Kurs Rupiah Hari Ini Balik Terkapar ke Rp17.716 per Dolar AS, Investor Masih Ragu?
Jum'at, 22 Mei 2026 - 18:45 WIB
loading...
A
A
A
Isu pemblokiran Selat Hormuz serta pengayaan uranium disinyalir masih menjadi batu sandungan utama. Ketegangan geopolitik yang diperkirakan bisa berlarut-larut hingga tahun 2027 ini mengerek harga minyak dunia, yang pada gilirannya memicu lonjakan inflasi global dan memaksa bank sentral dunia, termasuk The Fed, untuk mempertahankan sikap moneter yang restriktif (hawkish).
"Nah apa yang menyebabkan rupiah melemah? Yang pertama adalah dari segi eksternal dimana investor meragukan tentang prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat Iran yang diperkarsai oleh Pakistan. Karena kita lihat bahwa salah satu senior Iran mengatakan ya bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat. Tetapi kita harus melihat juga bahwa permasalahan utama itu adalah tentang masalah program penghutan untuk selat hormuz," jelas Ibrahim.
Baca Juga: Pede Rupiah Menguat Mulai Juli 2026, Gubernur BI Ungkap Penyebab Mata Uang Garuda Kolaps
Ibrahim bahkan melihat penunjukan pimpinan baru bank sentral AS belum akan mengubah arah kebijakan moneter karena kuatnya tekanan inflasi dan risiko perang yang kian tidak menentu.
"Nah dampak inflasi ini kemungkinan besar akan menyasar terhadap sentimen Bank Sentral Global ini akan kembali mempertahankan suku bunga bahkan menaikkan suku bunga. Ada kemungkinan besar dalam apa sampai akhir tahun ya Bank Sentral Amerika ini akan menaikkan suku bunga 50 basis point,” ungkapnya.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah diperparah oleh respons negatif lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap isi pidato ekonomi Presiden baru-baru ini di DPR.
"Nah apa yang menyebabkan rupiah melemah? Yang pertama adalah dari segi eksternal dimana investor meragukan tentang prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat Iran yang diperkarsai oleh Pakistan. Karena kita lihat bahwa salah satu senior Iran mengatakan ya bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat. Tetapi kita harus melihat juga bahwa permasalahan utama itu adalah tentang masalah program penghutan untuk selat hormuz," jelas Ibrahim.
Baca Juga: Pede Rupiah Menguat Mulai Juli 2026, Gubernur BI Ungkap Penyebab Mata Uang Garuda Kolaps
Ibrahim bahkan melihat penunjukan pimpinan baru bank sentral AS belum akan mengubah arah kebijakan moneter karena kuatnya tekanan inflasi dan risiko perang yang kian tidak menentu.
"Nah dampak inflasi ini kemungkinan besar akan menyasar terhadap sentimen Bank Sentral Global ini akan kembali mempertahankan suku bunga bahkan menaikkan suku bunga. Ada kemungkinan besar dalam apa sampai akhir tahun ya Bank Sentral Amerika ini akan menaikkan suku bunga 50 basis point,” ungkapnya.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah diperparah oleh respons negatif lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap isi pidato ekonomi Presiden baru-baru ini di DPR.
Lihat Juga :