Tak Ada Pergantian Menkeu, Sentimen Pasar Berbalik Positif
Selasa, 09 Juni 2026 - 19:57 WIB
loading...
Penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG tak lepas dari meredanya spekulasi pergantian menteri keuangan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa dinilai tidak lepas dari meredanya spekulasi mengenai reshuffle kabinet, khususnya isu pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Berkurangnya ketidakpastian politik dan kebijakan dinilai membantu memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
"Rumor pergantian menteri keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi," kata Ekonom STIE YKP Yogyakarta Aditya Hera Nurmoko, seperti dikutip pada Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: IHSG Ditutup Melejit 7,57% Sore Ini, 708 Saham Menghijau
Menurut Aditya, pasar keuangan pada umumnya sensitif terhadap ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Karena itu, klarifikasi atas isu pergantian Menteri Keuangan menjadi salah satu sentimen positif yang membantu memperbaiki persepsi pelaku pasar.
Ia menjelaskan investor juga mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi, termasuk koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan pasar keuangan. Dengan tidak adanya perubahan mendadak pada posisi strategis tersebut, pasar melihat peluang kebijakan ekonomi berjalan lebih konsisten.
Selain faktor politik, penguatan pasar juga didorong oleh aksi beli setelah tekanan tajam yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Ketika sentimen negatif mulai mereda, sebagian investor memanfaatkan koreksi harga saham untuk melakukan aksi buy on weakness, yang kemudian mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.
Meski demikian, Aditya menegaskan bahwa pergerakan pasar tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor. Menurutnya, arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, pergerakan dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia juga turut memengaruhi arah pasar.
"Meredanya rumor reshuffle kemungkinan menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini," ujarnya.
Senada dengan itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang Esther Sri Astuti menilai penguatan pasar mencerminkan persepsi investor terhadap stabilitas kebijakan dan prospek ekonomi nasional. Menurut dia, masuknya aliran modal asing menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pasar modal. "Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi," kata Esther.
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
Ia menambahkan, untuk menarik investasi dan modal asing, Indonesia perlu menjaga kepastian hukum, prospek ekonomi yang baik, ketersediaan bahan baku, ekosistem usaha yang mendukung, integrasi rantai pasok global, infrastruktur yang memadai, serta harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah. Stabilitas di tingkat kementerian, lanjutnya, juga memberikan sinyal positif karena mampu mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek dan memperkuat kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
"Rumor pergantian menteri keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi," kata Ekonom STIE YKP Yogyakarta Aditya Hera Nurmoko, seperti dikutip pada Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: IHSG Ditutup Melejit 7,57% Sore Ini, 708 Saham Menghijau
Menurut Aditya, pasar keuangan pada umumnya sensitif terhadap ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah. Karena itu, klarifikasi atas isu pergantian Menteri Keuangan menjadi salah satu sentimen positif yang membantu memperbaiki persepsi pelaku pasar.
Ia menjelaskan investor juga mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi, termasuk koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan pasar keuangan. Dengan tidak adanya perubahan mendadak pada posisi strategis tersebut, pasar melihat peluang kebijakan ekonomi berjalan lebih konsisten.
Selain faktor politik, penguatan pasar juga didorong oleh aksi beli setelah tekanan tajam yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Ketika sentimen negatif mulai mereda, sebagian investor memanfaatkan koreksi harga saham untuk melakukan aksi buy on weakness, yang kemudian mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.
Meski demikian, Aditya menegaskan bahwa pergerakan pasar tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor. Menurutnya, arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, pergerakan dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia juga turut memengaruhi arah pasar.
"Meredanya rumor reshuffle kemungkinan menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini," ujarnya.
Senada dengan itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang Esther Sri Astuti menilai penguatan pasar mencerminkan persepsi investor terhadap stabilitas kebijakan dan prospek ekonomi nasional. Menurut dia, masuknya aliran modal asing menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pasar modal. "Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi," kata Esther.
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
Ia menambahkan, untuk menarik investasi dan modal asing, Indonesia perlu menjaga kepastian hukum, prospek ekonomi yang baik, ketersediaan bahan baku, ekosistem usaha yang mendukung, integrasi rantai pasok global, infrastruktur yang memadai, serta harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah. Stabilitas di tingkat kementerian, lanjutnya, juga memberikan sinyal positif karena mampu mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek dan memperkuat kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
(nng)
Lihat Juga :