Andalkan Segmen Rumah Tapak, HBAT Bukukan Penjualan Rp24,53 Miliar di 2025
Kamis, 11 Juni 2026 - 16:26 WIB
loading...
Paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT) secara virtual, Kamis (11/6/2026). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT) mengandalkan segmen hunian rumah tapak masih memiliki prospek positif di tengah tantangan industri properti yang diperkirakan berlanjut sepanjang 2026. Perseroan mencatat penjualan sebesar Rp24,53 miliar pada 2025 dengan laba komprehensif tahun berjalan mencapai Rp2,7 miliar.
"Segmen hunian rumah tapak menawarkan nilai tambah seperti konsep ramah lingkungan dan fitur yang mendukung fleksibilitas aktivitas," ujar Direktur Utama Minahasa Membangun Hebat, Go Ronny Nugroho, dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) secara virtual, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
Menurut Ronny, industri properti masih menghadapi tekanan akibat daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya serta meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Namun, peluang pertumbuhan tetap terbuka, terutama pada segmen rumah tapak yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan, termasuk insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), diharapkan dapat membantu meningkatkan minat masyarakat untuk memiliki hunian. Faktor desain yang fleksibel dan konsep ramah lingkungan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Untuk menjaga kinerja usaha, HBAT menjalankan sejumlah strategi, antara lain mempercepat penyelesaian unit hunian yang telah memasuki tahap akhir pembangunan, mengoptimalkan proses perencanaan dan konstruksi proyek baru, serta memperkuat strategi pemasaran guna meningkatkan daya tarik produk di tengah persaingan yang semakin ketat.
Meski tergolong pengembang baru di Minahasa, Sulawesi Utara, HBAT mengklaim mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis secara stabil di tengah persaingan dengan puluhan pengembang yang telah lebih dulu beroperasi. Perseroan mengandalkan pengembangan kawasan perumahan yang terintegrasi dengan berbagai sarana dan prasarana pendukung.
Selain itu, perusahaan terus memperkuat kualitas bangunan, desain, dan infrastruktur kawasan, serta mendorong inovasi produk dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Strategi lain yang dijalankan mencakup transformasi digital, pemasaran kreatif, penguatan legalitas dan transparansi, serta penerapan konsep bangunan hijau dan pembangunan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto, mengatakan penjualan perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp24,53 miliar atau setara 33,6% dari target penjualan sebesar Rp73,02 miliar. Meski menghadapi tekanan pasar, perseroan tetap mampu membukukan laba komprehensif sebesar Rp2,7 miliar.
Pada 2025, total aset HBAT meningkat menjadi Rp84,6 miliar dari Rp82,1 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara liabilitas turun menjadi Rp3,5 miliar dari Rp3,7 miliar, dan ekuitas meningkat menjadi Rp81,2 miliar dari Rp78,3 miliar pada 2024.
Baca Juga: Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
Andrie menjelaskan, penurunan penjualan dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga kredit, meningkatnya selektivitas konsumen, serta ketatnya persaingan industri. Di sisi lain, volatilitas harga bahan bangunan turut menekan profitabilitas.
Meski demikian, melalui pengelolaan biaya yang prudent dan fokus pada pengeluaran strategis, HBAT tetap mampu mencatatkan laba serta telah merealisasikan seluruh dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) hingga akhir 2025 sesuai rencana penggunaan dana.
"Segmen hunian rumah tapak menawarkan nilai tambah seperti konsep ramah lingkungan dan fitur yang mendukung fleksibilitas aktivitas," ujar Direktur Utama Minahasa Membangun Hebat, Go Ronny Nugroho, dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) secara virtual, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
Menurut Ronny, industri properti masih menghadapi tekanan akibat daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya serta meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam mengambil keputusan pembelian. Namun, peluang pertumbuhan tetap terbuka, terutama pada segmen rumah tapak yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan, termasuk insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), diharapkan dapat membantu meningkatkan minat masyarakat untuk memiliki hunian. Faktor desain yang fleksibel dan konsep ramah lingkungan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Untuk menjaga kinerja usaha, HBAT menjalankan sejumlah strategi, antara lain mempercepat penyelesaian unit hunian yang telah memasuki tahap akhir pembangunan, mengoptimalkan proses perencanaan dan konstruksi proyek baru, serta memperkuat strategi pemasaran guna meningkatkan daya tarik produk di tengah persaingan yang semakin ketat.
Meski tergolong pengembang baru di Minahasa, Sulawesi Utara, HBAT mengklaim mampu mempertahankan pertumbuhan bisnis secara stabil di tengah persaingan dengan puluhan pengembang yang telah lebih dulu beroperasi. Perseroan mengandalkan pengembangan kawasan perumahan yang terintegrasi dengan berbagai sarana dan prasarana pendukung.
Selain itu, perusahaan terus memperkuat kualitas bangunan, desain, dan infrastruktur kawasan, serta mendorong inovasi produk dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Strategi lain yang dijalankan mencakup transformasi digital, pemasaran kreatif, penguatan legalitas dan transparansi, serta penerapan konsep bangunan hijau dan pembangunan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto, mengatakan penjualan perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp24,53 miliar atau setara 33,6% dari target penjualan sebesar Rp73,02 miliar. Meski menghadapi tekanan pasar, perseroan tetap mampu membukukan laba komprehensif sebesar Rp2,7 miliar.
Pada 2025, total aset HBAT meningkat menjadi Rp84,6 miliar dari Rp82,1 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara liabilitas turun menjadi Rp3,5 miliar dari Rp3,7 miliar, dan ekuitas meningkat menjadi Rp81,2 miliar dari Rp78,3 miliar pada 2024.
Baca Juga: Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
Andrie menjelaskan, penurunan penjualan dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga kredit, meningkatnya selektivitas konsumen, serta ketatnya persaingan industri. Di sisi lain, volatilitas harga bahan bangunan turut menekan profitabilitas.
Meski demikian, melalui pengelolaan biaya yang prudent dan fokus pada pengeluaran strategis, HBAT tetap mampu mencatatkan laba serta telah merealisasikan seluruh dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) hingga akhir 2025 sesuai rencana penggunaan dana.
(nng)
Lihat Juga :