Kolaborasi LIXIL Membuka Perspektif Baru Mendesain Ruang Hidup yang Lebih Baik
Selasa, 28 April 2026 - 13:36 WIB
loading...
Paviliun OASE: Architecture in the Water Cycle yang dihadirkan LIXIL dalam ajang ARCH:ID 2026 tampil sebagai manifestasi yang membuktikan perspektif dan standar baru. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
JAKARTA - LIXIL, perusahaan global pelopor solusi air dan hunian berkelanjutan, terus memperkuat peran sebagai mitra strategis bagi arsitek, developer, desain interior , serta para profesional di ekosistem industri. Melalui berbagai inisiatif kolaboratif, LIXIL membuka ruang pertukaran wawasan serta memfasilitasi sinergi lintas disiplin agar para pelaku industri dapat saling mendukung dan berkembang.
Dengan mengambil peran aktif sebagai penggerak, LIXIL membukakan perspektif baru bahwa kualitas ruang hidup tidak lagi dapat dibangun secara terpisah, melainkan membutuhkan integrasi antara desain, riset, inovasi, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu keberlanjutan. Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara mengatakan, kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik.
Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional. ”Melalui sinergi kita dapat menghadirkan solusi yang lebih adaptif. Inilah komitmen yang terus LIXIL dorong bersama ekosistem industri dalam visi dan misi making better homes a reality for everyone, everywhere,” katanya, Selasa (28/4/2026). Baca juga: Prodi Arsitektur Universitas Budi Luhur Raih Juara Sayembara Desain Gerbang DKI Jakarta 2025
Paviliun “OASE: Architecture in the Water Cycle” yang dihadirkan LIXIL dalam ajang ARCH:ID 2026 tampil sebagai manifestasi nyata dari visi ini. Arsitektur, data lingkungan dan sosial, narasi visual, hingga desain lanskap bersatu dan saling terhubung.
Kolaborasi strategis bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio sejak tahap inisiasi sukses mentransformasi paviliun OASE menjadi ruang eksplorasi yang mendalam. Pertemuan berbagai disiplin ilmu berhasil menerjemahkan relasi antara air, sanitasi, dan sejarah perkotaan ke dalam sebuah pengalaman ruang yang nyata serta edukatif bagi publik.
Founder Mamostudio, Adi Purnomo menjelaskan, paviliun ini lahir dari intensi yang sederhana namun kuat, yaitu merespons isu air dan ruang hidup melalui pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif.
Ia menyebut kolaborasi ini bermula dari pertemuan awal dengan LIXIL, di mana visi berbagai pihak langsung terasa sejalan. OASE menjadi katalisator yang membawa diskusi mengenai air dan arsitektur ke ranah yang lebih luas.
Lebih lanjut, Adi mengapresiasi komitmen kuat LIXIL yang tidak hanya menghadirkan produk berkualitas, tetapi juga menyediakan wadah pertukaran gagasan dan pengetahuan di ekosistem industri. “Core dari paviliun ini sebenarnya adalah penelitian. Ruang ini hanya sebuah representasi dari perhatian kita terhadap satu isu tertentu yang sedang dihadapi di kota kita,” ujarnya.
Researcher Labtek Apung, Novita Anggraini memaparkan, riset yang diintegrasikan dalam paviliun ini juga dikembangkan secara lintas disiplin dengan melibatkan berbagai keahlian. Mulai dari ilmu kimia, lingkungan, sejarah, arkeologi, hingga teknik lingkungan dan perencanaan kota.
Melalui dukungan LIXIL, riset mengenai sejarah sanitasi dan perkembangan peradaban kota. Yang sebelumnya memiliki akses terbatas, kini dapat direfleksikan kepada publik secara lebih luas.
Novita menjelaskan pada masa kolonial Belanda, Batavia sempat menghadapi krisis serius berupa banjir dan wabah penyakit akibat ketergantungan masyarakat pada sungai dan kanal yang menjadi pusat aktivitas domestik hingga bisnis. Kondisi tersebut begitu krusial hingga mendorong para insinyur Eropa merancang ulang tata kota, berpindah dari Old Batavia menuju New Batavia yang kini menjadi pusat kota Jakarta.
Dari situ bisa melihat bahwa persoalan sanitasi dapat mempengaruhi tatanan sosial masyarakat. Sejarah ketergantungan terhadap air dan sanitasi sudah terlihat sejak dulu dalam perjalanan sebuah kota.
Menurutnya, riset ini telah dimulai sejak 2015 dan sebelumnya telah dipresentasikan dalam konferensi internasional di Singapura dan Jerman, namun akses publik di Indonesia masih sangat terbatas. ”Ketika bertemu dengan LIXIL, ini seperti oase. Sebuah riset bertemu dengan ekosistemnya. Semoga paviliun ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk merefleksikan perjalanan kita sebagai sebuah peradaban yang terus merespons perkembangan zaman,” ujarnya.
