IHSG Oversold! Jangan Panik, Bursa Pekan Ini Diproyeksi Menguji 7.100-7.150
Senin, 27 April 2026 - 07:54 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, pasar mulai mengantisipasi arah kebijakan Federal Reserve yang cenderung lebih ketat (hawkish) seiring dengan tingginya harga energi.
"Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek," jelas Brigita.
Baca Juga: Deretan Saham Paling Boncos dalam Sepekan, Big Caps Tekan IHSG
Dari dalam negeri, sentimen negatif bertambah seiring dengan keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Hal ini memicu aksi jual bersih (net sell) investor asing yang sangat masif, di mana secara akumulatif telah mencapai Rp42,8 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date).
Pelemahan ini juga diperparah oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi per 18 April lalu yang diperkirakan akan memberikan tekanan pada inflasi jangka pendek serta daya beli masyarakat. Meski Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% untuk menjaga stabilitas, pasar tetap bersikap hati-hati.
"Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi drastis hingga menyentuh All Time Low di Rp17.315/USD akibat derasnya aliran modal keluar (outflow) yang masif dari pasar keuangan domestik," tegas Brigita.
"Tanpa adanya de-eskalasi, pasar mulai mengantisipasi potensi pengetatan suplai yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini berisiko menahan penurunan inflasi global dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek," jelas Brigita.
Baca Juga: Deretan Saham Paling Boncos dalam Sepekan, Big Caps Tekan IHSG
Dari dalam negeri, sentimen negatif bertambah seiring dengan keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Hal ini memicu aksi jual bersih (net sell) investor asing yang sangat masif, di mana secara akumulatif telah mencapai Rp42,8 triliun sepanjang tahun berjalan (year-to-date).
Pelemahan ini juga diperparah oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi per 18 April lalu yang diperkirakan akan memberikan tekanan pada inflasi jangka pendek serta daya beli masyarakat. Meski Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% untuk menjaga stabilitas, pasar tetap bersikap hati-hati.
"Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi drastis hingga menyentuh All Time Low di Rp17.315/USD akibat derasnya aliran modal keluar (outflow) yang masif dari pasar keuangan domestik," tegas Brigita.
Lihat Juga :