Rupiah Jeblok Tembus Lebih Rp17.400 per Dolar AS, Bos BI Cuma Senyum
Selasa, 05 Mei 2026 - 14:15 WIB
loading...
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026). FOTO/Anggie Ariesta
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo tidak memberikan pernyataan sedikit pun setelah menghadiri pertemuan bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, hingga Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi di kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026). Pertemuan ini juga disinyalir membahas pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%.
Perry yang keluar dari kantor Menko Airlangga sekitar pukul 12.07 WIB hanya senyum dan melambaikan tangan kepada awak media sambil berlalu. "Makasih," jawab Perry singkat, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Babak Belur Tembus Rp17.401 per Dolar AS Pagi Ini
Pertemuan tertutup tersebut berlangsung saat nilai tukar rupiah terpantau kian tertekan hingga menembus level psikologis baru. Hingga pukul 13.25 WIB, rupiah tercatat melemah 0,26% ke posisi Rp17.438 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini dipicu oleh faktor eksternal, terutama akibat meningkatnya ketidakpastian global yang menguntungkan dolar AS.
Meski melemah, BI menilai pergerakan rupiah masih relatif sejalan dengan tren mata uang negara berkembang lainnya (emerging markets) sejak meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah. "Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (5/5).
Baca Juga: Rupiah Masih Ambruk, Awal Mei 2026 Sentuh Rp17.394 per Dolar AS
Bank Indonesia menegaskan akan tetap aktif berada di pasar untuk menjamin stabilitas nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya. Otoritas moneter akan mengoptimalkan beragam instrumen intervensi valuta asing guna meredam tekanan global yang berlanjut.
Instrumen yang akan digunakan meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Perry yang keluar dari kantor Menko Airlangga sekitar pukul 12.07 WIB hanya senyum dan melambaikan tangan kepada awak media sambil berlalu. "Makasih," jawab Perry singkat, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Babak Belur Tembus Rp17.401 per Dolar AS Pagi Ini
Pertemuan tertutup tersebut berlangsung saat nilai tukar rupiah terpantau kian tertekan hingga menembus level psikologis baru. Hingga pukul 13.25 WIB, rupiah tercatat melemah 0,26% ke posisi Rp17.438 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah saat ini dipicu oleh faktor eksternal, terutama akibat meningkatnya ketidakpastian global yang menguntungkan dolar AS.
Meski melemah, BI menilai pergerakan rupiah masih relatif sejalan dengan tren mata uang negara berkembang lainnya (emerging markets) sejak meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah. "Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (5/5).
Baca Juga: Rupiah Masih Ambruk, Awal Mei 2026 Sentuh Rp17.394 per Dolar AS
Bank Indonesia menegaskan akan tetap aktif berada di pasar untuk menjamin stabilitas nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya. Otoritas moneter akan mengoptimalkan beragam instrumen intervensi valuta asing guna meredam tekanan global yang berlanjut.
Instrumen yang akan digunakan meliputi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
(nng)
Lihat Juga :