Keberhasilan LIXIL menghadirkan konsep yang kuat, ruang pamer yang inspiratif, serta pengalaman kreatif dan edukatif yang menyeluruh sukses menjadikan Paviliun OASE sebagai salah satu sorotan utama di ARCH:ID 2026, sekaligus memperoleh pengakuan dalam Best Booth Award ARCH:ID 2026. Melalui paviliun OASE, LIXIL membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan perspektif baru yang lebih menginspirasi, adaptif dan relevan terhadap tantangan ruang hidup saat ini.
Masa Depan Ekosistem Arsitek Indonesia
LIXIL juga terus berperan aktif sebagai katalisator perubahan melalui rangkaian inisiatif perusahaan. Di antaranya LADC (LIXIL Architectural Design Competition) dan LDAD (LIXIL Day of Architecture & Design).
“Kedua platform merupakan program inisiasi kami sejak tahun 2019 yang dirancang untuk memperluas ruang dialog, akses eksplorasi ide, serta membangun standar baru dalam cara arsitek berpikir, mendesain, dan membentuk ruang hidup yang lebih baik,” jelasnya. Baca juga: BPS Ungkap Hampir Separuh Penduduk Jakarta Belum Punya Rumah Sendiri
Kesempatan berpartisipasi dalam LADC 2026 akan dibuka mulai 18 Mei-5 Juli 2026. Kompetisi ini menghadirkan jajaran juri prestisius, antara lain Andra Matin (Founder, AndraMatin Studio), Gregorius Supie (Founder, Yolodi+Maria Architects), dan Richard Wood (Managing Partner Asia, Snøhetta).
Proses penjurian akan melalui dua tahap penilaian intensif untuk menentukan Top 5 finalist sebelum akhirnya memilih pemenang utama. Puncak kompetisi dan pengumuman pemenang nantinya akan diselenggarakan secara resmi dalam sesi awarding yang menjadi bagian dari rangkaian agenda LDAD 2026. LDAD 2026 sendiri direncanakan berlangsung pada 12 Agustus 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Forum dialog ini siap menjadi titik temu strategis bagi arsitek, interior designer, design professionals, hingga mahasiswa. Terbuka untuk umum tanpa biaya, LDAD 2026 akan menghadirkan narasumber kelas dunia, termasuk Patrik Schumacher (Principal, Zaha Hadid Architects), Richard Wood (Managing Partner Asia, Snøhetta), serta tokoh arsitektur nasional Andra Matin (Founder, AndraMatin Studio), dan Gregorius Supie (Founder, Yolodi+Maria Architects).
Dengan mengambil peran aktif sebagai penggerak, LIXIL membukakan perspektif baru bahwa kualitas ruang hidup tidak lagi dapat dibangun secara terpisah, melainkan membutuhkan integrasi antara desain, riset, inovasi, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap isu keberlanjutan. Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara mengatakan, kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik.
Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional. ”Melalui sinergi kita dapat menghadirkan solusi yang lebih adaptif. Inilah komitmen yang terus LIXIL dorong bersama ekosistem industri dalam visi dan misi making better homes a reality for everyone, everywhere,” katanya, Selasa (28/4/2026). Baca juga: Prodi Arsitektur Universitas Budi Luhur Raih Juara Sayembara Desain Gerbang DKI Jakarta 2025
Paviliun “OASE: Architecture in the Water Cycle” yang dihadirkan LIXIL dalam ajang ARCH:ID 2026 tampil sebagai manifestasi nyata dari visi ini. Arsitektur, data lingkungan dan sosial, narasi visual, hingga desain lanskap bersatu dan saling terhubung.
Kolaborasi strategis bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio sejak tahap inisiasi sukses mentransformasi paviliun OASE menjadi ruang eksplorasi yang mendalam. Pertemuan berbagai disiplin ilmu berhasil menerjemahkan relasi antara air, sanitasi, dan sejarah perkotaan ke dalam sebuah pengalaman ruang yang nyata serta edukatif bagi publik.
Founder Mamostudio, Adi Purnomo menjelaskan, paviliun ini lahir dari intensi yang sederhana namun kuat, yaitu merespons isu air dan ruang hidup melalui pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif.
Ia menyebut kolaborasi ini bermula dari pertemuan awal dengan LIXIL, di mana visi berbagai pihak langsung terasa sejalan. OASE menjadi katalisator yang membawa diskusi mengenai air dan arsitektur ke ranah yang lebih luas.
