendiskusikan tantangan operasional, serta mengembangkan pendekatan baru dalam pengelolaan tenaga kerja.
Melalui berbagai langkah ini, Staffinc menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berperan sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem pengelolaan tenaga kerja yang lebih terhubung, berbasis data, dan berorientasi pada kinerja.
(akr)
Lihat Juga :