Akuisisi Aster Jadi Titik Balik Chandra Asri Group, Diversifikasi Bisnis Mulai Dongkrak Kinerja
Jum'at, 19 Juni 2026 - 08:21 WIB
loading...
A
A
A
Nizam menilai proyek CA-EDC berpotensi menjadi mesin pertumbuhan berikutnya bagi Chandra Asri. Produk soda kaustik akan menyasar kebutuhan industri domestik, termasuk sektor deterjen, alumina, dan pengolahan nikel, sementara EDC akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri PVC global.
Di sisi lain, bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mulai memainkan peran strategis dalam ekosistem perusahaan. Unit usaha ini mengelola bisnis energi, air industri, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik yang mendukung operasional internal maupun pihak ketiga. Kehadiran bisnis infrastruktur memperkuat integrasi operasional sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia yang cenderung siklikal.
Dari sisi fundamental, Verdhana melihat posisi Chandra Asri saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Total aset perusahaan melonjak menjadi USD12,5 miliar pada kuartal I-2026 dari sekitar USD5,7 miliar pada 2024. Ekuitas juga meningkat menjadi USD4,86 miliar, sementara laba bersih kuartalan mencapai USD205 juta. Perseroan juga mencatat margin EBIT sebesar 19,5% dan interest coverage ratio sebesar 6,89 kali, mencerminkan kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya.
Verdhana memperkirakan tren positif masih berlanjut seiring kuatnya margin kilang di Singapura. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global membuat crack spread diperkirakan tetap berada di atas USD10 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan level historis sebelum konflik yang berada di bawah US$5 per barel. Kondisi ini diyakini akan mempercepat pengembalian investasi Aster sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.
Selain transformasi operasional, daya tarik saham TPIA juga meningkat dari sisi pasar modal. Free float perseroan kini mencapai 25,7%, naik signifikan dari sekitar 10% sebelumnya setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging. Meski demikian, Verdhana menegaskan perubahan tersebut tidak memengaruhi arah strategis maupun pengendalian perusahaan karena tiga pemegang saham utama, yakni Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA.
Dengan kombinasi bisnis energi, petrokimia, dan infrastruktur yang semakin terintegrasi, Verdhana menilai Chandra Asri kini berada pada posisi yang lebih tangguh untuk menghadapi siklus industri petrokimia global yang masih dibayangi kelebihan kapasitas dari China. Strategi diversifikasi yang dijalankan perseroan dinilai berhasil menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan ketahanan fundamental perusahaan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mulai memainkan peran strategis dalam ekosistem perusahaan. Unit usaha ini mengelola bisnis energi, air industri, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik yang mendukung operasional internal maupun pihak ketiga. Kehadiran bisnis infrastruktur memperkuat integrasi operasional sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia yang cenderung siklikal.
Dari sisi fundamental, Verdhana melihat posisi Chandra Asri saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Total aset perusahaan melonjak menjadi USD12,5 miliar pada kuartal I-2026 dari sekitar USD5,7 miliar pada 2024. Ekuitas juga meningkat menjadi USD4,86 miliar, sementara laba bersih kuartalan mencapai USD205 juta. Perseroan juga mencatat margin EBIT sebesar 19,5% dan interest coverage ratio sebesar 6,89 kali, mencerminkan kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya.
Verdhana memperkirakan tren positif masih berlanjut seiring kuatnya margin kilang di Singapura. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global membuat crack spread diperkirakan tetap berada di atas USD10 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan level historis sebelum konflik yang berada di bawah US$5 per barel. Kondisi ini diyakini akan mempercepat pengembalian investasi Aster sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.
Selain transformasi operasional, daya tarik saham TPIA juga meningkat dari sisi pasar modal. Free float perseroan kini mencapai 25,7%, naik signifikan dari sekitar 10% sebelumnya setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging. Meski demikian, Verdhana menegaskan perubahan tersebut tidak memengaruhi arah strategis maupun pengendalian perusahaan karena tiga pemegang saham utama, yakni Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA.
Dengan kombinasi bisnis energi, petrokimia, dan infrastruktur yang semakin terintegrasi, Verdhana menilai Chandra Asri kini berada pada posisi yang lebih tangguh untuk menghadapi siklus industri petrokimia global yang masih dibayangi kelebihan kapasitas dari China. Strategi diversifikasi yang dijalankan perseroan dinilai berhasil menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan ketahanan fundamental perusahaan dalam jangka panjang.
(nng)
Lihat Juga :