Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Minggu, 21 Juni 2026 - 10:21 WIB
loading...
Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran pada Sabtu (20/6) memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan harga minyak dunia. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran pada Sabtu (20/6) memicu kekhawatiran baru terhadap kenaikan harga minyak dunia setelah sebelumnya pasar global sempat merespons positif kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global dan menekan stabilitas pasar keuangan internasional.
"Perjanjian ini akan membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi langkah awal menuju pembicaraan lanjutan terkait isu nuklir Iran," kata seorang pejabat senior Amerika Serikat setelah penandatanganan kesepakatan sementara antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni 2026, dikutip dari AP, Minggu (21/6/2026).
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk mengencerkan persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi, sementara Amerika Serikat setuju mencabut sanksi agar Iran kembali dapat menjual minyak tanpa pembatasan. Kedua negara juga sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari guna membuka jalan menuju penghentian permanen konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Sentimen positif dari kesepakatan tersebut langsung mendorong reli pasar global. Harga minyak mentah Brent turun di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret 2026 setelah merosot sekitar 5% pada 16 Juni. Sehari kemudian, harga Brent kembali melemah ke level sekitar USD77,78 dolar AS per barel.
Penguatan juga terjadi di pasar saham AS. Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor intraday di level 52.281,19 pada 17 Juni, sementara indeks saham kapitalisasi kecil Russell 2000 melonjak lebih dari empat persen dalam sepekan menjelang tercapainya kesepakatan AS-Iran.
Pada perdagangan 18 Juni atau sesi terakhir sebelum libur Juneteenth, indeks Nasdaq Composite naik sekitar 1,9%, sedangkan S&P 500 menguat 1,1%. Secara mingguan, Nasdaq mencatat kenaikan 2,4%, sementara Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik hampir satu persen.
Reli pasar saham turut ditopang lonjakan saham Intel setelah Trump mengumumkan Apple akan bekerja sama dengan Intel untuk merancang dan memproduksi chip di Amerika Serikat. Trump juga menyebut pemerintah AS memiliki 10% saham Intel melalui konversi hibah CHIPS Act senilai USD8,9 miliar dolar AS menjadi kepemilikan saham.
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Namun optimisme pasar tidak berlangsung lama setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon, meski negosiator AS dan Iran masih melanjutkan pembahasan rincian kesepakatan di Swiss. Penutupan jalur strategis tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan potensi kenaikan harga energi.
Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif atau pungutan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz apabila kesepakatan final gagal dicapai dalam 60 hari. Pernyataan itu menambah ketidakpastian pasar dan menegaskan rapuhnya kesepakatan yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Perjanjian ini akan membuka kembali Selat Hormuz dan menjadi langkah awal menuju pembicaraan lanjutan terkait isu nuklir Iran," kata seorang pejabat senior Amerika Serikat setelah penandatanganan kesepakatan sementara antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni 2026, dikutip dari AP, Minggu (21/6/2026).
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk mengencerkan persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi, sementara Amerika Serikat setuju mencabut sanksi agar Iran kembali dapat menjual minyak tanpa pembatasan. Kedua negara juga sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari guna membuka jalan menuju penghentian permanen konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Sentimen positif dari kesepakatan tersebut langsung mendorong reli pasar global. Harga minyak mentah Brent turun di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret 2026 setelah merosot sekitar 5% pada 16 Juni. Sehari kemudian, harga Brent kembali melemah ke level sekitar USD77,78 dolar AS per barel.
Penguatan juga terjadi di pasar saham AS. Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor intraday di level 52.281,19 pada 17 Juni, sementara indeks saham kapitalisasi kecil Russell 2000 melonjak lebih dari empat persen dalam sepekan menjelang tercapainya kesepakatan AS-Iran.
Pada perdagangan 18 Juni atau sesi terakhir sebelum libur Juneteenth, indeks Nasdaq Composite naik sekitar 1,9%, sedangkan S&P 500 menguat 1,1%. Secara mingguan, Nasdaq mencatat kenaikan 2,4%, sementara Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik hampir satu persen.
Reli pasar saham turut ditopang lonjakan saham Intel setelah Trump mengumumkan Apple akan bekerja sama dengan Intel untuk merancang dan memproduksi chip di Amerika Serikat. Trump juga menyebut pemerintah AS memiliki 10% saham Intel melalui konversi hibah CHIPS Act senilai USD8,9 miliar dolar AS menjadi kepemilikan saham.
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
Namun optimisme pasar tidak berlangsung lama setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon, meski negosiator AS dan Iran masih melanjutkan pembahasan rincian kesepakatan di Swiss. Penutupan jalur strategis tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan potensi kenaikan harga energi.
Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif atau pungutan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz apabila kesepakatan final gagal dicapai dalam 60 hari. Pernyataan itu menambah ketidakpastian pasar dan menegaskan rapuhnya kesepakatan yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
(nng)
Lihat Juga :