Israel Lepas Ketergantungan Dolar AS, Menerima Rp5.193 Triliun Sejak PD II

Rabu, 13 Mei 2026 - 18:59 WIB
loading...
Israel Lepas Ketergantungan...
Israel berencana menghentikan ketergantungan pada bantuan keuangan Amerika Serikat (AS) dalam dekade berikutnya. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Israel berencana menghentikan ketergantungan pada bantuan keuangan Amerika Serikat (AS) dalam dekade berikutnya. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan, ingin memangkas bantuan ekonomi dan militer dari Washington hingga ke angka nol.

Pernyataan Netanyahu mengejutkan publik internasional soal rencana ambisiusnya untuk menyetop ketergantungan finansial negaranya terhadap AS. Langkah ini dianggap sangat berisiko mengingat AS adalah penyokong utama pertahanan Israel sejak Perang Dunia II.

Baca Juga: 3 Negara Pemberi Utang ke Israel, AS Mendominasi

Namun, di balik rencana berdikari tersebut, Netanyahu juga meluncurkan tuduhan serius terhadap media sosial (medsos) yang dianggapnya telah memanipulasi simpati publik Amerika terhadap Israel.

Israel Tanpa Uang Dolar Amerika

Selama ini bantuan Amerika Serikat mencakup sekitar 16% dari total anggaran militer Israel. Berdasarkan perjanjian tahun 2016, Washington berkomitmen mengucurkan USD38 miliar (sekitar Rp657 triliun dengan kurs Rp17.311 per USD) hingga tahun 2028, termasuk dana khusus USD5 miliar setara Rp86,5 triliun untuk sistem pertahanan udara Iron Dome.

Israel secara total merupakan penerima terbesar bantuan luar negeri AS sejak Perang Dunia II, yang mencapai lebih dari USD300 miliar yang jika dirupiahkan menyentuh angka Rp5,193 triliun berupa bantuan ekonomi dan militer dari Washington sejak 1948.



"Saya ingin menurunkan dukungan finansial Amerika, komponen finansial dari kerja sama militer yang kita miliki, hingga ke angka nol," ujar Netanyahu kepada CBS 60 Minutes seperti dilansir RT.

Baca Juga: 10 Negara Pemberi Bantuan Militer Terbanyak di Dunia, Salah Satunya Pendukung Israel

Ia menambahkan bahwa proses ini harus dimulai sekarang dan diselesaikan dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Pernyataan ini dilaporkan sempat membuat para pejabat dan rakyat Israel terperangah (jaws drop), mengingat besarnya ketergantungan teknologi militer mereka pada pendanaan AS.

Media Sosial dan Citra Buruk Israel

Netanyahu mengakui adanya penurunan drastis dukungan publik di Amerika Serikat. Survei terbaru dari Pew Research menunjukkan bahwa 60% warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Israel-melonjak hampir 20 poin sejak tahun 2022.

Menariknya, Netanyahu membantah bahwa tingginya angka kematian warga sipil dalam operasi militer di Gaza, Lebanon, dan Iran menjadi penyebabnya. Ia justru menuding adanya campur tangan eksternal di dunia maya.

Netanyahu mengklaim ada negara-negara tertentu yang menggunakan ladang bot (bot farms) dengan alamat palsu untuk menghancurkan simpati warga AS. "Israel dikepung di front media, di front propaganda, dan kita tidak melakukannya dengan baik dalam perang propaganda tersebut," akunya.

Tekanan Domestik AS Memuncak

Rencana Netanyahu untuk menyapih Israel dari dana AS muncul di tengah gelombang protes di dalam negeri Amerika Serikat. Senator Bernie Sanders bahkan telah mengajukan resolusi untuk memblokir penjualan senjata senilai USD660 juta ke Israel.

Hal itu merujuk pada data bahwa mayoritas pemilih Demokrat dan independen kini menentang pengiriman senjata ke wilayah konflik. Kritik tajam dari komentator populer seperti Tucker Carlson dan Candace Owens juga dianggap mempercepat pergeseran opini publik Amerika, yang kini lebih kritis terhadap keterlibatan AS dalam pendanaan perang di luar negeri.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Minta Tarif 20%...
Trump Minta Tarif 20% Kargo di Selat Hormuz, Bisa Kantongi Rp541 Miliar per Supertanker
AS Terapkan Blokade...
AS Terapkan Blokade Baru di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak 9%
Rupiah Ambruk Diterpa...
Rupiah Ambruk Diterpa Mega Korupsi hingga Konflik AS-Iran, Hari ini Tembus Rp18.109 per USD
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Blokade Angkatan Laut...
Blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran Dimulai Lagi, Kerahkan Lebih Banyak Kekuatan Militer
Taktik Trump Sering...
Taktik Trump Sering Menjiplak Musuh-musuhnya, dari Blokade Laut hingga Tarif Selat Hormuz
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
Rekomendasi
LPSK Bentuk Tim Pelindungan...
LPSK Bentuk Tim Pelindungan Darurat untuk Tangani Korban Kasus Pembakaran Santri di Lombok
BMW Umumkan M3 Elektrik...
BMW Umumkan M3 Elektrik Tetap Gunakan Nama M3, Bukan iM3
Lowongan Kerja KAI Services...
Lowongan Kerja KAI Services 2026 Dibuka, Lulusan SMA Segera Daftar
Berita Terkini
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Tembus Rp8.030 Triliun di Akhir Mei 2026
Purbaya soal Dugaan...
Purbaya soal Dugaan Markup Pikap Kopdes Merah Putih: Lolos Audit Baru Saya Bayar
Bittime Kantongi Izin...
Bittime Kantongi Izin Perdagangan Futures Pertama di Era Pengawasan Kripto OJK
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp20.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya Hari Ini
Jalur Ini Lebih Berbahaya...
Jalur Ini Lebih Berbahaya jika Ditutup Iran, Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel
Resmi, Pertamina Turunkan...
Resmi, Pertamina Turunkan Harga LPG Bright Gas Mulai 14 Juli
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved