Didukung Keluarga Rentan, Program MBG Dinilai Ringankan Beban Ekonomi Orang Tua
Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:31 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, keberlanjutan program ini melalui Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) juga menyasar perluasan kelompok rentan lainnya, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dengan fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan tidak ada lagi ibu hamil yang kekurangan nutrisi akibat keterbatasan ekonomi, serta menjaga pemberian makanan bergizi secara rutin pada balita guna menekan angka stunting secara nasional.
Baca Juga: 1.738 SPPG Diberhentikan Sementara Operasionalnya karena Tidak Memenuhi Standar
Menjawab kekhawatiran masyarakat terkait aspek manajemen risiko dan keamanan pangan seperti makanan basi, Dewi menegaskan bahwa setiap unit SPPG wajib melibatkan ahli gizi yang bertanggung jawab penuh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengolahan. Terdapat rentang waktu yang ketat antara proses memasak hingga konsumsi untuk mencegah kerusakan mutu pangan akibat pengemasan yang terburu-buru, ditambah keterlibatan guru sebagai penguji rasa sebelum makanan dibagikan.
Di sisi lain, pengendalian efisiensi program juga dilakukan secara aktif oleh ahli gizi di lapangan melalui pemantauan sisa makanan (food waste) yang tidak termakan oleh siswa. Jika ditemukan volume sisa makanan yang tinggi, hal tersebut akan menjadi indikator ekonomi dan teknis bagi SPPG untuk segera mengevaluasi daya terima serta variasi menu yang disajikan.
Dewi pun mengajak seluruh lapisan masyarakat, guru, dan orang tua untuk ikut mengawasi serta mengedukasi pelaksanaan program ini sebagai aset bersama. Dengan alokasi anggaran yang tepat dan asupan pangan yang aman serta sehat, program MBG diharapkan mampu meletakkan fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui lahirnya generasi masa depan yang cerdas.
Baca Juga: 1.738 SPPG Diberhentikan Sementara Operasionalnya karena Tidak Memenuhi Standar
Menjawab kekhawatiran masyarakat terkait aspek manajemen risiko dan keamanan pangan seperti makanan basi, Dewi menegaskan bahwa setiap unit SPPG wajib melibatkan ahli gizi yang bertanggung jawab penuh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengolahan. Terdapat rentang waktu yang ketat antara proses memasak hingga konsumsi untuk mencegah kerusakan mutu pangan akibat pengemasan yang terburu-buru, ditambah keterlibatan guru sebagai penguji rasa sebelum makanan dibagikan.
Di sisi lain, pengendalian efisiensi program juga dilakukan secara aktif oleh ahli gizi di lapangan melalui pemantauan sisa makanan (food waste) yang tidak termakan oleh siswa. Jika ditemukan volume sisa makanan yang tinggi, hal tersebut akan menjadi indikator ekonomi dan teknis bagi SPPG untuk segera mengevaluasi daya terima serta variasi menu yang disajikan.
Dewi pun mengajak seluruh lapisan masyarakat, guru, dan orang tua untuk ikut mengawasi serta mengedukasi pelaksanaan program ini sebagai aset bersama. Dengan alokasi anggaran yang tepat dan asupan pangan yang aman serta sehat, program MBG diharapkan mampu meletakkan fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi nasional melalui lahirnya generasi masa depan yang cerdas.
(nng)
Lihat Juga :