ESG-IN dan IDCTA Kolaborasi Akselerasi Ekosistem Kredit Karbon Berbasis AI
Senin, 04 Mei 2026 - 19:34 WIB
loading...
ESG-IN dan Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat pengembangan ekosistem kredit karbon berbasis digital. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - ESG-IN dan Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat pengembangan ekosistem kredit karbon berbasis digital di Indonesia. Kolaborasi ini mengedepankan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan blockchain guna meningkatkan transparansi serta kredibilitas pasar karbon nasional.
"Kami yakin kolaborasi ini dapat mempercepat pertumbuhan pasar karbon Indonesia dan membuka peluang investasi hijau yang signifikan," ujar Chief Executive Officer ESG-IN Brandon Keam, keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Dorong Integritas Pasar, Indonesia Perlu Laboratorium Karbon Digital
Penandatanganan MoU dilakukan di Jakarta, Senin (4/5), oleh Brandon Keam dan Ketua IDCTA Riza Suarga, disaksikan jajaran pengurus kedua organisasi. Kesepakatan ini menandai penguatan sinergi antara platform global ESG-IN dan jaringan pelaku usaha serta proyek hijau yang tergabung dalam IDCTA. Brandon mengatakan, kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan pasar karbon sekaligus membuka peluang investasi hijau di Indonesia.
Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak berkomitmen mempercepat proses sertifikasi dan penerbitan kredit karbon, kredit plastik, serta ESG Action Credits dengan memanfaatkan platform digital berbasis AI untuk pengukuran, pelaporan, dan verifikasi data emisi secara real-time.
Selain itu, penerapan teknologi blockchain akan digunakan untuk mencatat setiap transaksi kredit karbon dalam sistem yang tidak dapat diubah (immutable ledger), sehingga meningkatkan kepercayaan investor dan pembeli di pasar internasional.
Baca Juga: Sandiaga Uno: Asia Bisa Ubah Risiko Iklim Jadi Peluang Ekonomi
Kolaborasi ini juga membuka akses pembiayaan hijau bagi proyek-proyek berkelanjutan melalui penyediaan data ESG yang telah terverifikasi dan siap diaudit. Dengan demikian, pelaku usaha dapat lebih mudah memperoleh pendanaan dari lembaga keuangan global serta memperluas pasar bisnis berbasis keberlanjutan.
Di sisi lain, ESG-IN dan IDCTA akan mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan jaringan komunitas, termasuk konsep ESG Bank, yang memungkinkan individu berpartisipasi dalam aksi lingkungan sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari aktivitas tersebut.
Kerja sama juga mencakup peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan edukasi terkait mekanisme pasar karbon, pengembangan metodologi kredit lingkungan baru, hingga advokasi kebijakan untuk memperkuat regulasi sektor karbon di Indonesia.
Ketua IDCTA Riza Suarga menyatakan, kolaborasi ini akan mempercepat transformasi digital pasar karbon nasional dan membantu pelaku usaha memenuhi standar internasional. Ia menilai teknologi yang dihadirkan dapat menjadi pengubah permainan dalam menciptakan pasar karbon yang sehat dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kemitraan ESG-IN dan IDCTA diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, menciptakan sumber pendapatan baru dari kredit lingkungan, serta mendukung pencapaian target penurunan emisi dan net zero emission Indonesia pada 2060.
"Kami yakin kolaborasi ini dapat mempercepat pertumbuhan pasar karbon Indonesia dan membuka peluang investasi hijau yang signifikan," ujar Chief Executive Officer ESG-IN Brandon Keam, keterangan resmi, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Dorong Integritas Pasar, Indonesia Perlu Laboratorium Karbon Digital
Penandatanganan MoU dilakukan di Jakarta, Senin (4/5), oleh Brandon Keam dan Ketua IDCTA Riza Suarga, disaksikan jajaran pengurus kedua organisasi. Kesepakatan ini menandai penguatan sinergi antara platform global ESG-IN dan jaringan pelaku usaha serta proyek hijau yang tergabung dalam IDCTA. Brandon mengatakan, kerja sama ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan pasar karbon sekaligus membuka peluang investasi hijau di Indonesia.
Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak berkomitmen mempercepat proses sertifikasi dan penerbitan kredit karbon, kredit plastik, serta ESG Action Credits dengan memanfaatkan platform digital berbasis AI untuk pengukuran, pelaporan, dan verifikasi data emisi secara real-time.
Selain itu, penerapan teknologi blockchain akan digunakan untuk mencatat setiap transaksi kredit karbon dalam sistem yang tidak dapat diubah (immutable ledger), sehingga meningkatkan kepercayaan investor dan pembeli di pasar internasional.
Baca Juga: Sandiaga Uno: Asia Bisa Ubah Risiko Iklim Jadi Peluang Ekonomi
Kolaborasi ini juga membuka akses pembiayaan hijau bagi proyek-proyek berkelanjutan melalui penyediaan data ESG yang telah terverifikasi dan siap diaudit. Dengan demikian, pelaku usaha dapat lebih mudah memperoleh pendanaan dari lembaga keuangan global serta memperluas pasar bisnis berbasis keberlanjutan.
Di sisi lain, ESG-IN dan IDCTA akan mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan jaringan komunitas, termasuk konsep ESG Bank, yang memungkinkan individu berpartisipasi dalam aksi lingkungan sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari aktivitas tersebut.
Kerja sama juga mencakup peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan edukasi terkait mekanisme pasar karbon, pengembangan metodologi kredit lingkungan baru, hingga advokasi kebijakan untuk memperkuat regulasi sektor karbon di Indonesia.
Ketua IDCTA Riza Suarga menyatakan, kolaborasi ini akan mempercepat transformasi digital pasar karbon nasional dan membantu pelaku usaha memenuhi standar internasional. Ia menilai teknologi yang dihadirkan dapat menjadi pengubah permainan dalam menciptakan pasar karbon yang sehat dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kemitraan ESG-IN dan IDCTA diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, menciptakan sumber pendapatan baru dari kredit lingkungan, serta mendukung pencapaian target penurunan emisi dan net zero emission Indonesia pada 2060.
(nng)
Lihat Juga :