Pengusaha Alkes Sebut Wajib Masker Medis Bagi Penumpang KRL Tak Picu Kenaikan Harga

Senin, 21 September 2020 - 10:22 WIB
loading...
Pengusaha Alkes Sebut...
Ilustrasi penumpang KRL. Foto/Dok ANTARA
A A A
JAKARTA - PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) secara resmi menetapkan aturan wajib menggunakan masker kesehatan bagi penumpang kereta rel listrik atau KRL Jabodetabek mulai hari ini, Senin (21/9/2020). Dengan begitu penggunaan masker jenis scuba maupun buff ditiadakan.

Menanggapi aturan tersebut, pelaku industri alat kesehatan memproyeksi kewajiban menggunakan masker kesehatan di KRL tidak mempengaruhi harga masker di pasaran secara signifikan, khususnya masker medis. Itu karena pemberlakuan hanya terjadi dalam ruang lingkup yang kecil seperti di KRL.

Sekretaris Jenderal Gabungan Alat Kesehatan Indonesia (Gakeslab) Randy H. Teguh mengatakan, harga pasar tidak terbentuk secara otomatis, tetapi melalui suatu proses mekanisme pasar, yakni tarik menarik antara permintaan dan penawaran.

Ketika pasokan masker tinggi dan permintaan rendah, harga masker akan turun. Sebaliknya, ketika permintaan masker tinggi dan penawaran rendah, maka harga masker akan naik.

"Pemberlakuan aturan itu kan khususnya hanya pengguna KRL saja, jadi tidak signifikan pengaruhnya terhadap harga masker di pasar. Kalau seluruh masyarakat diwajibkan menggunakan masker kesehatan, baru itu akan berpengaruh besar bagi harga masker di pasaran. Sistem mekanisme pasarnya kan seperti itu," ujar Randy saat dihubungi iNews.id, Jakarta, Senin (21/9/2020). (Baca: Mulai Hari Ini Masker Scuba Dilarang di KRL, KCI Turunkan 4.700 Petugas Pengawas )

Meski begitu, Randy menilai ada struktur harga masker kesehatan di pasar yang harus dipertahankan. Hal itu untuk menekan kerugian bagi para pemasok atau pengusaha alat kesehatan.

Oleh karena itu, sebagai asosiasi pengusaha alat kesehatan, dia menegaskan, saat ini tidak terjadi kenaikan harga masker. Bahkan, harganya dalam kategori stabil atau normal.

Selain karena kebijakan hanya diberlakukan pada ruang lingkup yang kecil, pihaknya pun pada saat memasok alkes hanya dikhususkan bagi rumah sakit atau sektor lain yang lebih membutuhkannya.

"Sekarang harga masker terbilang stabil bahkan terbilang normal, untuk masker medis memang kita atau pengusaha alat kesehatan, biasanya customer setianya biasanya tenaga medis, artinya pihak rumah sakit, dokter, dan lain-lain itu jadi relatif tidak terpengaruh dengan kebutuhan masyarakat umum karena masyarakat umum bisa menggunakan masker kain biasa saja," kata dia.

Randy juga mengutarakan bahwa sejak awal terjadi penyebaran Covid-19, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran yang menghimbau agar para asosiasi alat kesehatan tidak mematok harga masker dan alkes lainnya secara semena-mena.

"Sebagai pengusaha alat kesehatan yang profesional dan berintegritas bahwa faktor margin itu tidak boleh dilakukan secara semena-mena. Jadi mekanisme harga yang naik itu biasanya karena mekanisme kurang dari supply dan demand yang nggak seimbang saja," katanya.

Senada, Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) Ahyahudin Sodri menyebut, agar para produsen, distributor, penyalur dan pengecer dapat menjaga praktek bisnis yang sehat di bawah kontrol pemerintah sebagai pembuat regulator. (Baca juga grafis: Curiga Buatan Korsel, Kim Jong-un Tolak Masker Kiriman China )

Pihaknya, juga berharap agar tidak terjadi lagi kelangkaan atau krisis masker seperti yang pernah terjadi di awal Covid-19 menyebar masuk ke Indonesia.

"Kami berharap tidak lagi terjadi krisis masker seperti di awal Covid-19. Kami yakin semua pemangku kepentingan, pemerintah dan industri telah belajar dari krisis masker sebelumnya," katanya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penumpang Commuter Line...
Penumpang Commuter Line Boleh Berbuka Puasa di Dalam KRL, Simak Ketentuannya
Perkuat Pasar Distribusi...
Perkuat Pasar Distribusi Kesehatan, Entitas Anak MDLA Kerja Sama dengan Merck
KRL Diusulkan Beroperasi...
KRL Diusulkan Beroperasi 24 Jam, Begini Jawaban KCI Commuter
Indonesia Bukan Lagi...
Indonesia Bukan Lagi Tempat Parkir Kereta Bekas, Begini Kata Bos KCI
100 Tahun Jaringan KRL,...
100 Tahun Jaringan KRL, KAI Akhirnya Pakai Kereta Buatan Dalam Negeri
2 Trainset KRL Commuter...
2 Trainset KRL Commuter Baru dari China Sampai di Indonesia, Kapan Dipakai KAI?
Bertemu Prabowo, Dirut...
Bertemu Prabowo, Dirut KAI Bocorkan Rencana Stasiun Gambir Terintegrasi KRL
Aksi Pelemparan ke KRL...
Aksi Pelemparan ke KRL Masih Terjadi, KAI Commuter Ingatkan Pelaku Bisa Dipenjara 15 Tahun
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Berangsur Normal setelah Kebakaran di Sekitar Rel Dipadamkan
Rekomendasi
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Perayaan HUT Ke-25 Kota...
Perayaan HUT Ke-25 Kota Cimahi di Konser I Love RCTI Cimahi Dipadati Puluhan Ribu Penonton
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Berita Terkini
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
BPS: Sensus Ekonomi...
BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Penetapan Pajak Pribadi
Semarak HUT ke-58, BPJS...
Semarak HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat
Pemerintah Akan Turunkan...
Pemerintah Akan Turunkan Harga Gas Industri Senin Besok, Said Iqbal: Mitigasi PHK Massal
IHSG Pekan Depan Diprediksi...
IHSG Pekan Depan Diprediksi Rawan Koreksi, Bakal Menguji Level 5.723-5.784
Ancaman PHK Masih Mengintai,...
Ancaman PHK Masih Mengintai, Said Iqbal: Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Relokasi Pabrik
Infografis
AS Akhiri Wajib Masker...
AS Akhiri Wajib Masker bagi Orang yang Divaksin COVID-19
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved