Membaca Peluang di Tengah Ketidakpastian Ekonomi, Perempuan Pengusaha Tekankan Kolaborasi
Selasa, 05 Mei 2026 - 19:25 WIB
loading...
Forum Prosperitea Vol. 4: Global Crisis and Its Opportunity yang diselenggarakan Dhanavinya di Jakarta akhir April. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Krisis tidak lagi dipandang semata sebagai ancaman, melainkan juga sebagai momentum untuk menemukan peluang dan mendorong transformasi. Perspektif ini mengemuka dalam forum “Prosperitea Vol. 4: Global Crisis and Its Opportunity” yang diselenggarakan Dhanavinya di Jakarta akhir April, yang mempertemukan sejumlah tokoh perempuan lintas sektor.
Seperti diketahui ketidakpastian ekonomi global masih membayangi berbagai negara di tengah tekanan geopolitik, fluktuasi harga energi, serta risiko inflasi yang belum sepenuhnya mereda. International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat ke kisaran 3,1% pada 2026, di bawah rata-rata historis sebelum pandemi.
Sejumlah lembaga global hingga saat ini masih mempertahankan proyeksi tersebut di tengah dinamika ekonomi dunia yang terus berkembang. Di sisi lain, World Bank mengingatkan bahwa tekanan darisektor energi berpotensi tetap menjadi faktor signifikan yang memengaruhi inflasi, khususnya di negara berkembang, sertadapat berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi secara luas.
Baca Juga: Perempuan Pengusaha Adalah Pahlawan Ekonomi Sektor KUKM
Dalam konteks krisis tersebut, Dhanavinya sebagai forum yang mewadahi para perempuan pengusaha dari berbagai bidang yang visinya menggalang kerja sama di antara pebisnis perempuan untuk berkembang dari sukses untuk dampak yang signifikan, mencoba melihat peluang.
“Secara berkala kami mengadakan dialog & kolaborasi untuk mengembangkan kapasitas diri. Kami juga menyediakan program mentoring, coaching & konsultasi bisnis” kata Esra Manurung didampingi dua sahabat pendiri Dhanavinya lainnya yakni Lanny Sutiarto dan Ailing Yang.
“Kami percaya berkolaborasi jalan untuk dampak signifikan, bukan bersaing,” sambungnya.
Ketiganya sudah lebih dari 2 dekade menggeluti dunia bisnis dan dikenal pembelajar yang berani menimba ilmu dari mentor-mentor berkelas internasional. Baca Juga: Pembiayaan BRI Dukung Ernawati Jadi Pengusaha Sukses dan Berdayakan Kaum Perempuan
Ailing, penulis buku “Life is a gift” yang mengembangkan jaringan bisnisnya lintas benua menekankan “Krisis global bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dipahami. Di setiap ketidakpastian, selalu ada ruang untuk bertumbuh bagi mereka yang mampu melihat peluang dengan cara yang berbeda”.
Ia menambahkan, kekuatan utama dalam menghadapi tekanan justru bersumber dari dalam diri. “Sering kali kita mencari jawaban ke luar, padahal kekuatan terbesar ada di dalam diri. Ketika seseorang memiliki kejelasan dan keberanian untuk melangkah, krisis justru dapat menjadi titik awal perubahan.”
Sementara itu, Esra Manurung, penulis buku “From Poverty to Wealth” menyoroti pentingnya transformasi mental dari kemauan menimba pengetahuan dari buku, seminar dan mentor-mentor bisnis terbaik.
“Transformasi tidak selalu nyaman, tapi justru dari sana lahir pemimpin tangguh, visioner, bisa menyesuaikan diri. Mental tidak boleh kalah dalam krisis dan tetap bergerak maju meskipun situasi tidak ideal,” katanya.
Dari sisi keuangan, Lanny Sutiarto, pebisnis, mentor di bidang kesehatan dan keuangan menegaskan, bahwa ketidakpastian global memperkuat urgensi kemandirian finansial, khususnya bagi perempuan. “Kemandirian finansial bukan hanya kemampuan menghasilkan, tapi tentang kebijaksanaan menata keuangan. Dalam situasi global yang tidak pasti, kemampuan ini semakin penting,” ujarnya.
Nara sumber utama, dalam Prosperitie volume 4 kali ini adalah Eksekutif senior di sektor energi Erita Yohan, menegaskan, “krisis global justru membuka berbagai peluang, khususnya bagi perempuan yang mampu beradaptasi dengan cepat.
Di tengah,tekanan ekonomi dunia, ia melihat pergeseran besar pada sektorpangan sehat, kesehatan dan wellness, energi, serta ekonomidigital sebagai ruang pertumbuhan yang semakin relevan. “Bukan yang paling kuat yang bertahan, tetapi yang paling cepat beradaptasi. Di balik krisis, selalu ada peluang tersembunyi yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurut Erita, perempuan memiliki keunggulan alami seperti kemampuan multitasking, ketelitian, dan intuisi yang kuat, yang menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian. Meski demikian, tantangan seperti kepercayaan diri, tekanan sosial, dan keterbatasan akses masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.
Ia menekankan, bahwa kemandirian dapat dimulai dari langkah sederhana, termasuk membangun bisnis berbasis rumah tangga, memanfaatkan platform digital, hingga mengembangkan keterampilan seperti komunikasi, digital skill, dan mindset yang adaptif.
Lebih lanjut, profesional yang banyak menangani berbagai project LNG, strategi korporasi, akusisi dan eksekusi proyek inimengajak perempuan untuk tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Ia menilai banyak peluang usaha yang dapat dijalankan dengan modal terbatas, mulai dari bisnis kuliner rumahan, edukasi online, hingga reseller dan konten digital.
“Tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna. Yang penting mulai dari apa yang ada, kelola dengan disiplin, dan terus belajar. Dalam situasi krisis, mereka yang bergerak lebih cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh,” kata Erita
Para pembicara lainnya juga sepakat bahwa kondisi global saat ini menjadi momentum refleksi bagi individu maupun organisasi untuk kembali pada nilai dan tujuan jangka panjang. Dari sana, langkah yang lebih kuat dan bermakna dapat dibangun untuk menghadapi masa depan.
Dhanavinya yang didirikan April 2025, mendorong lahirnya perspektif baru bahwa di tengah perlambatan ekonomi, tekanan inflasi, dan ketidakpastian global, perempuan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan-tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memimpin dan menciptakan peluang baru.
Seperti diketahui ketidakpastian ekonomi global masih membayangi berbagai negara di tengah tekanan geopolitik, fluktuasi harga energi, serta risiko inflasi yang belum sepenuhnya mereda. International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat ke kisaran 3,1% pada 2026, di bawah rata-rata historis sebelum pandemi.
Sejumlah lembaga global hingga saat ini masih mempertahankan proyeksi tersebut di tengah dinamika ekonomi dunia yang terus berkembang. Di sisi lain, World Bank mengingatkan bahwa tekanan darisektor energi berpotensi tetap menjadi faktor signifikan yang memengaruhi inflasi, khususnya di negara berkembang, sertadapat berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi secara luas.
Baca Juga: Perempuan Pengusaha Adalah Pahlawan Ekonomi Sektor KUKM
Dalam konteks krisis tersebut, Dhanavinya sebagai forum yang mewadahi para perempuan pengusaha dari berbagai bidang yang visinya menggalang kerja sama di antara pebisnis perempuan untuk berkembang dari sukses untuk dampak yang signifikan, mencoba melihat peluang.
“Secara berkala kami mengadakan dialog & kolaborasi untuk mengembangkan kapasitas diri. Kami juga menyediakan program mentoring, coaching & konsultasi bisnis” kata Esra Manurung didampingi dua sahabat pendiri Dhanavinya lainnya yakni Lanny Sutiarto dan Ailing Yang.
“Kami percaya berkolaborasi jalan untuk dampak signifikan, bukan bersaing,” sambungnya.
