Hancurkan Dominasi Arab Saudi! Ini Alasan Tersembunyi UEA Keluar dari OPEC
Minggu, 03 Mei 2026 - 18:10 WIB
loading...
A
A
A
UAE berjanji untuk menghadirkan “produksi (minyak) tambahan ke pasar secara bertahap dan terukur, sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar.”
Baca Juga: Daftar Negara yang Keluar dari OPEC dalam Tujuh Tahun Terakhir
Steve Hanke, yang pernah menjabat sebagai Dewan Penasihat Keuangan UEA (2008-2014), mengungkapkan bahwa Abu Dhabi telah lama memiliki model ekonomi untuk memompa minyak secepat mungkin.
Beberapa tahun sebelumnya, dikembangkan sebuah model ekonomi yang membahas seberapa cepat sebuah negara kaya minyak seharusnya memproduksi dengan mengasumsikan berbagai tingkat penurunan harga minyak mentah, atau yang disesuaikan dengan inflasi.
Proyeksi itu menentukan tingkatan di mana cadangan kehilangan nilai, ketika semakin lama mereka tetap di dalam tanah. Semakin cepat penurunan harga per barel dalam dolar yang diproyeksikan di pasar dunia, semakin cepat sebuah negara seharusnya memompa untuk memaksimalkan keuntungan.
Hanke mengungkapkan alasan UEA sederhana, namun mematikan bagi kartel minyak. Ancaman energi hijau, dimana UEA khawatir nilai minyak akan terus merosot di masa depan akibat masifnya teknologi berkelanjutan (solar, hidrogen, dan bahan bakar pesawat ramah lingkungan).
Berdasarkan model Hanke, jika harga minyak di masa depan diprediksi turun, maka sebuah negara harus memompa sebanyak-banyaknya hari ini untuk memaksimalkan profit. Sementara itu UEA telah berinvestasi besar-besaran untuk mencapai kapasitas 5 juta barel per hari, namun kuota OPEC selama ini justru mencekik ambisi tersebut.
Baca Juga: Daftar Negara yang Keluar dari OPEC dalam Tujuh Tahun Terakhir
Steve Hanke, yang pernah menjabat sebagai Dewan Penasihat Keuangan UEA (2008-2014), mengungkapkan bahwa Abu Dhabi telah lama memiliki model ekonomi untuk memompa minyak secepat mungkin.
Beberapa tahun sebelumnya, dikembangkan sebuah model ekonomi yang membahas seberapa cepat sebuah negara kaya minyak seharusnya memproduksi dengan mengasumsikan berbagai tingkat penurunan harga minyak mentah, atau yang disesuaikan dengan inflasi.
Proyeksi itu menentukan tingkatan di mana cadangan kehilangan nilai, ketika semakin lama mereka tetap di dalam tanah. Semakin cepat penurunan harga per barel dalam dolar yang diproyeksikan di pasar dunia, semakin cepat sebuah negara seharusnya memompa untuk memaksimalkan keuntungan.
Hanke mengungkapkan alasan UEA sederhana, namun mematikan bagi kartel minyak. Ancaman energi hijau, dimana UEA khawatir nilai minyak akan terus merosot di masa depan akibat masifnya teknologi berkelanjutan (solar, hidrogen, dan bahan bakar pesawat ramah lingkungan).
Berdasarkan model Hanke, jika harga minyak di masa depan diprediksi turun, maka sebuah negara harus memompa sebanyak-banyaknya hari ini untuk memaksimalkan profit. Sementara itu UEA telah berinvestasi besar-besaran untuk mencapai kapasitas 5 juta barel per hari, namun kuota OPEC selama ini justru mencekik ambisi tersebut.
Lihat Juga :