Krisis Selat Hormuz, Harga Minyak Urals Rusia Cetak Rekor Tertinggi sejak 2023
Jum'at, 15 Mei 2026 - 15:41 WIB
loading...
A
A
A
Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengakui kenaikan harga minyak belum berdampak signifikan terhadap kondisi fiskal negara karena penguatan rubel dan meningkatnya kompensasi untuk kilang minyak menekan tambahan penerimaan negara.
Adapun kenaikan harga minyak Rusia dipicu terganggunya distribusi energi global akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sejak akhir Februari, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia dilaporkan hampir tidak dapat diakses kapal komersial.
Baca Juga: Barat Bekukan Sekitar Rp10.353 Triliun Milik Rusia, Kuba, Venezuela, Iran, dan Korea Utara
Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan gangguan tersebut sebagai disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, bahkan melampaui krisis minyak dekade 1970-an. Volume lalu lintas kapal di Selat Hormuz disebut turun hingga sekitar lima persen dibanding kondisi normal sebelum konflik.
Terhambatnya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia membuat permintaan terhadap minyak mentah Rusia meningkat tajam. Pendapatan ekspor mingguan Rusia pada awal Mei tercatat mencapai rekor USD2,57 miliar, sementara aliran ekspor minyak naik menjadi 3,66 juta barel per hari atau tertinggi sejak Desember 2025.
Adapun kenaikan harga minyak Rusia dipicu terganggunya distribusi energi global akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sejak akhir Februari, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia dilaporkan hampir tidak dapat diakses kapal komersial.
Baca Juga: Barat Bekukan Sekitar Rp10.353 Triliun Milik Rusia, Kuba, Venezuela, Iran, dan Korea Utara
Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan gangguan tersebut sebagai disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, bahkan melampaui krisis minyak dekade 1970-an. Volume lalu lintas kapal di Selat Hormuz disebut turun hingga sekitar lima persen dibanding kondisi normal sebelum konflik.
Terhambatnya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia membuat permintaan terhadap minyak mentah Rusia meningkat tajam. Pendapatan ekspor mingguan Rusia pada awal Mei tercatat mencapai rekor USD2,57 miliar, sementara aliran ekspor minyak naik menjadi 3,66 juta barel per hari atau tertinggi sejak Desember 2025.
(nng)
Lihat Juga :