Ketiganya sudah lebih dari 2 dekade menggeluti dunia bisnis dan dikenal pembelajar yang berani menimba ilmu dari mentor-mentor berkelas internasional. Baca Juga: Pembiayaan BRI Dukung Ernawati Jadi Pengusaha Sukses dan Berdayakan Kaum Perempuan
Ailing, penulis buku “Life is a gift” yang mengembangkan jaringan bisnisnya lintas benua menekankan “Krisis global bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dipahami. Di setiap ketidakpastian, selalu ada ruang untuk bertumbuh bagi mereka yang mampu melihat peluang dengan cara yang berbeda”.
Ia menambahkan, kekuatan utama dalam menghadapi tekanan justru bersumber dari dalam diri. “Sering kali kita mencari jawaban ke luar, padahal kekuatan terbesar ada di dalam diri. Ketika seseorang memiliki kejelasan dan keberanian untuk melangkah, krisis justru dapat menjadi titik awal perubahan.”
Sementara itu, Esra Manurung, penulis buku “From Poverty to Wealth” menyoroti pentingnya transformasi mental dari kemauan menimba pengetahuan dari buku, seminar dan mentor-mentor bisnis terbaik.
“Transformasi tidak selalu nyaman, tapi justru dari sana lahir pemimpin tangguh, visioner, bisa menyesuaikan diri. Mental tidak boleh kalah dalam krisis dan tetap bergerak maju meskipun situasi tidak ideal,” katanya.
Dari sisi keuangan, Lanny Sutiarto, pebisnis, mentor di bidang kesehatan dan keuangan menegaskan, bahwa ketidakpastian global memperkuat urgensi kemandirian finansial, khususnya bagi perempuan. “Kemandirian finansial bukan hanya kemampuan menghasilkan, tapi tentang kebijaksanaan menata keuangan. Dalam situasi global yang tidak pasti, kemampuan ini semakin penting,” ujarnya.
Nara sumber utama, dalam Prosperitie volume 4 kali ini adalah Eksekutif senior di sektor energi Erita Yohan, menegaskan, “krisis global justru membuka berbagai peluang, khususnya bagi perempuan yang mampu beradaptasi dengan cepat.
Di tengah,tekanan ekonomi dunia, ia melihat pergeseran besar pada sektorpangan sehat, kesehatan dan wellness, energi, serta ekonomidigital sebagai ruang pertumbuhan yang semakin relevan. “Bukan yang paling kuat yang bertahan, tetapi yang paling cepat beradaptasi. Di balik krisis, selalu ada peluang tersembunyi yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurut Erita, perempuan memiliki keunggulan alami seperti kemampuan multitasking, ketelitian, dan intuisi yang kuat, yang menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian. Meski demikian, tantangan seperti kepercayaan diri, tekanan sosial, dan keterbatasan akses masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.
Ia menekankan, bahwa kemandirian dapat dimulai dari langkah sederhana, termasuk membangun bisnis berbasis rumah tangga, memanfaatkan platform digital, hingga mengembangkan keterampilan seperti komunikasi, digital skill, dan mindset yang adaptif.
Lebih lanjut, profesional yang banyak menangani berbagai project LNG, strategi korporasi, akusisi dan eksekusi proyek inimengajak perempuan untuk tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Ia menilai banyak peluang usaha yang dapat dijalankan dengan modal terbatas, mulai dari bisnis kuliner rumahan, edukasi online, hingga reseller dan konten digital.
“Tidak harus besar dan tidak harus langsung sempurna. Yang penting mulai dari apa yang ada, kelola dengan disiplin, dan terus belajar. Dalam situasi krisis, mereka yang bergerak lebih cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk bertumbuh,” kata Erita
Para pembicara lainnya juga sepakat bahwa kondisi global saat ini menjadi momentum refleksi bagi individu maupun organisasi untuk kembali pada nilai dan tujuan jangka panjang. Dari sana, langkah yang lebih kuat dan bermakna dapat dibangun untuk menghadapi masa depan.
Dhanavinya yang didirikan April 2025, mendorong lahirnya perspektif baru bahwa di tengah perlambatan ekonomi, tekanan inflasi, dan ketidakpastian global, perempuan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan-tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memimpin dan menciptakan peluang baru.
(akr)
Lihat Juga :