Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:41 WIB
loading...
Krisis LNG Timur Tengah,...
Gangguan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah telah memperketat pasokan LNG global dan mendorong peningkatan penggunaan batu bara di Asia. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Gangguan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah telah memperketat pasokan gas alam cair (LNG) global dan mendorong peningkatan penggunaan batu bara di sejumlah negara Asia Pasifik. Kondisi tersebut terjadi ketika negara-negara pengimpor energi berupaya menjaga keandalan pasokan listrik di tengah terbatasnya ketersediaan gas.

"Gangguan pada infrastruktur energi di Timur Tengah telah memperketat pasokan LNG global dan menyebabkan peningkatan penggunaan batu bara dalam jangka pendek di sistem kelistrikan Asia Pasifik," demikian laporan terbaru lembaga riset energi Rystad Energy dikutip dari Asian Power, Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran

Menurut Rystad Energy, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan diperkirakan menjadi penyumbang terbesar tambahan permintaan batu bara, diikuti Vietnam, Thailand, dan Filipina. Peningkatan konsumsi tersebut terutama berasal dari optimalisasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sudah beroperasi, bukan dari pembangunan kapasitas baru.

Di Jepang, pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara meningkat 11%, sementara produksi listrik berbasis gas turun 13%. Sejalan dengan itu, impor batu bara Korea Selatan dan Jepang pada Mei masing-masing melonjak lebih dari 50% dan 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.



Rystad Energy menilai pergeseran konsumsi energi tersebut mencerminkan tingginya pemanfaatan armada pembangkit batu bara yang telah ada di negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan gas impor. Langkah ini ditempuh untuk mengimbangi berkurangnya pasokan LNG dan tingginya harga gas di pasar internasional.

Dalam skenario pesimistis apabila gangguan pasokan energi berlanjut, permintaan batu bara global diperkirakan meningkat sekitar 90 juta ton pada 2026. Dengan demikian, akumulasi tambahan permintaan batu bara dalam jangka pendek dapat mencapai sekitar 190 juta ton.

Baca Juga: Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran

Kenaikan permintaan tersebut diperkirakan akan menopang harga batu bara acuan Newcastle 6.000 kkal. Rystad Energy memperkirakan harga rata-rata batu bara Newcastle mencapai sekitar USD125 per ton pada 2026 sebelum turun ke kisaran USD115 per ton pada 2027 seiring membaiknya pasokan LNG dan mulai beroperasinya kembali sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir.

Rystad Energy mencatat belum ada produsen batu bara utama yang menyetujui proyek tambang skala besar baru ataupun perpanjangan umur tambang secara signifikan sebagai respons terhadap lonjakan konsumsi tersebut. Kondisi itu berpotensi membuat pasar batu bara tetap ketat apabila gangguan pasokan energi global berlangsung lebih lama dari perkiraan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KAI Logistik Angkut...
KAI Logistik Angkut 6,8 Juta Ton Barang hingga Mei 2026, Terbanyak Batu Bara
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Aturan Baru ESDM, Blending...
Aturan Baru ESDM, Blending Batu Bara Harus Dapat Restu Bahlil
Indonesia Tak Lagi Bergantung...
Indonesia Tak Lagi Bergantung Impor Minyak Timur Tengah
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
Rekomendasi
Suka Takut Minum Vitamin...
Suka Takut Minum Vitamin C Karena Bikin Lambung Perih? Ini Penjelasannya
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan, Din Syamsuddin Siap Jadi Penjamin
Kantor Imigrasi Denpasar...
Kantor Imigrasi Denpasar dan 2 Lokasi Lainnya Digeledah KPK, Bukti Elektronik hingga Dokumen Disita
Berita Terkini
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Pelemahan Emas Antam...
Pelemahan Emas Antam Berlanjut ke Rp2.6 Juta per Gram, Ini Daftar Lengkapnya
Grab For Business Luncurkan...
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Jamuan Makan Kantor Bebas Reimburse
Saingan Selat Malaka!...
Saingan Selat Malaka! Thailand Nekat Hidupkan Megaproyek Rp535 Triliun
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved