Rupiah Terpuruk ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.300 per Dolar AS
Kamis, 30 April 2026 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
“Iran terlihat menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz awal pekan ini. Namun, laporan pada hari Senin menunjukkan Washington sebagian besar skeptis terhadap proposal tersebut, mengingat hal itu melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir Teheran,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Kombinasi kebijakan suku bunga tinggi di AS, arus modal keluar, hingga ketegangan geopolitik global menjadi pemicu utama. Dari dalam negeri, tingginya kebutuhan impor dan ketergantungan terhadap dolar turut memperparah kondisi.
Baca Juga: Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia April 2026 Versi Forbes Advisor, Rupiah Nomor Berapa?
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menahan laju pelemahan, baik melalui pasar valas maupun kebijakan moneter. Namun, derasnya tekanan eksternal membuat rupiah masih sulit keluar dari tren pelemahan.
Dampaknya mulai terasa luas. Harga barang impor naik, biaya produksi meningkat, dan tekanan inflasi berpotensi membesar. Selain itu, beban utang luar negeri juga semakin berat karena harus dibayar dengan dolar yang semakin mahal.
Kondisi ini menjadi sinyal serius bahwa stabilitas rupiah sedang diuji. Jika tekanan global berlanjut dan fundamental domestik tidak segera diperkuat, bukan tidak mungkin rupiah akan menghadapi fase yang lebih berat ke depan.
Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba. Kombinasi kebijakan suku bunga tinggi di AS, arus modal keluar, hingga ketegangan geopolitik global menjadi pemicu utama. Dari dalam negeri, tingginya kebutuhan impor dan ketergantungan terhadap dolar turut memperparah kondisi.
Baca Juga: Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia April 2026 Versi Forbes Advisor, Rupiah Nomor Berapa?
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menahan laju pelemahan, baik melalui pasar valas maupun kebijakan moneter. Namun, derasnya tekanan eksternal membuat rupiah masih sulit keluar dari tren pelemahan.
Dampaknya mulai terasa luas. Harga barang impor naik, biaya produksi meningkat, dan tekanan inflasi berpotensi membesar. Selain itu, beban utang luar negeri juga semakin berat karena harus dibayar dengan dolar yang semakin mahal.
Kondisi ini menjadi sinyal serius bahwa stabilitas rupiah sedang diuji. Jika tekanan global berlanjut dan fundamental domestik tidak segera diperkuat, bukan tidak mungkin rupiah akan menghadapi fase yang lebih berat ke depan.
(akr)
Lihat Juga :