DPR Khawatir Layer Baru Cukai Rokok Guncang Industri Legal dan Bebani Fiskal
Jum'at, 10 Juli 2026 - 22:52 WIB
loading...
DPR Khawatir Layer Baru Cukai Rokok Guncang Industri Legal dan Bebani Fiskal
A
A
A
JAKARTA - Rencana pemerintah menambah layer cukai untuk menarik produsen rokok ilegal masuk ke dalam sistem mendapat tanggapan anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Harris Turino. Harris mengatakan setiap perubahan struktur cukai harus mempertimbangkan aspek secara menyeluruh, agar tidak berpotensi mengurangi efektivitas pengawasan dan menciptakan celah kebocoran baru bagi salah satu sumber terbesar penerimaan negara.
“Yang paling penting bukan sekadar menambah atau mengurangi layer, tetapi memastikan desain kebijakannya benar-benar efektif, terukur, dan tidak membuka ruang distorsi baru di IHT,” tegasnya.
Dari sisi penerimaan negara, Harris mengingatkan bahwa struktur tarif yang terlalu kompleks juga dapat memicu pergeseran produksi ke segmen dengan tarif lebih rendah (downtrading) yang berpotensi mengurangi penerimaan negara.
“Dalam IHT, struktur tarif yang terlalu rumit kadang justru mendorong shifting produksi ke segmen tarif yang lebih rendah. Kalau ini tidak diantisipasi, penerimaan negara bisa tergerus,” ujarnya.
Ia juga menilai pemerintah perlu belajar dari pengalaman beberapa tahun terakhir ketika kenaikan tarif maupun perubahan kebijakan yang dinilai terlalu agresif menambah tekanan terhadap industri legal dan pada saat yang sama membuka ruang pertumbuhan pasar rokok ilegal. “Negara membutuhkan penerimaan, tetapi industri yang selama ini patuh juga jangan sampai kehilangan daya tahan. Keseimbangan itu harus dijaga,” kata Harris.
“Yang paling penting bukan sekadar menambah atau mengurangi layer, tetapi memastikan desain kebijakannya benar-benar efektif, terukur, dan tidak membuka ruang distorsi baru di IHT,” tegasnya.
Dari sisi penerimaan negara, Harris mengingatkan bahwa struktur tarif yang terlalu kompleks juga dapat memicu pergeseran produksi ke segmen dengan tarif lebih rendah (downtrading) yang berpotensi mengurangi penerimaan negara.
“Dalam IHT, struktur tarif yang terlalu rumit kadang justru mendorong shifting produksi ke segmen tarif yang lebih rendah. Kalau ini tidak diantisipasi, penerimaan negara bisa tergerus,” ujarnya.
Ia juga menilai pemerintah perlu belajar dari pengalaman beberapa tahun terakhir ketika kenaikan tarif maupun perubahan kebijakan yang dinilai terlalu agresif menambah tekanan terhadap industri legal dan pada saat yang sama membuka ruang pertumbuhan pasar rokok ilegal. “Negara membutuhkan penerimaan, tetapi industri yang selama ini patuh juga jangan sampai kehilangan daya tahan. Keseimbangan itu harus dijaga,” kata Harris.
Lihat Juga :