Akuisisi Aster Jadi Titik Balik Chandra Asri Group, Diversifikasi Bisnis Mulai Dongkrak Kinerja
Jum'at, 19 Juni 2026 - 08:21 WIB
loading...
A
A
A
Data Verdhana menunjukkan, segmen energi menyumbang sekitar 55% dari total pendapatan Chandra Asri pada kuartal I-2026, melampaui kontribusi segmen kimia sebesar 42% dan infrastruktur sekitar 3%.
Keberhasilan integrasi Aster juga tercermin dari lonjakan kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD468 juta dengan laba bersih mencapai USD205 juta. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh segmen energi yang menghasilkan EBIT sebesar USD556 juta.
Verdhana menilai akuisisi Aster merupakan transaksi yang sangat menguntungkan. Aset tersebut diakuisisi melalui CAPGC, perusahaan patungan dengan Glencore, dengan nilai sekitar USD255 juta, jauh di bawah nilai buku aset sebesar USD933 juta. Transaksi tersebut menghasilkan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang memperkuat struktur permodalan perusahaan dan menciptakan ruang tambahan untuk pendanaan ekspansi.
Selain memberikan kontribusi laba yang signifikan, Aster juga memperluas rantai nilai bisnis Chandra Asri. Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso sehingga kini memiliki integrasi dari kilang, petrokimia hingga distribusi dan penjualan ritel energi. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap sinergi di sepanjang rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.
Diversifikasi bisnis juga diperkuat melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Proyek senilai US$800 juta yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.
Baca Juga: Proyek CA-EDC Chandra Asri Capai 66%, Dorong Hilirisasi dan Serap Tenaga Kerja
Keberhasilan integrasi Aster juga tercermin dari lonjakan kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD468 juta dengan laba bersih mencapai USD205 juta. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh segmen energi yang menghasilkan EBIT sebesar USD556 juta.
Verdhana menilai akuisisi Aster merupakan transaksi yang sangat menguntungkan. Aset tersebut diakuisisi melalui CAPGC, perusahaan patungan dengan Glencore, dengan nilai sekitar USD255 juta, jauh di bawah nilai buku aset sebesar USD933 juta. Transaksi tersebut menghasilkan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang memperkuat struktur permodalan perusahaan dan menciptakan ruang tambahan untuk pendanaan ekspansi.
Selain memberikan kontribusi laba yang signifikan, Aster juga memperluas rantai nilai bisnis Chandra Asri. Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso sehingga kini memiliki integrasi dari kilang, petrokimia hingga distribusi dan penjualan ritel energi. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap sinergi di sepanjang rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.
Diversifikasi bisnis juga diperkuat melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Proyek senilai US$800 juta yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.
Baca Juga: Proyek CA-EDC Chandra Asri Capai 66%, Dorong Hilirisasi dan Serap Tenaga Kerja
Lihat Juga :