Lebih lanjut, Adi mengapresiasi komitmen kuat LIXIL yang tidak hanya menghadirkan produk berkualitas, tetapi juga menyediakan wadah pertukaran gagasan dan pengetahuan di ekosistem industri. “Core dari paviliun ini sebenarnya adalah penelitian. Ruang ini hanya sebuah representasi dari perhatian kita terhadap satu isu tertentu yang sedang dihadapi di kota kita,” ujarnya.
Researcher Labtek Apung, Novita Anggraini memaparkan, riset yang diintegrasikan dalam paviliun ini juga dikembangkan secara lintas disiplin dengan melibatkan berbagai keahlian. Mulai dari ilmu kimia, lingkungan, sejarah, arkeologi, hingga teknik lingkungan dan perencanaan kota.
Melalui dukungan LIXIL, riset mengenai sejarah sanitasi dan perkembangan peradaban kota. Yang sebelumnya memiliki akses terbatas, kini dapat direfleksikan kepada publik secara lebih luas.
Novita menjelaskan pada masa kolonial Belanda, Batavia sempat menghadapi krisis serius berupa banjir dan wabah penyakit akibat ketergantungan masyarakat pada sungai dan kanal yang menjadi pusat aktivitas domestik hingga bisnis. Kondisi tersebut begitu krusial hingga mendorong para insinyur Eropa merancang ulang tata kota, berpindah dari Old Batavia menuju New Batavia yang kini menjadi pusat kota Jakarta.
Dari situ bisa melihat bahwa persoalan sanitasi dapat mempengaruhi tatanan sosial masyarakat. Sejarah ketergantungan terhadap air dan sanitasi sudah terlihat sejak dulu dalam perjalanan sebuah kota.
Menurutnya, riset ini telah dimulai sejak 2015 dan sebelumnya telah dipresentasikan dalam konferensi internasional di Singapura dan Jerman, namun akses publik di Indonesia masih sangat terbatas. ”Ketika bertemu dengan LIXIL, ini seperti oase. Sebuah riset bertemu dengan ekosistemnya. Semoga paviliun ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk merefleksikan perjalanan kita sebagai sebuah peradaban yang terus merespons perkembangan zaman,” ujarnya.
Keberhasilan LIXIL menghadirkan konsep yang kuat, ruang pamer yang inspiratif, serta pengalaman kreatif dan edukatif yang menyeluruh sukses menjadikan Paviliun OASE sebagai salah satu sorotan utama di ARCH:ID 2026, sekaligus memperoleh pengakuan dalam Best Booth Award ARCH:ID 2026. Melalui paviliun OASE, LIXIL membuktikan bahwa kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan perspektif baru yang lebih menginspirasi, adaptif dan relevan terhadap tantangan ruang hidup saat ini.
Masa Depan Ekosistem Arsitek Indonesia
LIXIL juga terus berperan aktif sebagai katalisator perubahan melalui rangkaian inisiatif perusahaan. Di antaranya LADC (LIXIL Architectural Design Competition) dan LDAD (LIXIL Day of Architecture & Design).
“Kedua platform merupakan program inisiasi kami sejak tahun 2019 yang dirancang untuk memperluas ruang dialog, akses eksplorasi ide, serta membangun standar baru dalam cara arsitek berpikir, mendesain, dan membentuk ruang hidup yang lebih baik,” jelasnya. Baca juga: BPS Ungkap Hampir Separuh Penduduk Jakarta Belum Punya Rumah Sendiri
Kesempatan berpartisipasi dalam LADC 2026 akan dibuka mulai 18 Mei-5 Juli 2026. Kompetisi ini menghadirkan jajaran juri prestisius, antara lain Andra Matin (Founder, AndraMatin Studio), Gregorius Supie (Founder, Yolodi+Maria Architects), dan Richard Wood (Managing Partner Asia, Snøhetta).
Proses penjurian akan melalui dua tahap penilaian intensif untuk menentukan Top 5 finalist sebelum akhirnya memilih pemenang utama. Puncak kompetisi dan pengumuman pemenang nantinya akan diselenggarakan secara resmi dalam sesi awarding yang menjadi bagian dari rangkaian agenda LDAD 2026. LDAD 2026 sendiri direncanakan berlangsung pada 12 Agustus 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Forum dialog ini siap menjadi titik temu strategis bagi arsitek, interior designer, design professionals, hingga mahasiswa. Terbuka untuk umum tanpa biaya, LDAD 2026 akan menghadirkan narasumber kelas dunia, termasuk Patrik Schumacher (Principal, Zaha Hadid Architects), Richard Wood (Managing Partner Asia, Snøhetta), serta tokoh arsitektur nasional Andra Matin (Founder, AndraMatin Studio), dan Gregorius Supie (Founder, Yolodi+Maria Architects).
(poe)
Lihat Juga :