PSR Jadi Kunci Jaga Produktivitas Sawit di Tengah Keterbatasan Lahan

Selasa, 19 Mei 2026 - 20:18 WIB
loading...
PSR Jadi Kunci Jaga...
Diskusi Forwatan yang bertemakan Mandatori PSR: Solusi Peningkatan Produktivitas di Gedung D Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (19/5/2026). FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai menjadi kunci menjaga produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional di tengah keterbatasan lahan dan tekanan global. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala klasik, mulai dari legalitas lahan hingga tumpang tindih kawasan.

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian Iim Mucharam mengatakan PSR menjadi opsi utama untuk meningkatkan produksi tanpa membuka lahan baru.

"Bicara ekspansi sudah tidak mungkin karena lahan terbatas dan ada tekanan internasional serta isu-isu global. Makanya PSR menjadi kunci," ujar dia dalam diskusi Forum Wartawan Pertanian di Gedung Kementan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Prabowo Sebut Sawit Miracle Crop, Konsistensi Kebijakan Kunci Keberlanjutan

Ia mengungkapkan sejak 2017 pemerintah telah menyoroti sekitar 14 juta hektar kebun sawit nasional yang sebagian besar memiliki produktivitas rendah. Dengan total luas perkebunan sawit mencapai 16,8 juta hektar pada 2025, sekitar 41 persen di antaranya merupakan kebun rakyat yang menyimpan potensi besar peningkatan produksi.

Meski demikian, realisasi PSR masih belum optimal. Data pemerintah menunjukkan total rekomendasi teknis mencapai 423.305 hektar, dengan realisasi penumbangan dan chipping 316.359 hektar serta penanaman 295.691 hektar. Target tahunan yang semula 180.000 hektar bahkan diturunkan menjadi sekitar 50.000 hektar agar lebih realistis.



Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan terus meningkatkan dukungan pembiayaan. Bantuan PSR yang semula Rp25 juta per hektar pada 2017–2019 naik menjadi Rp30 juta per hektar, dan sejak September 2024 mencapai Rp60 juta per hektar.

Namun demikian, Iim menegaskan PSR sejak awal dirancang sebagai program sukarela, bukan kewajiban. Oleh karena itu, wacana menjadikannya mandatori memerlukan penguatan regulasi serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Sejumlah kendala masih membayangi implementasi program ini, di antaranya persoalan legalitas lahan yang belum "clean and clear", tumpang tindih kawasan hutan, serta keterbatasan data pekebun rakyat yang akurat. Selain itu, petani kerap enggan melakukan peremajaan karena khawatir kehilangan penghasilan selama masa tanaman belum menghasilkan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Divisi Kebijakan dan Sosialisasi Peremajaan Sawit Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Muhammad Iqbal menilai tata kelola sektor sawit melibatkan banyak kementerian dan lembaga sehingga membutuhkan koordinasi yang komprehensif. Ia juga menyebut pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) pada masa lalu sebagai model yang relatif berhasil dalam membangun sinergi antara perusahaan dan petani.

Iqbal menambahkan, tantangan teknis dalam pengajuan PSR masih cukup besar, seperti kebutuhan data spasial, titik koordinat yang akurat, hingga validasi data petani yang memerlukan waktu dan biaya. Di sisi lain, petani menghadapi tekanan ekonomi selama masa tanaman belum menghasilkan yang dapat berlangsung hingga 48 bulan.

Baca Juga: BPDP Kolaborasi Jembatani Generasi Z Jadi Wirausaha UMKM Sawit

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat Setiyono mengatakan banyak kebun plasma, terutama di Riau, sudah mendesak untuk diremajakan karena ditanam sejak era 1980-an. Ia menilai petani pada dasarnya mendukung PSR, termasuk jika nantinya diwajibkan, selama ada pemetaan yang jelas dan penguatan kelembagaan.

Setiyono menekankan pembenahan regulasi menjadi kunci percepatan PSR. Ia mengingatkan agar petani tidak dirugikan akibat persoalan legalitas lahan yang belum terselesaikan, sementara kebutuhan peningkatan produktivitas sawit nasional semakin mendesak.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hadapi Ancaman El Nino...
Hadapi Ancaman El Nino 2026, Pekebun Sawit Wajo Dilatih Strategi Adaptasi Cuaca Ekstrem
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
Didukung BPDP dan Ditjenbun,...
Didukung BPDP dan Ditjenbun, AKPY Percepat Transfer Teknologi ke Pekebun Sawit Morowali
Guru Besar IPB: Klaim...
Guru Besar IPB: Klaim Kerugian Rp600 Triliun Akibat Under Invoicing Sawit Harus Diaudit Secara Independen
AKPY, BPDP dan Ditjenbun...
AKPY, BPDP dan Ditjenbun Sinergi Gelar Pelatihan Teknis 90 Pekebun Sawit
GAPKI Soroti Indonesia...
GAPKI Soroti Indonesia Belum Ada Acuan Harga Sawit yang Seragam
Pekebun Sawit di Bengkulu...
Pekebun Sawit di Bengkulu Selatan Dilatih Budidaya dan Pemetaan Modern
B50: Strategi Diplomasi...
B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
Rekomendasi
Aktivis: Harus Objektif...
Aktivis: Harus Objektif Sikapi Kematian 3 Pekerja di Gorong-gorong Jakarta
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
Berita Terkini
Prabowo Bakal Resmikan...
Prabowo Bakal Resmikan Groundbreaking Proyek Masela Senilai Rp375 Triliun Hari Ini
MNC Sekuritas dan MNC...
MNC Sekuritas dan MNC Asset Bahas Strategi Cerdas Investasi Lewat IG Live Sore Ini
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Tipis Hari Ini, Segram Jadi Rp2,63 Juta
Cyber Breaker Season...
Cyber Breaker Season 3 Jembatani Kebutuhan SDM Digital Pemerintah dan Sektor Bisnis
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,24% ke Level 6.056
Soal Hapus Pajak JHT,...
Soal Hapus Pajak JHT, Purbaya Masih Tunggu Data BPJS Ketenagakerjaan
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved