Kawal Musim Tanam, Petrokimia Gresik Siapkan 219.000 Ton Pupuk Subsidi
Rabu, 13 Mei 2026 - 15:41 WIB
loading...
Petrokimia Gresik menyiapkan stok pupuk bersubsidi untuk mengawal musim tanam April–September 2026. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Petrokimia Gresik menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 219.648 ton untuk menjamin ketersediaan sarana produksi bagi petani dalam mengawal musim tanam April–September 2026. Langkah strategis ini diambil perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia tersebut guna menjaga keberlanjutan produksi di tengah tantangan dinamika rantai pasok global.
"Perubahan kondisi global dan potensi gangguan jalur logistik internasional menjadi perhatian industri pupuk dunia. Namun Petrokimia Gresik tetap berupaya optimal dalam memproduksi pupuk sehingga ketersediaan bagi petani tetap terjaga," ujar Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob dalam pernyataannya, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Perkuat Rantai Pasok, Petrokimia Gresik Implementasikan Digital SCF
Daconi memerinci, hingga 10 Mei 2026, stok yang tersedia terdiri atas Urea bersubsidi sebesar 32.054 ton, NPK Phonska 166.324 ton, pupuk organik Petroganik 16.611 ton, ZA 2.720 ton, dan SP-36 sebanyak 1.939 ton. Seluruh stok tersebut telah berada di jaringan distribusi Pupuk Indonesia dan siap disalurkan kepada Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) sesuai regulasi yang berlaku.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan bahan baku internasional, Petrokimia Gresik memperkuat strategi pengadaan melalui diversifikasi negara asal suplai phosphate rock, potash, dan sulphur. Selain itu, perusahaan mengoptimalkan pasokan sulphuric acid dalam negeri serta mempercepat pengamanan kontrak jangka panjang untuk kebutuhan enam hingga dua belas bulan ke depan.
Daconi menjelaskan bahwa efektivitas distribusi tahun ini juga didukung oleh penyederhanaan tata kelola melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian disempurnakan menjadi Perpres 113/2025. Regulasi baru ini memangkas 145 aturan menjadi satu peraturan induk guna mempercepat akses petani terhadap pupuk bersubsidi.
Dampak positif kebijakan tersebut terlihat dari realisasi penyaluran pupuk bersubsidi nasional per 10 Mei 2026 yang mencapai 3,46 juta ton atau 35 persen dari total alokasi tahunan sebesar 9,85 juta ton. Capaian ini tercatat lebih tinggi 35 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain memastikan ketersediaan, Pupuk Indonesia Group juga melakukan pengawasan ketat terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal ini menyusul kebijakan Pemerintah yang telah menurunkan HET sebesar 20 persen untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi sebagai bentuk dukungan nyata bagi kesejahteraan petani.
Baca Juga: Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40.000 Ton, Perkuat Pasokan Bahan Baku NPK
Pihak manajemen turut mengimbau petani agar selalu melakukan penebusan pupuk di kios resmi atau PPTS guna menghindari peredaran produk palsu. Kewaspadaan ini dinilai penting agar petani tidak tergiur harga murah dari oknum tidak bertanggung jawab yang dapat merusak hasil budidaya.
Daconi menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga kesiapan fasilitas operasional agar produksi tetap berjalan optimal secara berkelanjutan. Optimalisasi ini menjadi pilar utama perusahaan dalam mendukung target swasembada pangan nasional yang dicanangkan Pemerintah.
"Kami ingin memastikan kebutuhan pupuk petani tetap terpenuhi di tengah tantangan global, sehingga produktivitas pertanian nasional dapat terus terjaga secara konsisten," pungkas Daconi.
"Perubahan kondisi global dan potensi gangguan jalur logistik internasional menjadi perhatian industri pupuk dunia. Namun Petrokimia Gresik tetap berupaya optimal dalam memproduksi pupuk sehingga ketersediaan bagi petani tetap terjaga," ujar Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob dalam pernyataannya, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Perkuat Rantai Pasok, Petrokimia Gresik Implementasikan Digital SCF
Daconi memerinci, hingga 10 Mei 2026, stok yang tersedia terdiri atas Urea bersubsidi sebesar 32.054 ton, NPK Phonska 166.324 ton, pupuk organik Petroganik 16.611 ton, ZA 2.720 ton, dan SP-36 sebanyak 1.939 ton. Seluruh stok tersebut telah berada di jaringan distribusi Pupuk Indonesia dan siap disalurkan kepada Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) sesuai regulasi yang berlaku.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan bahan baku internasional, Petrokimia Gresik memperkuat strategi pengadaan melalui diversifikasi negara asal suplai phosphate rock, potash, dan sulphur. Selain itu, perusahaan mengoptimalkan pasokan sulphuric acid dalam negeri serta mempercepat pengamanan kontrak jangka panjang untuk kebutuhan enam hingga dua belas bulan ke depan.
Daconi menjelaskan bahwa efektivitas distribusi tahun ini juga didukung oleh penyederhanaan tata kelola melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian disempurnakan menjadi Perpres 113/2025. Regulasi baru ini memangkas 145 aturan menjadi satu peraturan induk guna mempercepat akses petani terhadap pupuk bersubsidi.
Dampak positif kebijakan tersebut terlihat dari realisasi penyaluran pupuk bersubsidi nasional per 10 Mei 2026 yang mencapai 3,46 juta ton atau 35 persen dari total alokasi tahunan sebesar 9,85 juta ton. Capaian ini tercatat lebih tinggi 35 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain memastikan ketersediaan, Pupuk Indonesia Group juga melakukan pengawasan ketat terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET). Hal ini menyusul kebijakan Pemerintah yang telah menurunkan HET sebesar 20 persen untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi sebagai bentuk dukungan nyata bagi kesejahteraan petani.
Baca Juga: Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40.000 Ton, Perkuat Pasokan Bahan Baku NPK
Pihak manajemen turut mengimbau petani agar selalu melakukan penebusan pupuk di kios resmi atau PPTS guna menghindari peredaran produk palsu. Kewaspadaan ini dinilai penting agar petani tidak tergiur harga murah dari oknum tidak bertanggung jawab yang dapat merusak hasil budidaya.
Daconi menegaskan komitmen perusahaan dalam menjaga kesiapan fasilitas operasional agar produksi tetap berjalan optimal secara berkelanjutan. Optimalisasi ini menjadi pilar utama perusahaan dalam mendukung target swasembada pangan nasional yang dicanangkan Pemerintah.
"Kami ingin memastikan kebutuhan pupuk petani tetap terpenuhi di tengah tantangan global, sehingga produktivitas pertanian nasional dapat terus terjaga secara konsisten," pungkas Daconi.
(nng)
Lihat Juga :